Balai Taman Nasional Komodo Terapkan Aplikasi “Si Ora”

Kepala Balai TNK, Hendrikus Rani Siga dalam forum konsultasi publik yang diselenggarakan oleh PT Flobamor. Foto/Ist

Labuan Bajo | Okebajo.com | Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) menerapkan aplikasi bernama “Si Ora” dan bisa didownload di Play Store.

Aplikasi ini untuk menghitung jumlah pengunjung masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).  Jumlah kunjungan erat kaitannya dengan perputaran uang, baik untuk pelaku pariwisata maupun pedagang-pedagang yang ada di dalam kawasan itu.

“Kita lagi menghitung benar daya dukung ke Taman Nasional Komodo ini berapa? Ini ada kunjungan dengan perputaran uang nanti, baik teman-teman pelaku usaha pariwisata, pedagang-pedagang dalam kawasan termasuk kita mengoptimalkan beberapa tempat daya tarik wisata di luar. Sehingga kalau sudah penetapan daya dukung dalam kawasan itu ada implikasi nggak terhadap kunjungan di luar atau tidak,” ungkap  Kepala Balai TNK, Hendrikus Rani Siga dalam forum konsultasi publik yang diselenggarakan oleh PT Flobamor pada Senin lalu.

Tidak hanya itu. Dengan dan melalui aplikasi “Si Ora”, isu-isu lingkungan, interpretasi dan pengamanan lingkungan bisa terjawab.

“Silahkan teman-teman pelajari karena saya akan membutuhkan waktu khusus untuk melakukan sosialisasi besar-besaran karena itu tadi terkait isu-isu lingkungan, intepretasi, pengamanan kawasan itu bisa terjawab dengan adanya aplikasi ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, aplikasi ini akan terus dikembangkan. Target dia, pada tahun 2025 akan diterapkan secara total setelah uji coba selama tiga tahap.  BTNK juga bekerja sama dengan Bank BRI untuk mempermudah pembelian tiket secara online.

“Nanti semester pertama tahun 2024 itu sudah mulai coba melalui aplikasi Si Ora membeli tiket dan tahap pertamanya itu nanti reservasi kemudian keluarkan barcode, setelah itu melakukan pembayaran. Kami juga sudah melakukan kerjasama dengan Bank BRI supaya tiketing online sudah mulai berlaku di seluruh dunia darimana saja kita membelikannya. Jadi itu yang sedang berproses,” ucapnya

Menurut Hendrikus, kebijakan penerapan one gate system bentuk akuntabilitas BTNK terhadap pengelolaan kawasan TNK.  Uang  langsung masuk dalam khas negara.

“Kalau manual seperti sekarang ini potensi lostnya sangat tinggi,” ungkapnya.

Hendrikus menyebut pihaknya akan berencana menutup kunjungan di kawasan BTNK selama satu atau dua hari. Kebijakan itu kata dia untuk menghidupkan industri pariwisata di sekitar Labuan Bajo.

“Jadi tidak lama-lama, misalnya kalau satu hari tutup itu beri kesempatan industri wisata di sekitar Labuan Bajo hidup, kemudian hari kedua masuk lagi dalam kawasan. Dan pemikiran seperti itu menurut saya keren juga. Jadi teman-teman bisa mendesain paketnya bisa mendatangkan tetapi untuk berwisata di luar kawasan TNK. Jadi cara ini untuk meningkatkan PAD,” pungkasnya. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *