Rasa sebagai Anak Loyola dan Pancawindu

Sil Joni. Foto/Ist

Oleh: Sil Joni

OPINI- Okebajo.com,-MERAYAKAN pesta Pancawindu dalam era digitalisasi, tentu saja memiliki nuansa dan warna tersendiri. Setidaknya, riuh rendah persiapan pesta itu, akan dengan sangat mudah kita tangkap dan rasakan dalam ruang publik digital. Kesemarakan suasana jelang acara puncak, bisa terlihat dengan mudah dalam pelbagai kanal media sosial.

Kemeriahan suasana pesta yang ‘terpampang’ dalam ruang maya itu, juga tengah dirasakan dan diperagakan oleh para alumni dan civitas akademika SMAK St. Ignatius Loyola hari-hari ini. Media sosial dalam pelbagai aplikasinya dihiasi dengan narasi, gambar, dan potret seputar aura antusiasme alumni dalam menyambut ‘hari penuh kenangan’ itu.

Sebuah aplikasi (twibbonize) dirancang sedemikian elegan agar bisa diperlihatkan di pelbagai platform media sosial, seperti Facebook dan What’sApp (WA). Sang kreator coba mendesain sebuah ‘bingkai virtual’ yang di dalamnya tersedia ‘ruang untuk memajang foto pribadi kita’. Pada bagian bawah foto, terdapat tulisan: “Saya Loyola Labuan Bajo”. Huruf pada tulisan itu berwarna putih dengan latar merah tua.

(twibbonize) “SIAP SUKSESKAN PANCAWINDU 2023”, Foto/Sil Joni

Kalimat “SIAP SUKSESKAN PANCAWINDU 2023”, terletak di bagian paling dasar dari ‘bingkai’ itu. Pernyataan itu ditulis menggunakan huruf kapital dan berwarna hitam. Saya menduga, ukuran dan jenis huruf yang serba besar itu, menjadi ‘pesan utama’ dari gambar twibbonize itu.

Sementara itu, logo SMAK St. Ignatius Loyola, terletak di pojok kiri atas. Dalam logo itu, selain ada tanda salib yang tertancap di atas bola bumi, juga terdapat tulisan nama dan motto sekolah, AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam). Dalam bahasa Indonesia motto itu berarti ‘Demi Kemuliaan Allah yang lebih besar).

Link aplikasi itu dibagi ke sebagian besar alumni. Masing-masing orang boleh mengunggah foto untuk kemudian dibagi ke grup-grup dan laman media sosial. Rasanya hampir semua grup alumni Loyola dari angkatan ke angkatan disemaraki dengan gambar twibbonize ini. Sebuah kreativitas yang patut diapresiasi.

Saya kira, dengan pendiseminasian ‘bingkai twibbonize’ ke ruang publik, para alumni hendak menggaungkan pesan bahwa kita bukan sebagai penonton dalam hajatan itu. Para alumni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan Loyola itu. Pesta Pancawindu adalah pesta para alumni juga. Kita siap menjadi ‘tuang pesta’ yang baik dalam momen itu nanti.

Identifikasi diri sebagai bagian dari Loyola itu terbaca dari ungkapan yang tertera pada aplikasi twibbonize: “Saya Loyola Labuan Bajo Siap Sukseskan Pancawindu 2023”. Ada dua poin dalam ungkapan itu. Pertama, adanya pengakuan yang tulus bahwa “saya” adalah Loyola. Boleh jadi, sudah sekian lama kita ‘berpisah’ dengan almamater. Tetapi, dalam dan melalui momen Pancawindu ini, rasa sebagai Loyola dihidupkan kembali.

Kedua, setelah ‘rasa Loyola’ bangkit kembali, maka sebagai implikasinya adalah muncul tekad dan komitmen untuk menyukseskan pesta Pancawindu. Kita mau berpartisipasi aktif dalam pesta itu yang bukan sekadar undangan atau pelengkap penyerta, tetapi sebagai ‘tuan rumah’ yang baik. Pancawindu adalah pesta kita, pesta keluarga besar Loyola.

Pernyataan “Siap Sukseskan Pancawindu 2023”, sepertinya bukan sekadar ‘slogan kosong’ jika kita melihat semakin intensnya persiapan para alumni khususnya yang tergabung dalam kepanitiaan. Di Labuan Bajo misalnya, panitia lokal yang ‘digawangi’ oleh Yohanes Hani, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Mabar, bekerja cukup serius. Pelbagai persiapan teknis dan koordinasi dengan pihak terkait, terus dilakukan. Dalam catatan saya, kerja panitia lokal ini, sudah mengalami progress yang signifikan.

Pak Jhon Hani, tentu saja tidak bekerja sendirian. Saya kira, beberapa nama berikut patut diacungi jempol. Mereka itu adalah Flori Nabu, Fery Adu, Albertus Elson, Egidius Santosa, Jhoni Mance, Chellus Pahun, dll. Mereka bekerja ‘all out’ untuk menyukseskan pesta syukur ini.

Saya dengar, besok, Sabtu (11/3/2023) panitia inti ini akan berangkat ke Ruteng. Mereka coba membangun komunikasi dan konsolidasi dengan para alumni yang berkarya di kota dingin itu. Sebelumnya, Jhon Hani, Fery Adu, dan Albertus pergi ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan para alumni yang tergabung dalam wadah Kekerabatan Anak Ignatius Loyola Labuan Bajo (KAIL). Hasilnya adalah KAIL Jakarta siap memfasilitasi penyelenggaran seminar nasional sebagai salah satu mata acara dalam momen Pancawindu, mulai dari akomodasi hingga narasumber.

Tidak hanya itu, grup-grup WA setiap angkatan dihidupkan secara optimal. Melalui grup itu, para alumni coba berdiskusi secara intensif dan mengambil prakarsa, kira-kira apa yang bisa disumbangkan oleh ‘angkatannya’ dalam menyukseskan pesta ini. Prinsipnya adalah Pancawindu adalah pesta kita. Karena itu, mesti ada sesuatu yang bisa kita buat sebagai ekspresi dari ‘rasa sebagai anak-anak bunda Loyola’.

Dengan spirit dan antusiasme yang terus membuncah itu, saya sangat optimis bahwa Pancawindu bakal digelar secara akbar. Kita bakal sukses besar ketika energi positif ‘ditebar’ secara kreatif dan produktif.

Penulis adalah alumnus Loyola (1996-1999).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *