Bandara Komodo, Pintu Gerbang Tamu KTT ASEAN Labuan Bajo

Bandara Komodo, Pintu Udara KTT ASEAN Labuan Bajo
Presiden Jokowi saat melakukan peresmian Bandara Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, pada Kamis (21/07/2022).Foto/Ist

Labuan Bajo | Okebajo.com |Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo tiba di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada Minggu sore, 7 Mei 2023.

Kedatangan Presiden Jokowi kali ini untuk meninjau persiapan akhir pelaksanaan KTT ke-42 ASEAN pada 10-11 Mei 2023 di Labuan Bajo.

“Ketibaan saya dan Ibu negara disimulasikan sebagaimana penyambutan para pemimpin ASEAN yang akan datang ke sini disambut jajar pasukan kehormatan dan tarian tradisional “Tiba Meka”, kata Presiden Jokowi di Bandara Internasional itu.

Presiden Jokowi mengatakan seluruh jajaran pemerintah, juga berbagai pihak, berkonsentrasi pada penyelenggaraan KTT ASEAN di Labuan Bajo.

“Semuanya terlibat dalam penyambutan, menyiapkan kulinernya, menyiapkan homestay, hotelnya, semuanya,” ujar Presiden.

Ajang KTT ASEAN, kata Presiden Jokowi, merupakan kesempatan baik untuk mempromosikan destinasi wisata Labuan Bajo ke dunia internasional.

Bandar udara Komodo

Pemerintah Pusat era Presiden Jokowi  menggenjot perbaikan pelbagai infrastruktur di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Salah satunya adalah memperluas Bandar Udara (bandara) Komodo Labuan Bajo sejak tahun  2020-2021 dengan nilai investasi sebesar Rp3 triliun.

Bandar udara Komodo berdiri sejak 2015 dengan nama awal Bandara Mutiara II. Bandara  Komodo berdiri di atas lahan seluas 114,1 hektare.

Kini, wajah  Bandar udara Komodo menjadi lebih  megah dan segar sejak Presiden Joko Widodo meresmikan bandara tersebut pada 21 Juli 2022.

Foto: © Laily Rachev – BPMI Setpres. Sumber: Biro Pers Sekretariat Presiden

Landasan pacu (run way)

Landasan pacu bandar udara Komodo semakin panjang.  Sebelumnya berukuran 2.450 meter x 45 meter. Kini menjadi 2.650 meter x 45 meter.

Perpanjangan itu membuat bandara Komodo mampu mendaratkan pesawat berbadan sempit (narrow body) sekelas Boeing 737-800 dan Airbus A320.

Presiden Jokowi menyebutkan, jika landasan pacu buatkan lebih panjang lagi, maka dapat melayani pesawat-pesawat berbadan lebar (wide body) sekelas Airbus A330-300 atau Boeing 777.

“Sehingga pesawat-pesawat penerbangan langsung dari mancanegara bisa turun di Bandara Komodo,” kata Presiden Jokowi.

Apron bandara

Bagian apron sebagai  area parkir pesawat juga  makin luas menjadi ukuran 310 meter x 100 meter.

Apron Bandar udara Komodo dapat menampung 7 pesawat, yaitu 4 pesawat badan sempit dan 3 pesawat baling-baling.

Dengan kondisi itu, bandara Komodo mampu melayani 28 pergerakan pesawat dalam sehari.

Terminal penumpang

Bangunan terminal penumpang juga telah diperluas mencapai 13.366 meter persegi.

Konstruksi bandar udara Komodo mengikuti desain siluet komodo dan bercorak rumah adat Manggarai.

Pada bagian tengah bangunan ini mampu menampung 1,1 juta penumpang per tahun dan menjadi 4 juta penumpang di 2024.

Dua unit garbarata atau jembatan mekanik untuk memudahkan akses penumpang ke pesawat menjadi pelengkap terminal penumpang yang berdesain modern.

Terminal penumpang bandar udara Komodo terdiri dari dua lantai terhubungkan dengan eskalator dan lift khusus.

Kendati bukan bandara kelas satu seperti Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali, bandara Komodo pun sudah menerapkan sistem keamanan canggih.

Pemerintah menyerahkan pengelolaan  bandara berkode LBJ ini kepada pihak swasta.

Bandar udara Komodo dipasang detektor

Bandara Komodo  telah dipasang alat keamanan utama berupa explosive trace detector atau detektor pelacak bahan peledak.

Detektor serupa  itu telah terpasang di beberapa bandara besar seperti di bandara Internasional Sukarno-Hatta Tangerang, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dan Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Alat itu dapat mendeteksi partikel dan asap yang berindikasi bahan peledak seperti Nitroglyserin, TNT, C-4, RDX (Hexogen, Octogan), PETN, ANFO, dan propelan dengan waktu pendeteksian paling lama 10 detik.

Hasil deteksi dapat termonitor melalui alarm audio dan visual.

Bukan itu saja. Detektor canggih itu juga dapat menginformasikan jenis dan identifikasi bahan eksplosif dan bahan lainnya yang terdeteksi. Hasil deteksi tertampilkan di layar monitor tanpa harus menambahkan peralatan lain.

Penambahan alat detektor bahan peledak ini terkait penunjukan Labuan Bajo sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-42, 9-11 Mei 2023.

Tak hanya menambah peralatan keamanan, pemerintah juga sejak jauh hari sudah mengatur ulang jadwal penerbangan di Bandara Komodo untuk kelancaran KTT ASEAN 2023.

Upaya antisipasi

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan upaya antisipasi untuk menampung pesawat-pesawat yang membawa rombongan delegasi peserta KTT ASEAN 2023 dari 10 negara anggota ASEAN.

Hanya pesawat kepresidenan Indonesia yang boleh parkir dan menginap di Bandara Komodo.

Kata Budi Karya, bandara Komodo akan menjadi titik pertemuan sementara para tamu negara yang hadir di KTT ASEAN 2023.

“Kita ingin memberikan kesan yang baik kepada para tamu negara. Sebagai upaya antisipasi, kami menyiapkan bandara alternatif terdekat sebagai tempat parkir pesawat para delegasi, yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Lombok Praya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara El Tari Kupang,” ucap Budi Karya.

Diperkirakan akan ada sekitar 1.000 orang delegasi dari 10 negara ASEAN ditambah Timor Leste hadir di Labuan Bajo untuk berkonferensi. Angka itu belum termasuk sekitar 1.500 peliput asing.

Indonesia sendiri memegang keketuaan KTT ASEAN 2023  bertajuk “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth”.

Imdonesia menjadi keketuaan ASEAN  untuk kelima kalinya setelah sebelumnya pada 1976, 1996, 2003, dan 2011. *

(Sumber/Indonesia.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *