Ngadiman Sudiaman dari Anak Orang Susah Berhasil Jadikan Karyanya Ikon Labuan Bajo Dikenal Dunia

Dr. Ngadiman Sudiaman

Labuan Bajo | Okebajo.com | Ngadiman Sudiaman dilahirkan dari rahim orang sederhana. Tak dinyana menjadi pengusaha sukses yang ikonik di Labuan Bajo hingga dunia internasional.

Sinopsis kisah dan kiprahnya sangat menyentuh kalbu. Inspiratif. Melepaskan kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Kementerian Keuangan, lantas ingin merintis usaha di bidang jasa pariwisata. Membangun ekosistem pariwisata.

Pada hari Minggu, (3/12/2023) siang, Media Okebajo.com menemuinya di Local Collection hotel di Labuan Bajo. Berbagi cerita dan pengalaman.

Ngadiman mengaku dirinya apa adanya. Bahwa Ia berasal dari keluarga sederhana. Kisah kehidupan masa kecilnya penuh liku. Untung dan malang merundungnya. Ia menemui tantangan besar setelah tamat Sekolah Dasar.

Meskipun orang tuanya tak mampu membiayai pendidikan lanjutan ke jenjang SMP pada tahun 1981 semangat belajar dan prestasinya membuka pintu peluang yang tak terduga. Jiwa entrepreneurnya  tumbuh saat ia berusia remaja. Ia merintis usaha kecil-kecilan. Menjual voucher pulsa hingga kerja serabutan lainnya.

Berpikir di luar kotak, bocah Ngadiman memutuskan untuk masuk sekolah di SMPK St. Petrus di Pontianak, Kalimantan Barat. Dengan tekad yang kuat, ia memohon bantuan langsung Kepala Sekolah yang tak lain adalah seorang Pastor (Imam Katolik).

Di hadapan sang Pastor itu, Ngadiman mengisahkan dirinya secara jujur dan tulus, bahwa ia tengah dilanda kesulitan ekonomi. Orang tuanya bangkrut, dan keterbatasan finansial membuatnya terhenti di ambang pintu pendidikan.  Ketulusan dan keberanian Ngadiman membuka mata hati Kepala Sekolah terhadap potensinya.

“Pada tahun 1980 itu kan saya masih kecil, usai tamat SD di Santa Maria saya langsung  ketemu kepala SMPK St. Petrus, kebetulan satu yayasan. Jadi saya datang sendirian tanpa didampingi orang tua. Saya masih ingat waktu itu dengan polos saya bilang ke Pastor itu bahwa saya masih mau sekolah namun saya tidak mampu untuk membayar uang sekolah,” kenangnya.

Kepala Sekolah memberikan dukungan tanpa ragu. Mereka melihat semangat belajar dan niat yang kuat dalam diri Ngadiman. Ngadiman pun berhasil melanjutkan pendidikannya di SMPK St. Petrus.

“Karena Pastor melihat saya menangis dan dia bilang ke saya bahwa kamu (Ngadiman) tetap lanjut sekolah biar uang sekolahnya pakai nyicil saja. Singkat cerita di SMPK St. Petrus saya hanya 1 tahun saja. Kelas 2 saya pindah ke Jakarta karena orang tua saya saat itu lagi bangkrut. Kemudian di Jakarta saya lanjut kelas 2 SMP hingga tamat pada tahun 1983 dan lanjut SMA di Jakarta hingga tamat tahun 1986,” kisah Ngadiman.

Ia menuturkan, tamat SMA, Ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk mengikuti sekolah ikatan dinas. Selesai sekolah Ikatan Dinas, Ngadiman langsung diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Disana ia mengabdi selama 18 tahun.

Melepas status PNS

18 tahun mengabdi di Kementerian Keuangan, Ngadiman memilih sebuah keputusan luar biasa. Ia melepaskan kariernya sebagai PNS. Ia membuka lembaran baru merintis usaha baru di sektor pariwisata.

Keputusan ini bukan hanya sekadar mengubah karir, tetapi juga menggambarkan semangat pengabdian pada panggilan hidupnya. Meninggalkan zona nyaman sebagai seorang pegawai negeri untuk melibatkan diri lebih dalam dalam membangun ekosistem pariwisata lokal.

Pelan tapi pasti. Kini Ngadiman
sukses menekuni usaha di dunia pariwisata.  Karena ketekunan dan potensi yang dimilikinya, Ngadiman didapuk menjadi Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) periode 2020-2025.

Perjalanan Ngadiman Merintis di Dunia Bisnis

Ngadiman, seorang pengusaha kecil dengan kisah hidup luar biasa. Bukanlah anak orang kaya, namun ia keluar dari dunia PNS setelah 18 tahun berbakti kepada Negara, dan bahkan pernah menjadi seorang pejabat. Keputusan untuk memulai perjalanan baru menjadi pengusaha merupakan langkah besar yang diambilnya setelah membayar semua beasiswa yang telah diterimanya.

“Saya merasa sudah saatnya untuk keluar dan membangun diri sendiri,” ucapnya dengan penuh tekad.

Ketika pertama kali adanya langkah ke dunia bisnis, mungkin banyak yang bertanya dari mana modal awalnya. Ngadiman dengan rendah hati menjelaskan bahwa modalnya berasal dari teman-teman pengusaha yang pernah membantunya. Sebagian dari mereka memintanya untuk menjadi direktur keuangan dalam perusahaan mereka dengan perjanjian saham yang disetujui nantinya.

Dengan demikian, ia mendapat amanah dan kepercayaan dari teman-temannya. Proses membayar setoran modal pun dimulai perlahan-lahan dari dividen yang diterimanya dari satu tempat ke tempat lain.

“Saya adalah orang yang tidak suka menyimpan uang. Ketika ada duit, pasti saya selalu berinvestasi,” katanya sambil tersenyum.

Namun, hal ini kadang membuat istrinya marah. Ngadiman selalu memberikan saran kepada istrinya untuk mendepositokan uangnya agar tidak repot, namun keyakinannya adalah bahwa dengan berinvestasi, mereka dapat berbuat lebih banyak bagi orang lain. Ia berharap bahwa melalui usahanya, setidaknya dapat memberikan bantuan dan lapangan kerja kepada banyak orang.

“Dalam hidup ini, saya selalu mengajarkan kepada anak-anak di rumah bahwa saya tidak akan meninggalkan harta untuk kalian. Yang akan saya tinggalkan adalah sebuah legasi, yaitu kebaikan dan bantuan kepada sesama,” tutur Ngadiman dengan tulus. Kisah perjuangannya bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya,” Imbuhnya

Awal datang ke Labuan Bajo

Di balik gelar akademis dan jabatan ketua pariwisata nasional, tersembunyi kisah kepemimpinan dan keteguhan hati yang membangun ikon Local Collection Hotel. Pesona kepemimpimannya membuat banyak orang ingin mengenalnya lebih dekat.

Ia mengisahakan pengalaman awal mulanya memasuki Labuan Bajo dengan tekad yang tak tergoyahkan, merintis perubahan yang membawa destinasi pariwisata Labuan Bajo ke panggung internasional.

Dr. Ngadiman Sudiaman

Ia membangun Local Collection Hotel dan menjadikan Labuan Bajo tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi ikon yang dikenal dunia dengan sentuhan khas keindahan Santorininya Indonesia.

“Awal saya masuk ke Labuan Bajo itu, bahwa saya diminta oleh keluarga istri untuk datang ke Labuan Bajo untuk mengecek beberapa lokasi tanah yang ada di sini yang konon katanya itu adalah warisan dari keluarga besar keturunan Raja Bone. Pada saat saya datang, kita langsung mengecek dan ternyata tanah-tanah tersebut telah dijual orang. Pada saat itu saya sempat diancam agar tidak perlu datang untuk cek tanah-tanah tersebut,” kisah Akademisi lulusan Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Meski dihadapkan pada ancaman dan kesulitan hukum, Ngadiman melihat potensi besar Labuan Bajo. Dengan bijak, ia memutuskan untuk tidak terlibat dalam proses yang rumit dan memutuskan untuk fokus pada membangun sesuatu yang positif.

“Singkat cerita, saat itu saya melihat bahwa Labuan Bajo ini punya potensi besar. Karena saya orangnya tidak mau ribet, sehingga saya bilang sama keluarga saat itu bahwa semua tanah-tanah ini telah dijual dan kalaupun kita proses semuanya percuma karena banyak urusanya dengan hukum, banyak butuh biaya, tenaga, waktu dan pikiran yang pastinya akan barantem terus. Nah sudahlah, iklaskan saja jika ada orang yang sudah buat jahat seperti itu ya iklaskan saja,” tuturnya

Melalui pengumuman di media cetak di NTT, Ngadiman dan keluarga memutuskan untuk wakafkan tanah yang sudah dijual menunjukkan sikap luhur dalam menghadapi ketidakadilan.

“Saat itu kita sudah umumkan melalui media bahwa tanah yang sudah dihuni oleh orang maka tanah-tanah tersebut kita wakafkan dan kita buat pengumuman supaya yang tahu silsilah dari keluarga besar itu nyaman dimana tanah tersebut sudah diwakafkan oleh keluarga inti,” jelasnya.

Dengan pandangan jernih, ia dan istri memutuskan untuk menginvestasikan uang mereka di  Labuan Bajo yang menjanjikan.

Dalam pencarian tanah, Ngadiman jatuh cinta pada lokasi yang kini menjadi hotel Loccal Collection.

Keputusannya untuk membangun hotel tersebut bukan hanya sekadar investasi, tapi juga sebuah langkah untuk turut mengembangkan potensi pariwisata Labuan Bajo.

Pada pandemi Covid-19, Local Collection Hotel di Labuan Bajo dibangun dengan ketekunan dan keberanian, dijalankan dengan sumber daya lokal mulai dari SDM hingga material bangunan. Kolaborasi dengan UMKM juga menjadi kunci sukses, menghidupkan ekonomi lokal dari Cirebon hingga Flores NTT.

“Saya membangun Loccal Collection Hotel tersebut dengan susah payah saat pandemi Covid-19 melanda,” kisahnya

Mulai dari memanfaatkan SDM hingga material lokal saat ia membangun Local Collection Hotel di Labuan Bajo pada tahun 2019. Termasuk menu lokal hingga pegawainya yang ia rekrut dari wilayah setempat.

“Masuk pandemi, atau pertengahan 2019, kita mulai pembangunan awal terus berlanjut sampai pandemi Covid-19. Bahkan saat itu hanya didukung oleh pinjaman bank yabg sangat sedikit karena sudah masuk mulai pandemi di China. Tapi, kami tetap nekad bangun dengan menjual semua barang dan tabungan simpanan anak sekolah kami, serta asuransi yang harus dicairkan,” kata Adi, sapaan akrab Ngadiman.

Kolaborasi dengan UMKM

Perjuangan berat tak berhenti sampai di situ. Saat masih pandemi, Ngadiman mulai membangun bertahap, dimulai dari restoran. Kemudian, di atas sebanyak 28 kamar di wing A. Lalu, setelah terlihat ramai, ia kembali membangun kamar berikutnya, wing B sebanyak 28 kamar. “Perjuangannya juga tidak berhenti di sana ketika cash flow kami stuck. Kami putuskan berbagai cara dengan meminjam ke berberapa relasi atau kawan lama saya,” tambahnya.

Hingga pada akhirnya, ia menjual kamar villa dengan system time sharing. Tujuannya agar bisa terlaksana di saat pandemi. Lalu, tahap terakhir, ia membangun hotel di gedung utama, dari lobi hingga lantai 4. Semua ia lakukan sambil jualan kamar yang tersedia.

“Tapi, belum selesai. Perjuangan tidak selesai di sana karena SDM yang sangat kurang di Labuan Bajo. Tapi, dengan keteguhan hati kami dengan mengusung nama Loccal Collection Hotel, kami harus memperhatikan SDM lokal sebanyak mungkin kami pekerjakan. Loccal Collection, buat kami adalah brand yang muncul di saat pandemi dengan mengusung semua naunsa lokal Indonesia. Memaksimalkan semua yang ada di lokal Indonesia. Local culliner, local culture, local society, local human resources, hingga local product of Indonesia. Saat itu kami hanya memikirkan bagaimana kita bisa bertahan dan lebih efisien bangunannya serta menggerakkan ekonomi lokal Indonesia,” jelasnya.

Local Collection Hotel yang ia kembangkan cukup berhasil dan bertahan.

“Saat semua negara di isolasi imbas pandemi, hanya kita yang di lokal Indonesia yang bisa bergerak bahkan hanya lokal daerah tertentu juga. Atas dasar itulah banyak bahan lokal kami pakai. Banyak UMKM atau produk lokal UMKM kami beli  dari Cirebon, Jepara, Cepogo Boyolali, Bandung, Bali , dan Flores NTT. Kami padukan yang terbaik. Semua buat UMKM Indonesia,” tambahnya

Bahkan, lanjut Ngadiman, pekerjanya pun mereka rekrut susah payah dari masayarakat lokal hampir 90 persen.

“Walaupun kami tahu kualitasnya jauh di bawah rata-rata. Kami menaruh harapan besar buat orang lokal yang mau maju. Kami beri pendidikan dan latihan. Mulai dari kerja sama antara Asparnas dengan STP Bandung dan Cakap.com, pemberian beasiswa traning bahasa ke orang lokal dan karyawan lokal, semua kami lakukan bertahap,” tukasnya.

Perjuangan panjang tidak mengkhianati hasil. Ngadiman memberikan reward dan apresiasi terhadap para karyawannya yang mau berkembang, punya reputasi baik, dan bekerja jujur di usaha yang ia bangun itu.

“Karyawan yang mau berkembang dan bekerja dengan baik dan jujur tetap bertahan. Bahkan ada yang sejak awal pembangunan hotel. Yang jelek bahkan tidak jujur, tersisihkan dengan sendiri, sejalan dengan jalannya waktu. Kami berhasil menjadi acuan dan patokan bagi pariwisata di Labuan Bajo,” ungkapnya.

Terbukti, berbagai plafform online, membuatkan iklan gratis untuk mempromosikan Local Collection Hotel. Salah satunya maskapai Citylink. Termasuk sejumlah influencer dan artis pun mempromosikan secara gratis dan menginap serta berlibur di Local Collection Hotel.

Artis-Tamu Negara

Mulai dari Raffi Ahmad dan keluarga, Baim Wong, Ruben Onsu, dan Lukman Sardi dan istri, Wulan Guritno, Adipati Dolken, Sandrina , Irish Bella dan suami, Irwansyah dan Saskia Sungkar. Serta sejumlah influencer terkenal, seperti Jovia Dhiguna, Tatjana Saphira, Ivan Gunawan , Ryan Ogilvy, lainnya. Termasuk finalis Miss Grand Internasional hingga pejabat penting dan tamu negara dari berbagai negara ketika acara G20 dan Asean Submit datang, makan, dan menginap di hotel ini.

Keuntungan dan profit dari sektor usaha tersebut tidak hanya ia nikmati sendiri. Sebagai rasa syukur, Ngadiman selalu menyumbangkan setiap kamar penginapan yang terjual kepada anak-anak yatim piatu dan bea siswa ke masyarakat lokal di Bajo dan NTT.

“Setiap kamar kami sumbangan Rp5.000 perak. CSR kami buat orang lokal. Bahkan kami juga membantu menampung UMKM lokal untuk menjual produknya di galeri kami tanpa bayar sewa. Sebagai penghargaan kami terhadap karyawan terbaik, kami juga berikan undian hadiah yang diundi setiap tahun untuk ziarah atau umroh ke tanah suci. Kami juga senang memberikan penghargaan dan beasiswa kepada pahlawan terbaik asli NTT. Baik pelajar terbaik atau olahragawan berprestasi internasional  juga kami undang untuk memberikan aspresiasi. Contohnya, juara Olimpiade Matematika cilik untuk Nono, bocah ajaib, sampai kuliah beasiswa kami tawarkan. Serta atlet juara SEA Games dari NTT. Setiap tahun kami juga mengundang anak-anak disabilitas untuk datang dan makan di Loccal Collection Hotel,” jelasnya.

Ngadiman mengatakan, dirinya selalu berharap brand ini terus berkembang dan tetap menjadi pioner untuk perkembangan pariwisata yang ia mulai dari Labuan Bajo.

“Kini, kami mulai masuk ke Projek 69 di Bajo di Pulau Kelapa yang segera akan selesai.  Start pembangunan segera di Loccal Collection di Manado, Nusa Penida, Raja Ampat, dan masih banyak lagi di daerah yang akan kami bangun ke depan di Indonesia. Kami pun memajukan pariwisata di NTT, khususnya Labuan Bajo, kami sudah menggelar pameran di WTM di London tahun ini. Juga kami buatkan film layar lebar Nona Manis Sayange,” paparnya. Tidak berhenti di sini. Ia terus berkomitmen dan membangun pariwisata Indonesia maju hingga menjadi nomor satu di dunia. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *