Tenda Biru Tukang Bakso dan Sensasi Kabut Putih Golo Lusang

Tenda biru Mas Yono tukang bakso Jawa Tengah berdiri anggun di kesunyian golo Lusang, ruas jalan Ruteng - Iteng, Kabupaten Manggarai. Foto/Robert Perkasa

Ruteng | Okebajo.com | Cakrawala kota Ruteng, Rabu (13/12/2023) tak bersahabat.  Rencana makan siang di RM “Padedoang” terpaksa dibatalkan gegara hujan deras.

Beruntung, Om Lorens pengemudi mobil travel Ruteng – Iteng setia menunggu kami di Pasar Puni.

Pukul 14.00 Wita, kami tinggalkan kota dingin Ruteng dalam keadaan lapar.  Sementara itu hujan terus mengguyur disertai kabut mewarnai perjalanan menuju Pocoleok, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai.

Cuaca makin gelap ketika tiba golo Lusang. Kabut putih pekat  membaluti ubun-ubun puncak gunung ini.

Di bawah keremangan golo Lusang tampak sebuah bale-bale beratap terpal warna biru. Letak bale-bale ini persis di tepi jalan raya Ruteng – Iteng. Tenda biru itu ternyata milik Mas Yono (25), penjual bakso asal Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.

Pria anak satu itu ternyata setiap hari menjual bakso di kawasan golo Lusang nan sexi itu.

Tak menunggu lama, saya dan penumpang lainnya berteduh sejenak di bawah tenda biru Mas Yono. Saya pun memesan tiga porsi bakso spesial  untuk istri dan anak.
Sambil makan bakso panas, saya ngobrol dengan Mas Yono.

Ia lalu membentang kisah hidupnya sebagai perantau di Manggarai. Tahun 2020 silam, ia bersama istrinya merantau ke pulau Flores, NTT, tepatnya di Kabupaten Manggarai.

Tiba di Manggarai, ia langsung bekerja serabutan dan menjadi upahan sang majikan asal Jawa Tengah yang lebih dahulu merantau ke Manggarai.

Mas Yono ungkapkan  merintis usaha bersama sang istri berawal dari titik nol. Ia diupah harian oleh majikannya menjual bakso keliling Manggarai.

“Sejak tahun 2020 silam, aku berjualan bakso di Manggarai. Aku baru setahun jualan di tempat ini. Dua tahun  sebelumnya, aku jualan bakso di Mano”, ujar Mas Yono.

Tukang bakso itu mengaku kawasan puncak golo Lusang  sebagai rest area yang sangat strategis. Itu sebabnya ia memilih kawasan golo Lusang menjadi tempat mangkalnya.

Pengakuan Mas Yono ini memang benar adanya. Terpantau saban hari, para pengguna jalan raya Ruteng-Iteng biasanya rehat sejenak di kawasan tersebut. Tidak hanya para penumpang angkutan umum, pengguna kendaraan pribadi pun acapkali mangkal di situ.

Moda angkutan pedesaan pelanggan setia yang acapkali mangkal di tenda biru Mas Yono. Foto/Robert Perkasa.

Mereka mampir makan bakso seraya menikmati  keindahan view golo Lusang  yang membentang  hijau sejauh mata memandang.
Landscape puncak golo Lusang menyajikan  segalanya. Hawa sejuk. Udara segar dan bersih serta menjadi spot foto yang sangat instagramabel.

Kendati begitu adanya. tukang bakso itu mengaku rezeki usahanya tidak selalu mulus seindah panorama golo Lusang.

Mas Yono keluar dari rumah pukul 07.00 Wita mengendarai sepeda motor Verza Nopol EB 5804 EL menuju golo Lusang.  Seharian full ia berjualan bakso di sana. Pukul 18.00 Wita ia pulang ke rumah majikannya di Tenda, Ruteng.

“Setiap hari aku jualan di sini. Kalau lagi ramai, lumayan juga, Mas. Kadang juga sepi”, akunya.

“Kami rolling dengan teman aku sama-sama sari Jawa Tengah.  Kami jualan bakso di sini 2 minggu gantian”, ungkapnya.

Tukang bakso ini mengaku pendapatan rata-rata sehari mencapai ratusan ribu rupiah. Namun dari penghasilan itu, ia mendapat upah harian dari majikannya. Jika ia meraup Rp500.000 sehari, ia mendapat Rp125.000 sedangkan sisanya disetor ke majikannya.

Mas Yono juga mengaku  merasa nyaman jualan bakso di bumi Manggarai.

Saban tahun jelang lebaran, ia dan istrinya pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

“Nyaman kerja di sini, Mas”, ujar Yono. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *