Mikael Dadu Membaca Sampai Tua

Mikael Dadu Membaca Sampai Tua
Bapak Mikael Dadu (87 tahun), mantan Komandan Hansip Desa Golo Kempo selama 10 tahun, 1969-1979. Foto/Robert Perkasa

Labuan Bajo | Okebajo.com | Dengan sisa tenaga yang ada, ia pikul koran lusuh  bawa ke kampung. Duduk sore-sore di beranda, pembaca tua mantan komandan hansip 10 tahun itu membaca berita-berita koran Harian Umum Flores Pos terbitan tahun 2019 silam. Bapak Mikael Dadu (87 tahun). Petani tulen tinggal di kampung Lara Lujang, Desa Poco Golo Kempo, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di usia senja, keadaan fisiknya semakin menurun. Mobilitas pun semakin terbatas. Kendati demikian, kakek pemilik rambut putih itu mengisi kekosongan sehari-hari dengan asyik membaca koran, buku dan majalah.

Ia duduk di kursi plastik warna hijau. Dekat teras rumah membelakangi pintu utama. Kedua tangannya sedang mencengkram koran lusuh.

Ketika Okebajo.com  mengetuk pintu rumahnya, Bapak Mikael Dadu serta merta melepaskan koran ke meja. Ia lantas membalikan tubuhnya yang renta dari posisi semula. Kakek duda 8 anak itu sangat ramah menyapa tamunya.

Okebajo.com membuka cerita tentang koran lusuh yang baru saja dia baca. Bapak tua itu mengaku bahwa dia hobi membaca koran dan buku sejak dahulu. Aktus membaca hingga hari tuanya sulit dilepaskan.

“Saya hobi membaca koran, buku dan majalah Katolik Live. Dengan membaca, saya bisa mengetahui perkembangan tentang apa saja yang terjadi di mana saja,” akunya.

Anak keenam bernama Hironimus Galus yang duduk di samping Okebajo.com membenarkannya.

“Dia (Mikael Dadu,red) hobi membaca koran dan buku. Tiada hari tanpa membaca. Biasanya siang begini, sore dan malam hari sebelum tidur dia baca koran,” ujar Hironimus.

Meski usianya 87 tahun, namun lima inderanya masih jernih organik. Kecuali mata sebelah kanan, katanya, sedikit eror. Tapi itu bukan kendala baginya. Kaca mata naik, membaca on terus.

Hobi membaca kelas dewa. Tiada hari tanpa membaca. Membaca koran dan buku dari halaman ke halaman.

Menariknya, di tengah kita asyik berselancar di dunia maya, kakek Mikael justru “tanam kaki” di bumi kertas.

Ia bukan pelanggan surat kabar atau koran. Koran lusuh yang sedang ia baca hari ini adalah  “hibah” dari keluarganya di Labuan Bajo.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia pikul koran lusuh itu bawa ke kampung. Duduk sore-sore di beranda, pembaca tua mantan hansip 10 tahun itu membaca berita-berita Harian Umum Flores Pos terbitan tahun 2019.

Koran Harian Umum Flores Pos terbitan tahun 2019, bahan bacaan empuk bagi kakek lansia Mikael Dadu (87 tahun). Foto/Robert Perkasa

Jebolan Sekolah Rakyat era Orde Lama

Usai cerita seputar koran sambil seruput kopi, Senin siang, 29 Mei 2023,  Okebajo.com memancing topik lain seputar kisah masa lalu sang kakek.

Ia memiliki 8 anak. 4 laki-laki dan 4 perempuan. Punya segudang cucu-cece. Bapak Mikael tinggal bersama anaknya yang keenam, Hironimus Galus.

Pembaca tua ini hanyalah jebolan Sekolah Rakyat (SR) di Wersawe tahun 1955.

Mantan pertahanan sipil

Masa mudanya ia baktikan kepada Negara. Ia menjadi komandan pertahanan sipil (hansip). selama 10 tahun di Desa Golo Kempo pada  masa kepemimpinan Kepala Desa Gabriel Man tahun 1969-1979.

Melepas masa lajangnya menikah dengan gadis manis bernama Bernadeta Alum (almarhumah). Kini ia resmi menjadi duda. Dua tahun lalu istri tercinta meninggal dunia pada usia 82 tahun.

Setelah 10 tahun jadi komandan hansip, ia kemudian terpilih menjadi salah satu staf Desa Golo Kempo  selama 10 tahun 1979-1989.

Bersamaan dengan itu, ia juga didapuk menjadi guru agama di kampung Lara, Paroki Rekas pada masa akhir P. Yosep van Hoef, SVD.

Selanjutnya dari tahun 1994-2002, era Pastor Paroki Rekas, P. Yan Juang, SVD dan P. Lorens Kuil. SVD hingga P. Gabi Mite, SVD, ia masih dipercaya umat sebagai guru agama (Ketua KBG).

Rahasia hidup

Telisik demi telisik, ternyata mantan guru agama didikan P. Yosef van Hoef, SVD “Em Lebot”,  itu menyimpan tiga rahasia kunci panjang umur. Misteri itu adalah Membaca, Sabar dan Rileks.

Baginya, rutin membaca tak hanya akan membuat seseorang lebih ‘pintar’, namun juga lebih bahagia dan panjang umur.

Manfaat membaca bagi lansia

Dari berbagai literatur yang dirangkum Okebajo.com, aktivitas yang paling cocok untuk lansia adalah membaca. Bagi lansia yang gemar membaca, sulit jadi pikun.

Membaca adalah proses untuk memahami sesuatu yang tersirat dalam sesuatu yang tersurat. Melihat pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis. Membaca buku atau koran adalah aktivitas yang menyehatkan otak dan meningkatkan daya ingat.  Mereka yang paling banyak membaca memiliki tanda fisik demensia paling rendah.

Dengan membaca, otak akan terus bekerja untuk mengingat semua informasi yang terdapat dalam bahan bacaan.  Membaca juga akan membuat konsentrasi dan daya tangkap menjadi semakin baik. Manfaat lain dari membaca adalah dapat mengurangi stres.

Mengutip CNN Indonesia, Peneliti Inggris di University of Sussex menemukan, membaca enam menit sehari lebih ampuh untuk menurunkan tingkat stres ketimbang jalan-jalan atau sekadar nongkrong di kedai kopi. Kecuali, Anda pergi ke kedai kopi untuk membaca, manfaatnya jelas menjadi berlipat.

Maja Djikic, seorang Psikolog di University of Toronto mengatakan, membaca akan membuat seseorang semakin baik dalam memahami dunia sosial di lingkungannya.

Selama 12 tahun, seorang peneliti di Universitas Yale meneliti ribuan orang dewasa di usia 50 tahun. Hasil penelitiannya menunjukkan, mereka yang membaca buku selama 30 menit sehari, hampir dua tahun lebih panjang umur ketimbang mereka yang membaca majalah atau koran.

Studi 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics mendapati, orang tua yang sering membacakan buku memiliki interaksi verbal dan nonverbal yang lebih melekat dengan anaknya. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *