Okebajo.com – Cakrawala kota Labuan Bajo, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026 nampak cerah. Cuaca bersahabat ini seolah ikut menyambut sebuah pertemuan istimewa yang sarat akan nostalgia. Puluhan mantan aktifis yang guratan usia tak mampu menyembunyikan binar semangat masa muda, berkumpul di sebuah sudut yang hangat di ruang publik Kantor Bupati Mabar. Mereka bukanlah sekadar tamu undangan biasa.
Mereka adalah para mantan aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dari berbagai penjuru cabang. Pertemuan ini bukanlah rapat koordinasi organisasi, melainkan sebuah agenda yang jauh lebih personal dan bermakna: Peluncuran Buku “Jejak Pelayanan dan Kemanusiaan Pater Marsel Agot, SVD“.
Momen ini menjadi magnet yang menyatukan kembali simpul-simpul fraternitas lama. Jejak langkah Pater Marsel Agot, sang imam Serikat Sabda Allah (SVD) yang dikenal vokal menyuarakan isu-isu kemanusiaan, lingkungan dan keadilan sosial, telah menjadi benang merah yang kuat. Lebih dari sekadar peluncuran buku biasa, karya ini terasa sangat personal bagi beberapa alumni yang hadir. Pasalnya, di dalam tumpukan halaman buku tersebut, terukir pula sumbangsih tulisan dan testimoni jujur dari para mantan aktivis PMKRI yang pernah berproses, berdiskusi, hingga berjuang bersama Pater Marsel di lapangan.
Suasana Hangat Penuh Kenangan
Sebagaimana terekam dalam suasana acara, format peluncuran buku dibuat begitu akrab dan hangat. Di beberapa meja, tertata rapi buku Pater Marsel yang siap diluncurkan.
Tanpa sekat panggung kaku, para peserta duduk berdampingan penuh persaudaraan. Di tengah suasana reuni sederhana dan santai itu, cangkir kopi menjadi teman setia obrolan. Di tengah suasana santai namun sarat makna itu, kenangan-kenangan lama kembali bertautan. Beberapa tokoh mantan aktivis terlihat bertukar cerita tentang bagaimana pengalaman interaksi mereka dengan Pater Marsel dituangkan ke dalam lembaran testimoni di buku tersebut. Gelak tawa sesekali pecah saat mengingat romantika perjuangan masa lalu, yang kini abadi dalam goresan tinta.
“Buku ini menjadi sangat spesial karena tidak hanya menceritakan Pater Marsel dari satu sudut pandang, tetapi juga merangkum kesaksian langsung dari kami yang pernah merasakan sentuhan tangan dingin dan pemikirannya,” ungkap Frans Jehoda, mantan Ketua PMKRI Cabang Ruteng, satu alumnus yang berkontribusi menyumbangkan tulisan testimoninya dalam buku tersebut.
“Menuliskan testimoni untuk Pater Marsel adalah cara kami merawat ingatan sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas teladan kemanusiaan yang beliau berikan”, sambung Frans.
Pesan Kemanusiaan dari Labuan Bajo
Peluncuran buku Jejak Pelayanan dan Kemanusiaan Pater Marsel Agot seolah menjadi pesan simbolis yang kuat. Di tengah gemerlap pembangunan dan industri pariwisata yang kian pesat, suara-suara pelayanan dan kemanusiaan—sebagaimana yang terus diperjuangkan Pater Marsel dan diabadikan melalui testimoni para murid serta sahabatnya—harus tetap nyaring terdengar.
Acara ini menegaskan bahwa semangat PMKRI dengan mottonya “Pro Ecclesia et Patria” (Untuk Gereja dan Tanah Air) tidak pernah luntur. Melalui peluncuran buku “Jejak Pelayanan dan Kemanusiaan Pater Marsel Agot, SVD”, para mantan aktivis PMKRI bertekad untuk terus “menularkan” jejak pelayanan tersebut, memastikan bahwa kemajuan zaman tidak akan menggerus nilai-nilai kemanusiaan.
Pagi itu di Labuan Bajo, sebuah buku telah resmi diluncurkan. Kisah-kisah testimoni telah diabadikan, dan sebuah komitmen untuk terus melayani kembali diteguhkan.
(Robert Perkasa)












