Ritual “Koer Kuncem” di Ujung  Musibah Kebakaran

Ritual adat "koer kuncem" di lokasi kebakaran rumah bapak Belasius Agen di kampung Ndole, Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling. Foto/Robert Perkasa

Labuan Bajo | Okebajo.com |Sejumlah tokoh adat kampung Ndole menggelar ritual adat “koer kuncem”, Senin 20 Maret 2023

Ritual ini digelar di lokasi kebakaran di kampung Ndole, Rabu (8/3/2023) lalu. Tepat 12 hari usai kebakaran  menghanguskan rumah bapak Belasius Agen (67), warga kampung Ndole, Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Para tokoh adat, keluarga korban dan sejumlah warga  kampung  Ndole hadir mengikuti ritual yang digelar di lokasi kebakaran.

Sebelum ritual ini dibuat, mereka bergotong royong  membersihkan rawuk (abu) dan kuncem (puing-puing bangunan) yang tersisa dan menumpuk  di lokasi kebakaran itu.

Dahan dan ranting-ranting pohon yang layu akibat tersengat panas api di sekeliling lokasi kebakaran juga dipangkas. Mereka lalu mengumpulkan puing-puing tersebut di sekitar lokasi itu.

Setelah ritual  ini digelar dilanjutkan dengan aksi gotong royong membangun gubuk baru (hunian sementara) bagi  keluarga korban musibah.

Sejak musibah itu terjadi, bapak Belasius Agen (67) bersama keluarganya tinggal sementara di rumah keluarganya di kampung Ndole.

Warga bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan rumah yang hangus terbakar pada Rabu (8/3/2023) lalu. Foto/Robert Perkasa

“Koer Kuncem”

Ritual seperti ini di Manggarai kerap dilakukan ketika terjadi musibah serupa.

Ritual ini digelar sebagai titik awal keluarga korban  bangkit dari keterpurukan pasca diterpa musibah/bencana.

“Koer kuncem” juga bisa diartikan sebagai babak baru  memulai kehidupan baru setelah jatuh tersungkur di pusaran bencana.

Hewan kurban sesajian dalam ritual ini biasanya telur ayam, ayam berbulu hitam dan putih.

Ayam hitam untuk menghalau/menolak musibah atau bencana agar tidak terulang lagi di lokasi yang sama. Segala beban penderitaan korban terdampak bencana hilang lenyap.

Sedangkan ayam putih melambangkan ketulusan hati korban bencana seraya memohon  kemurahan alam semesta, bumi dan langit serta para leluhur agar memberikan perlindungan bagi korban bencana.

Segala harapan dan doa yang didaraskan melalui ritual ini  dituturkan secara bergilir oleh tokoh adat setempat. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *