Gerakan Konservasi Wisata Alam Seribu  Air Terjun Wae Lolos

Pegiat konservasi wisata Seribu Air Terjun Desa Wae Lolos menuju lokasi penanaman, Jumat (26/1/2024). Foto/Robert Perkasa

Labuan Bajo | Okebajo.com | Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias bersama Pemerintah Desa Wae Lolos melakukan aksi konservasi  penanaman 1000 anakan pohon di  kawasan  wisata  Seribu Air Terjun Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat,  Flores, Nusa Tenggara Timur.

Aksi bertajuk “Green Tourism” ini  dilakukan di beberapa lokasi tangkapan air, tepatnya di sumber mata air yang ada di kawasan hutan Puar Langgo.  Ratusan anakan pohon Sa’u dan Munting ditanam di sekitar titik mata air  Wae Langgo dan di sepanjang kawasan destinasi wisata alam Seribu Air Terjun mulai dari pintu masuk sampai di lokasi air terjun.

Selain itu, anakan pohon Tabebuya dan Pinang hias juga ditanam di sepanjang jalan kampung Langgo, pekuburan umum dan sekitar Gereja Langgo dan Masjid Langgo.

Sedangkan anakan pohon Jabon (kawak merah) ditanam di kebun masing-masing petani. Anakan pohon tersebut didistribusikan  agar kebun petani selain berfungsi sebagai sarana produksi, juga berfungsi ekologi sebagai daerah resapan air.

Gerakan konservasi alam ini dimulai sejak Selasa, 23 Januari dan dilanjutkan hari ini, Jumat, 26 Januari 2024.

Ikut aksi konservasi ini, warga masyarakat Kampung Langgo yang bergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola wisata Seribu Air Terjun dan para perangkat Desa dari  Dusun Langgo, Rangat, Tembel dan Dusun Ndengo.

Tujuan konservasi

Ketua Pokdarwis Pengelola wisata Seribu Air Terjun Desa Wae Lolos, Robert Perkasa menjelaskan bahwa topografi  bentang alam Puar Langgo, Desa Wisata Wae Lolos merupakan hulu DAS Seribu Air Terjun yang ada di Desa wisata ini.
Air yang mengalir ke sungai Wae Langgo, Wae Reha dan Wae Lolos bersumber dari kawasan Puar Langgo dan sekitarnya.

“Gerakan konservasi ini  bertujuan untuk melestarikan alam dengan segala ekosistemnya, hutan mata air, sungai, burung-burung, lahan garapan warga hingga kampung halaman. Ini sebuah ekosistem yang perlu dilestarikan agar berkesinambungan kini dan nanti”, jelas Robert Perkasa.

Ia tegaskan bahwa keindahan wisata alam Seribu Air Terjun menjadi sia-sia jika tidak dilestarikan.  Fakta menunjukkan bahwa pada musim kemarau, debit air di kawasan wisata alam Seribu Air Terjun ini dan juga debit air minum warga di kampung Langgo juga  mengalami penurunan drastis.

“Kestabilan debit air Seribu Air Terjun dan  air minum bersih sangat bergantung pada kemurahan kawasan bentang alam Puar Langgo. Menyadari hal itu, kami berkewajiban untuk melestarikannya melalui aksi konservasi menanam pohon. Gerakan konservasi ini  merupakan agenda kerja pengelola wisata Desa Wae Lolos  yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan”, ujarnya.

Kunjungan wisatawan makin ramai

Robert Perkasa menuturkan bahwa sejak Juni sampai Desember 2023, jumlah wisatawan lokal yang berwisata ke Desa Wae Lolos sebanyak 1.220 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak
480 orang. Total dana kontribusi yang dikumpulkan sebanyak 17 juta rupiah.

“Biaya kegiatan ini sesungguhnya  bersumber dari  dana kontribusi para wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata Seribu Air Terjun Desa Wae Lolos sejak Juni hingga Desember 2023”, tuturnya.

Gerakan konservasi ini juga terlaksana berkat dukungan penuh Pemkab Manggarai Barat, dalam hal ini Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kabupaten Manggarai Barat dan Persemaian modern Labuan Bajo yang telah menyiapkan anakan pohon dan didistribusikan  pada Senin, 22 Januari 2024 kemarin. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *