Miris, Siswa di NTT Belajar di Ruangan Berlumpur

Kondisi bagian depan ruangan kelas Sekolah Dasar Katolik (SDK) Bea Nio Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digenangi air dan lumpur. Foto/Inno

Ruteng, Okebajo.Com,- Mengenyam pendidikan seharusnya disambut dengan kegembiraan tetapi saat ini masih ada siswa yang harus merasa was-was saat berada di lingkungan sekolah ataupun dalam ruangan kelas yang sudah termakan usia.

Kondisi ini dialami siswa Sekolah Dasar Katolik (SDK) Bea Nio Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah potret belum meratanya pembangunan sarana prasarana pendidikan di tanah air ini, khususnya di Kabupaten Manggarai.

Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung sejak lama. Meski khawatir membahayakan siswa dan guru, dua ruangan kelas tak layak huni ini masih digunakan dalam proses belajar mengajar.

Bangunan yang dipakai untuk tempat belajar siswa-siswi kelas IV dan V ini sungguh sangat miris. Terlihat di bagian luar ruang belajar yang penuh dengan air dan lumpur di beberapa titik.

Selain itu, lantai semen ruangan kelas juga tampak pecah. Atap bangunan dan plafon bocor. Hal ini tentu menjadi momok saat musim hujan tiba. Siswa menjadi tidak nyaman berada di dalam ruangan tersebut untuk menuntut ilmu. Suara tetesan hujan dari atap memecah konsentrasi siswa yang tengah mendengarkan penjelasan sang guru.

Gusti Tomor, selaku guru SDK Bea Nio saat dikonfirmasi melalui telepon whatsapp pada Rabu (10/1/2024) mengatakan, sudah berapa tahun pihaknya memaksakan kegiatan belajar mengajar dalam dua ruangan yang kondisinya sangat memprihatinkan itu.

“Sebanyak 23 murid dari kelas IV dan 27 murid kelas V yang menempati ruangan kelas yang sangat memprihatinkan itu. Kalau musim hujan begini, muridnya bertahan saja, kondisinya menyedihkan sekali,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, tidak nyaman untuk belajar dalam ruangan itu, terlebih saat memasuki musim hujan.

“Yang saya takutkan itu saat kegiatan KBM berjalan, tiba-tiba ada angin, banjir dan longsor gedung itu roboh. Kalau untuk ruang kelas lain sudah permanen hanya ada sedikit kerusakan, lantainya juga masih ada yang rusak,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala SDK Bea Nio Santy Sipa, saat dihubungi melalui pesan Whatsapp mengakui kondisi dua ruangan tersebut sangat memprihatinkan.

“Sudah sekitar berapa tahun anak-anak tetap belajar dalam ruangan yang menyedihkan ini. Ia menambahkan, kondisi sekolah dengan dua ruangan yang sangat memprihatinkan tersebut sering terkena banjir dan lumpur ketika musim hujan. Pihak sekolah pernah melaporkan kejadian ini di pemerintah Desa untuk membuat TPT dan rehab, tapi belum ada kejelasan, dengan alasan pihak pemerintah Desa harus laporkan ke Dinas terkait”imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *