Prospek Gerakan Kepanduan di Manggarai Barat

Labuan Bajo | Okebajo.com | Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Pramuka, perwakilan anggota Pramuka dari semua level di Kecamatan Komodo mengadakan kegiatan camping (perkemahan) di Golo Mori. Kegiatan itu, dari beberapa gambar yang beredar di ruang publik digital, terlihat begitu atraktif dan berkualitas.

Menurut testimoni dari beberapa peserta, ada sekian item kegiatan menarik dan bermutu yang diperlihatkan selama periode perkemahan itu. Semuanya dilihat sebagai sarana untuk menstimulasi potensi kreatif dan inovatif dari segenap ‘praja muda’ yang gemar berkarya itu.

Tulisan ini bukan reportase naratif terhadap apa yang terjadi di lokasi camping. Saya hanya menyoroti soal prospek Gerakan Kepanduan di Mabar pasca pemberlakuan aturan mengenakan kostum Pramuka di sekolah baik siswa maupun para guru. Ini sebuah momentum untuk menghidupkan dan menjabarkan gerakan kepanduan secara konsisten yang melibatkan semua elemen di sekolah.

Secara literer, Pramuka adalah akronim dari “praja muda karana”. Arti dari ungkapan itu adalah ‘jiwa muda yang suka berkarya’. Dari pengertian itu, maka sesungguhnya Pramuka menjadi wadah formasi sisi personalitas yang terbuka bagi semua orang yang berjiwa muda dan berkarya. Watak inklusif dan inovatif dari ‘pramuka’ menjadi begitu dominan.

Secara substansial, guru dalam mengemban tugas profesionalnya, tentu saja sangat menjunjung tinggi spirit sebagai ‘yang muda yang suka berkarya’. Inovasi, kreasi, dan produksi, adalah tiga hal yang semestinya menyatu dalam tubuh guru. Dalam praksisnya, unsur kreativitas dan inovasi termanifestasi dalam aneka bentuk. Secara spesifik, inovasi dan kreativitas yang produktif itu, terlihat nyata di lingkungan sekolah umumnya dan ruang kelas khususnya.

Atas dasar itu, tentu sangat beralasan jika ‘kegiatan kepanduan’ itu tidak hanya diikuti oleh para siswa, tetapi juga melibatkan para guru. Menurut saya, kegiatan kepramukaan bisa menjadi instrumen efektif dalam merawat ‘jiwa muda yang suka berkarya’. Dengan perkataan lain, Pramuka kemungkinan bisa membuat guru tetap tampil energik, segar, penuh vitalitas dan lebih muda dari umurnya. Usia bagi guru yang terlibat dalam program organisatoris kepramukaan, tidak lebih sebagai angka atau keterangan waktu saja.

Sekadar informasi bahwa Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) telah mengeluarkan semacam instruksi terkait ‘busana’ yang dikenakan para guru selama berada di kintal sekolah. Salah satu jenis kostum yang ‘diwajibkan’ untuk dipakai oleh para guru adalah ‘pakaian seragam Pramuka’.

Menindaklanjuti instruksi gubernur itu, mulai tahun 2023 ini, komunitas guru SMK Stella Maris ‘menambah satu jenis lagi’ pakaian seragam resmi di sekolah. Setelah sebelumnya, kita berusaha untuk merasa nyaman dalam menggunakan ‘busana keki’, maka perjuangan yang sama diperlihatkan oleh para guru kali ini ketika mengenakan ‘seragam Pramuka’ itu. Suka tidak suka, kita ‘mesti’ patuh pada instruksi dari pemimpin politik top di Propinsi ini.

Kendati demikian, kita tidak boleh berhenti pada tataran simbolik atau dimensi aksesoris saja. Busana Pramuka yang terlihat elegan itu, mesti memacu kita untuk ‘mendagingkan’ wacana gerakan kepanduan di level sekolah. Dengan rumusan lain, kegiatan Pramuka mesti juga menjadi ‘opsi yang menarik bagi guru’ dalam mematangkan aneka karakter yang bermuara pada lahirnya ‘jiwa muda yang suka berkarya’.

Tegasnya, para guru ‘terlibat aktif’ dalam salah satu kategori pengelompokan gerakan yang secara umum terdiri dari empat golongan, yaitu Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak, dan Pramuka Pandega. Saya kira, para guru masuk dalam klasifikasi Pramuka Pandega.

Keterlibatan semacam ini, hemat saya, selain dilatari oleh misi ‘merawat dan membangkitkan jiwa muda yang suka berkarya’, juga bisa dibaca sebagai sebentuk ‘pertanggungjawaban praktis’ atas busana seragam Pramuka yang kita pakai. Dengan demikian, spirit gerakan kepanduan bisa ‘menyelimuti’ diri seorang guru. Jadi, sebetulnya yang kita ‘buru’ adalah jubah spiritualitas kepramukaan yang otentik.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah ‘orasi politis’ yang kalau dapat bisa membakar spirit orang muda untuk tidak pernah lelah dan jedah berkarya.

“YANG MUDA YANG BERKARYA”

Tunas muda Pramuka
Praja muda Karana
Orang muda yang suka berkarya
Karya adalah ibadahmu
Di hari jadimu ini
Tunjukan pesona kreatif dan inovatifmu
Kepada dunia

Pramuka siaga
Pramuka penggalang
Pramuka penegak
Pramuka pandega
Mari berkolaborasi
Aktif bersaksi dan beraksi
Untuk negeri yang seksi

Demi hari esok nan elok
Generasi muda terus berkarya
Merenda tanah wisata
Jadi nusa yang jaya

Wahai tunas muda!
Taklukan dunia
Dengan jiwa kreatif
Dan semangat membara
Angkat senjatamu
Melawan anak perkara
Dalam samudra hidup mahaluas ini..

Yang muda yang berkarya
Melukis mimpi
Mengejar mutiara ilmu
Di kota mungil ini.
Kobarkan api juang
Jangan jadi pecundang
Raih anganmu
Hingga tiba di batas cakrawala

Manggarai Barat
Tanah leluhur kita
Butuh sentuhan dan jamahan kreatif
Dari pemuda yang suka berkarya.

Pemuda adalah sarana
Orang muda berkarya
Mengembangkan talenta
Menurut asa
Menjadi insan berguna
Bagi bangsa dan negara

Kibarkan panji juang
Agar tak binasa oleh badai masa
Mari bergerak
Dengan langkah nyata
Agar tiba di dermaga impian
Dan masuk dalam gerbang kesuksesan
Dengan pesona yang gagah perkasa
Ukir kisah indah
Dalam wahana kepanduan ini.

Selamat merayakan HUT ke-62
Kepada segenap anggota Pramuka
Praja muda yang suka berkarya.

Padang Stella Maris, 14 Agustus 2023

Oleh: Sil Joni*

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *