Kementan Bentuk Gugus Tugas Hadapi El Nino

Penampakan persawahan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Foto/Robert Perkasa

Jakarta | Okebajo.com | Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), El Nino kemungkinan akan mulai terjadi sekitar Juni dan semakin intens pada Agustus nanti.

Bentuk gugus tugas

Menyikapi hal itu, Kementerian Pertanian (Kementan) membentuk gugus tugas di setiap wilayah untuk menghadapi cuaca ekstrem El Nino.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo  menegaskan pembentukan gugus tugas saat menggelar rapat koordinasi bersama pejabat Kementerian Pertanian dan aparatur pemerintah daerah melalui teleconference pada Senin, 22 Mei 2023.

Menghadapi El Nino, ia meminta semua jajaran Kementan dan pemerintah daerah bersiap untuk hal yang terburuk seraya tetap menjaga optimisme.

”Saya meminta untuk dibentuk gugus tugas di setiap wilayah. Kita semua harus duduk bersama untuk merumuskan semuanya, dimulai dari pemetaan wilayah, konsep kelembagaan, hingga rencana aksinya,” ungkap Syahrul Yasin Limpo dikutip dari Pilarpertanian.

Syahrul menjelaskan gugus tugas berbasis wilayah penting untuk segera dibentuk. Setiap wilayah membutuhkan penanganan yang berbeda.

“Ada wilayah kategori hijau yang tidak terdampak sehingga produksinya tidak terganggu. Tapi ada juga wilayah kategori kuning dan merah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Setiap pemerintah daerah harus jeli membaca kebutuhan wilayahnya,” jelas Syahrul.

Air jadi titik krusial

Ia menyebut manajemen air untuk kebutuhan pertanian menjadi titik krusial dalam menghadapi El Nino.

Karena itu, setiap daerah diminta untuk menampung air sehingga pada saat El Nino terjadi, ketersediaan untuk menanam bisa tercukupi.

Selain manajemen air, Syahrul meminta daerah untuk juga memerhatikan varietas yang digunakan.

Menghadapi El Nino, varietas yang disarankan adalah varietas yang tahan kekeringan.

Sementara untuk pemupukan, ia meminta pemerintah daerah dapat menerapkan metode pemupukan berimbang.

”Pengembangan pupuk organik harus dilakukan secara masif dengan tetap seimbang menggunakan pupuk kimia tidak lebih dari 50 persen,” tutur Syahrul. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *