Pesta Rakyat (Festival Golo Koe) Jilid II

Oleh: Sil Joni*

OPINI | Okebajo.com | Dalam sebuah kesempatan pada pergelaran Festival Golo Koe tahun 2022 yang lalu, Uskup Ruteng, Mgr. Sprianus Hormat, Pr pernah menegaskan bahwa Festival Golo Koe ini bukan hanya pesta orang berduit, tetapi pesta rakyat.

“Kita berdendang ria di Marina Waterfront City Labuan Bajo ini. Kita bergurau, berbagi cerita bersama. Tempat ini, ingin kita rajut tali kasih. Mau kita pintal bingkai persaudaraan. Membentuk mozaik-mozaik indah Bhinneka Tunggal Ika karena pariwisata bukanlah peluh keringat belaka, terapi juga pesta sukacita. Bukan hanya pesta orang-orang berduit tetapi pesta rakyat, pesta kita bersama”, ungkap Uskup Sipri

Festival Golo Koe dalam perspektif uskup Sipri merupakan sarana berbagi cerita, merajut tali kasih, memintal benang persaudaraan dan mengukir mozaik indah dalam bingkai bhineka tunggal ika.

Lebih jauh, uskup Sipri juga coba melihat korelasi antara pariwisata dan pesta rakyat itu. Bahwasannya, pariwisata itu bukan peluh-keringat saja, tetapi juga pesta sukacita.

Kisah sukses pelaksanaan Festival itu pada tahun lalu, mungkin dijadikan salah satu alasan mengapa ‘pesta rakyat’ itu digelar lagi tahun ini. Bahkan, bukan tidak mungkin Festival Golo Koe (FGK) menjadi ‘event pariwisata tahunan’ di Mabar.

Jika menuai hasil positif seperti tahun lalu, maka FGK masuk dalam kalender pementasan atraksi wisata reguler di wilayah ini.

Kendati masih terdengar keluhan dan suara kritis yang muncul dari kalangan umat, hal itu tidak menyurutkan pihak Keuskupan Ruteng untuk melaksanakan FGK jilid 2 yang digelar tanggal 10-15 Agustus 2023.

Kegiatan ini, tentu saja mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah (Pemda) Manggarai Barat (Mabar) dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Bukan yang terkecil secara literal, Golo Koe merupakan frase bahasa Manggarai yang berarti ‘bukit kecil’.

Memang secara referensial, penamaan itu sangat pas untuk kondisi sebuah bukit kecil di wilayah Lancang-Raba-Sernaru, Labuan Bajo itu.

Tetapi, rupanya ada sesuatu yang menarik yang datang dari ‘yang kecil’ ini. Karena itu, sebetulnya Golo Koe tidak bisa dipandang sebelah mata dalam urusan daya tarik keunikannya.

Saya tergoda untuk membuat refleksi mendalam terhadap Golo Koe yang secara faktual terlihat kecil, tetapi bermakna besar secara konotatif-metaforis.

Teks biblis (Mat 2:6) diadaptasi secara kreatif. Secara lengkap, rumusan adaptatif itu berbunyi: “Dan engkau Golo Koe, bukit kecil di area Sernaru, Labuan Bajo, bukanlah yang terkecil di antara spot wisata kenamaan di Mabar, karena dari padamulah akan muncul sebuah ‘event besar’ yang menyedot atensi, baik warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke daerah ini”.

Ketika ‘Golo Koe’ menjadi trendig topic baik dalam perbicangan di ruang publik digital, maupun dalam jagat kenyataan, maka ‘ramalan amatir’ di atas, seolah terwujud secara utuh.

Meski bukit itu diembeli dengan kata ‘koe’ (kecil), tetapi hari-hari ini, unsur kekecilannya, menjadi tidak tampak. Justru di balik kata ‘koe’ itu, tersembul sisi kebesarannya ketika sebuah ‘festival seni’ yang diinisiasi oleh pihak Keuskupan Ruteng, memakai nama Golo Koe sebagai ‘nama utamanya’.

“Festival Golo Koe”, dengan demikian menjadi bukti bahwa Golo Koe ternyata punya ‘nilai jual’ yang bagus. Banyak tempat terkenal di Labuan Bajo ini. Tetapi ‘sisi ketenaran’ itu tidak serta merta membuat pihak Keuskupan ‘jatuh hati’ untuk dijadikan nama resmi sebuah event seni akbar dan prestisius di Mabar.

Sebaliknya, nama Golo Koe diangkat ke permukaan dan serentak memantik rasa ingin tahu yang besar dari publik. Mengapa Golo Koe ‘dipilih’ oleh Keuskupan Ruteng untuk dijadikan ‘tajuk utama’ acara itu?

Selama ini, Golo Koe dikenal luas oleh warga Labuan Bajo dan sekitarnya sebagai salah satu tempat ziarah dan doa bagi penganut agama Katolik. Pada puncak bukit itu, arca Bunda Maria ‘terpancang anggun’ dalam sebuah gua mungil nan cantik.

Selain itu, stasi-stasi (tempat pemberhentian) yang berjumlah 14 dalam ritual ‘Jalan Salib’ dengan ornamen yang khas, juga berdiri megah di sepanjang jalur menuju Gua itu.

Suasana bukit yang relatif tenang, sejuk, dan asri membuat Golo Koe selalu menjadi ‘pilihan favorit’ sebagai tempat bermeditasi dan menyadap energi spiritual. Kita pasti merasakan semacam ‘penghiburan rohani’ yang besar ketika berada di tempat ini.

Apakah nama Golo Koe dipilih sebagai nama Festival seni etnis ini dilatari oleh fakta bahwa Golo Koe menjadi ‘bukit doa bagi agama Katolik? Saya tidak berani untuk memberi jawaban yang pasti. Hanya pihak panitia yang punya kompetensi untuk menjelaskan latar belakang pemilihan nama itu.

Rasanya, kita tidak perlu lagi bertanya, ‘adakah sesuatu yang baik datang dari Golo Koe’? Semuanya sudah terjawab. Ternyata, bukit kecil ini menyimpan pesona yang jika dikemas dengan baik, bisa mendongkrak citra pariwisata Mabar. Persis itulah yang dibuat Keuskupan Ruteng melalui penyelenggaraan Festival seni etnis Manggarai ini.

Festival religio-kultural ini relatif sukses ‘menyedot perhatian’ dan merangsang pertumbuhan kreativitas dan peluang berinovasi di Mabar.

Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tentu mengoptimalkan momentum festival ini untuk menambah pundi-pundi atau menambah untung. Ruang untuk memasarkan produk semakin terbuka lebar.

Satu yang pasti bahwa nama Golo Koe sudah melambung tinggi. Popularitasnya kian menanjak semenjak rencana perhelatan Festival Golo Koe bergulir di ruang publik. Kini, Golo Koe bukanlah ‘tempat yang terkecil dan terpencil’ di antara sekian banyak obyek wisata tenar di Mabar ini.

Oleh karena itu, sama seperti Anak Manusia yang menyampaikan ‘Sabda Bahagia’ pada sebuah bukit di tanah Yahudi ribuan tahun lalu, demikianlah saat ini, sabda bahagia dalam bidang pariwisata bergema cukup lantang dari ‘Bukit Golo Koe’.

Gereja Katolik Keuskupan Ruteng sebagai inisiator Festival ini, tak perlu ragu untuk menyisipkan warta bahagia melalui panggung Festival ini.

Tanpa berpretensi ‘mewakili suara Gereja’, izinkan saya, melalui tulisan ini, memparafrasekan ‘bunyi Sabda Bahagia dalam teks biblis’ sesuai dengan konteks perkembangan dan kemajuan pariwisata di tanah Mabar.

“Berbahagialah kita umat Keuskupan Ruteng umumnya dan warga Mabar khususnya, karena kita memiliki reptil purba Komodo (ora).

Bercerminlah kita karena kita memiliki Goa Baru Cermin dan Goa Rangko.

Bergembiralah kita karena punya pulau Rinca.

Bersujudlah kita karena kita dianugerahi Golo Mori.

Bersoraklah kita karena kita punyai danau Sano Nggoang. Bersukacitalah kita karena Cunca Wulang dan Cunca Rami.

Berdendanglah kita karena pantai Pede sebab itulah wajah kehangatan budaya adat istiadat kita.

Berbahagialah kita orang Manggarai kerena lukisan surga kecil di bumi berada di Manggarai Barat”.

Tentu, masih banyak obyek wisata menarik yang tidak sempat disebutkan dalam pengungkapan rasa bahagia ini.

Bagaimana pun juga, semuanya itu milik kita yang membuat kita bangga dan dunia pun berdecak kagum.

Harapannya adalah pelbagai aset wisata potensial itu, bisa dikelola dengan baik untuk meningkatkan level kualitas kemaslahatan bersama di Mabar ini.

Akhirnya, selamat mengikuti pesta rakyat ini. Suasana sukacita itu, mesti menjadi modal dan spirit baru dalam melambungkan pesona industri turisme di sini. FGK, kalau dapat, tidak menjadi ajang ekshibisi hasrat hedonis dan konsumeris.

Hedonisme dan konsumerisme adalah virus yang menggerogoti kemuliaan dari pesta itu.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *