Dekorasi Romantis Sambut Baru di Kampung Lokot

Beranda panggung romantis di acara sambut baru Sintia di Kampung Lokot, Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (3/12/2023). Foto/Robert Perkasa

Labuan Bajo | Okebajo.com |  Kemeriahan acara resepsi apa saja  bukan hanya tentang seberapa merdu alunan melodi. Bukan hanya tentang gemuruh musik yang membahana di ruangan acara. Bukan pula tentang siapa dan seberapa banyak undangan yang hadir.

Dekorasi latar panggung, juga menjadi komponen yang acapkali menjadi topik sorotan yang turut memengaruhi.

Bercerita tentang dekorasi sudah pasti tentang seni. Itu sebabnya yang empunya acara rela menggelontorkan biaya yang besar untuk hal yang satu ini.

Bukan rahasia umum. Hari ini tumbuh banyak orang yang kreatif, cakap  dan terampil berdekorasi. Mereka kemudian menawarkan jasa bagi siapa pun yang menggelar acara. Hal ini tentu sangat positif.

Tetapi tahukah Anda, di tengah tumbuh subur usaha jasa dekorasi itu,  ada lagi kreatifitas yang sama muncul, namun dengan konsep yang berbeda. Motivasi sama, yaitu seni. Tetapi idenya sangat kontras.

Ide dekorasi yang kontras itu saya temukan  di Kampung Lokot, Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu, 3 Desember 2023.

Adalah acara sambut baru (Komuni pertama) seorang siswi SDI Nara bernama Sintia.

Dekorasi acara Sambut Baru Sintia terlihat  sederhana, unik dan aesthetic. Berbeda dari dekorasi acara  yang sama yang pernah saya ikuti di tempat lain.

Kreatifitas selaras alam

Singkat cerita, semua bahan dekorasi acara itu diperoleh secara gratis dari kemurahan alam. Tidak beli di toko atau membayar jasa dekorasi dari kota. Kecuali paku, sekira puluhan ribu rupiah harganya. Selain itu, gratis. Murni dari alam pedesaan setempat.

Tidak heran kalau dekorasi acara yang unik itu kemudian menjadi topik sorotan para undangan yang hadir siang itu.

Ayah Sintia, Silvester Nggoleng,  mengungkapkan rasa bahagianya karena bisa menuangkan ide  kreatif untuk konsep acara sambut baru putri sulungnya  sesuai dengan  karakter dan kepribadianya.

“Saya sengaja membuat dekorasi  sesederhana ini sesuai dengan kepribadiannya”, ujar Sil Nggoleng.

Ia menuturkan pemilihan bahan dasar dekorasi juga menjadi konsiderasi utama dalam rancangan  yang sesuai dengan kondisi alam sekitar.

“Ide dekorasi ini terinspirasi dari kondisi alam pedesaan dan berbagai referensi lainnya. Untuk meramu ide menjadi sesuatu yang menambah daya tarik, saya bekerja sama dengan anak-anak muda dan keluarga di kampung. Mereka sangat kreatif”, ungkapnya.

Sil mewujudkan dekorasi acara sambut putri sulungnya dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana, pohon dan bunga yang ada di hutan dan sekitar rumah. Tidak buang banyak biaya.

“Kami mencoba menciptakan ruang ide yang dapat menampilkan kesederhanaan bernuansa alam  namun ditampilkan dengan kreasi yang unik”, tutur Sil Nggoleng.
Panggung didesain dari ragam tekstur alam mirip gua. Dihiasi dengan beraneka bunga hutan yang segar menghijau.

Di samping kiri panggung mungil itu kita dapat merasakan sensasi air pancuran yang mengalir sejuk bagaikan embun yang jatuh lunglai di pagi hari.

Rembesan air pancuran itu kemudian mengalir pelan ke kolam kecil yang berada di bawah beranda panggung. Hal ini sungguh menciptakan atmosfer pesta sambut baru yang hangat dan romantis. Paduan bahan-bahan alami menjadi komponen utama di sekeliling panggung.

Beranda panggung sengaja dirancang hanya untuk sang yubilaris. Tidak perlu didampingi oleh siapapun. Tinggi panggung sekira 90 sentimeter.

Untuk bisa menggapai tangan yubilaris, para tamu undangan tidak mesti ramai-ramai ke atas beranda. Naik satu per satu melalui tangga bambu yang dirancang khusus.

Master of Ceremony yang ikut membuat dekorasi mengungkap kisah inspirasi awal proses merancang dekorasi panggung itu.

Konon, ia bersama ayah Sintia menyambangi destinasi air terjun yang terletak tidak jauh dari Kampung Lokot.

“Inspirasi ini sebetulnya muncul ketika kami duduk santai selama 30 menit di air terjun itu”, ujarnya.

Menjelang acara, mereka naik gunung mencari bunga-bunga yang tumbuh liar di hutan.

Sil juga mengisahkan proses awal saat mereka mencari bahan yang cantik menjelang acara digelar.

“Kami mencari bahan-bahan alami untuk dekorasi sampai ke hutan.  Kami tidak lari ke kota. Soalnya bahan bagus dengan warna secantik ini susah didapat di kota”, ujar Sil Nggoleng melanjutkan cerita inspirasi di balik rancangan pesta sambut baru putrinya.

Terkesan sederhana, tetapi dekorasi ala warga kampung Lokot ini mudah dibuat dan hemat biaya.

Bunga dan dedaunan menjadi salah satu komponen utama dekorasi panggung. Mereka memilih bunga yang sesuai dengan karakter dan kepribadian anak sambut baru serta menimbulkan sentuhan alami yang selaras dengan alam pedesaan. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *