Hari Pers Nasional : Wartawan di Tengah Keajaiban Alam dan Adat (1)

Tanam 1000 pohon di Hari Pers Nasional ke-78. Para Wartawan PWMB saat tiba di kawasan destinasi wisata Seribu Air Terjun Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (9/2/2024). Foto/Alexandro Hattol

Labuan Bajo | Okebajo.com | Desa adalah ibu bumi. Desa menjadi tempat kembali dan berbagi. Penghormatan negara atas Desa menjadi prasyarat kunci memenangkan tantangan masa depan. Desa memiliki dinamikanya sendiri yang khas. Namun, dinamika ini kerap luput dari cakupan pemberitaan media arus utama. Desa tersisih oleh berbagai peristiwa lain yang dianggap lebih bernilai sesuai dengan kepentingan bisnis media. Desa harus bernilai. Desa harus mampu tampil ke pentas yang lebih luas (katadesa.id).

Adalah Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB) merayakan Hari Pers Nasional (HPN) ke-78 di Desa wisata Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, 8-9 Februari 2024. Para Wartawan mengunjungi Desa “Seribu Air Terjun” bersama Juru warta Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Dinas Infokom).

Mereka hadir  di sana untuk membawa Desa ke tengah arus perbincangan publik dan memperkokoh posisi Desa dalam ingatan kolektif masyarakat.  Mereka memberi ruang yang luas bagi warga Desa untuk berbicara, menyuarakan berbagai isu di lingkungan Desa dari sudut pandang Desa. Wartakanlah Desa agar tak ada yang mengabaikannya. Ini substansi refleksi PWMB sehingga memilih Kampung Langgo, Desa Wae Lolos menjadi lokasi strategis merayakan HPN ke-78 tahun ini. Para Wartawan live in selama dua hari di Kampung tua nan anggun itu. Berikut liputannya.

Kamis pagi, 8 Februari 2024, cakrawala kampung Langgo, cerah berawan.  Mentari pagi merekah dari balik punggung pegunungan  dan bentang alam Puar Langgo yang membentang hijau. Kondisi alam bersahabat ini berbalik 360 derajat pada petang hari. Mendung datang disertai kabut tipis dan hujan lebat mengepung Kampung tua itu yang berdiri kokoh di atas bukit.

Kendati demikian, warga setempat tampak ramai di sebuah rumah adat (Sekang gendang) yang terletak di ufuk Selatan Kampung itu. Di ufuk utara pintu masuk Kampung (Pa’ang) terlihat pigura berhiaskan janur pelepah daun enau dan bunga warna-warni.

Wartawan PWMB dan Infokom Mabar bersama warga Desa Wae Lolos saat menanam 1000 pohon di kawasan destinasi wisata Seribu Air Terjun, Jumat (9/2/2024). Foto/Alexander Hattol-TVRI

Di tengah keramaian itu ada tokoh-tokoh adat, ibu-ibu dan para penari Sanggar Budaya Bone Nggong berbusana adat kebaya merah dan beraksesoris Retu dan Balibelo untuk perempuan. Sedangkan penari laki-laki memakai kemeja putih, kain tenun Songke dan destar di kepala. Mereka siap menyambut kedatangan rombongan Wartawan dari kota Labuan Bajo.

Suasana serupa juga terpantau ramai di sekitar Turis Information Center (TIC), pintu masuk menuju destinasi wisata Seribu Air Terjun. Ratusan kendaraan roda dua dan mobil milik wisatawan lokal dan mancanegara tampak berjejer rapi di area parkir sekitar TIC.

Beberapa jam menunggu, tamu rombongan Wartawan PWMB pun tiba di kampung Langgo, Kamis petang sekira pukul 15.00 Wita. Mereka mengendarai
belasan sepeda motor menyusuri jalan hotmix  sejauh 1,5 KM dari Cabang Langgo hingga tiba di pintu masuk (Pa’ang) Kampung Langgo. Di sini, sejumlah tokoh adat dan warga setempat menyambut secara adat ketibaan para Wartawan. Mereka lalu mengajak tamunya masuk ke rumah adat diiringi alunan musik tradisional gong-gendang dan tarian “Sanda Lempa Golo”. Di dalam rumah adat itu, mereka duduk bersikap sembari menyapa  tamu Wartawan “Tiba/Kapu Meka) dengan ayam jantan.

Kampung Langgo

Kampung Langgo adalah Kampung pertama yang dijumpai ketika memasuki wilayah Kecamatan Sano Nggoang dari kota Labuan Bajo. Kampung ini merupakan salah satu Kampung tua dengan segala kisah dan historynya.

Kampung Langgo berdiri anggun di sebuah bukit dengan ketinggian lebih dari 700 meter dari permukaan laut. Ada puluhan rumah warga berdiri berjejer di puncak bukit ini Selebihnya berada di kaki bukit. Kawasan hutan ulayat “Puar Langgo” dan kontur pegunungan  serta lahan perkebunan membentang hijau di sekelilingnya.

Di bagian utara Kampung ini (pintu masuk), kita bisa melihat deretan kubur yang tertata rapi. Keluarga mereka yang telah meninggal baik yang beragama Katolik maupun Islam dikuburkan di Tempat Pekuburan Umum (TPU) Langgo. Tersirat dari tata letak kuburan tersebut bisa diketahui bahwa warga di Kampung ini sangat menghargai kamajemukan dan keberagaman. Toleransi antarumat beragama juga dipertegas dengan letak tempat ibadah mereka yang berdiri saling berhadapan sekitar ratusan meter jarak Kapela dengan Masjid.

Setelah ditelusuri, ternyata mereka berasal dari satu garis keturunan, yakni Suku Mawu. Leluhur orang Langgo berasal dari Mawu, Ndoso. Leluhur pertama mereka bernama “Empat Telo”. Jejak sejarah tentangnya masih ada, yakni kuburnya berada di tanah ulayat mereka Lingko Rebong antara Kampung Tembel dan Kampung Ndengo. Dua Kampung ini merupakan anak Kampung pemekaran dari Kampung Langgo.

Di bagian utara tampak sebuah rumah adat berdiri menjulang tinggi. Di depan rumah adat itu sebuah Compang adat yang sakral dan dijaga (altar sesajian saat menggelar ritual adat). Compang itu tersusun batu-batu alam yang dipilih dan tertata  rapi. Kampung ini diapiti tiga anak sungai, Wae Langgo di bagian timur dan Wae Reha dan Wae Lolos di bagian barat. Terdapat pula sejumlah sumber mata air di kawasan hutan ulayat mereka yang terbentang hijau tidak jauh dari Kampung itu. Selain ketiga anak sungai tersebut, masih banyak lagi anak sungai yang terbentang meliuk-liuk sepanjang wilayah desa ini hingga bertemu dengan anak sungai lainnya dari wilayah desa tetangga.

Destinasi wisata “Seribu  Air Terjun” yang sedang viral  dan ramai pengunjung- dibahas pada bagian selanjutnya- berada di  tiga sungai tersebut.

Desa Wae Lolos

Nama Desa ini diadopsi langsung dari nama sebuah sungai, Wae Lolos yang ada di wilayah desa ini.  Luas wilayah Desa Wae Lolos mencapai 12,1 km2 dan wilayahnya berada pada ketinggian lebih dari 700 dari permukaan laut.
Desa Wae Lolos merupakan pintu gerbang dari Labuan Bajo menuju Kecamatan Sano Nggoang. Jarak dari Labuan Bajo ke Desa Wae Lolos mencapai 32 km yang dapat ditempuh selama 1 jam menggunakan kendaraan.

Wartawan PWMB dan Infokom Mabar bersama warga Desa Wae Lolos saat menanam 1000 pohon di kawasan destinasi wisata Seribu Air Terjun, Jumat (9/2/2024). Foto/Alexander Hattol-TVRI

Desa ini merupakan pemekaran dari Desa Induk, yakni Desa Cunca Lolos. Pemekaran wilayah Desa Cunca Lolos sekitar tahun 1997 silam. Desa pemekarannya diberi nama Desa Wae Lolos. Nama Desa Cunca Lolos sebagai Desa induk diadopsi dari nama air terjun Cunca Lolos yang berada di wilayah Desa Wae Lolos.

Secara administrasi, Desa ini berada di wilayah Kecanatan Sano Nggoang. Sedangkan Desa Cunca Lolos masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Mbeliling (Kecamatan Mbeliling merupakan pemekaran dari Kecamatan Sano Nggoang sekitar tahun 2011).

Hampir seluruh warga di Desa ini berprofesi sebagai petani.  Selain memiliki potensi ekowisata menjanjikan, Desa ini juga penghasil komoditi cengkeh, kemiri,  kakao, vanili.

Wilayah Desa ini memiliki kawasan hutan ulayat masyarakat adat yang lebat didukung topografinya yang berbukit-bukit, lembah dan lereng. Desa ini ditopang oleh 6 anak Kampung, yakni Langgo, Mbuhet, Wae Reha, Rangat, Tembel dan Ndengo. Jarak antara Kampung cukup jauh hingga berkilo-kilo meter. Desa ini dihuni 400 Kepala Keluarga atau 700 jiwa penduduk tersebar di 4 Dusun, Dusun Langgo, Rangat, Tembel dan Dusun Ndengo.

Desa ini berbatasan dengan Desa Cunca Lolos dan Desa Waktu Galang (Kecamatan Mbeliling), bagian timur dan utara. Sedangkan bagian barat dan selatan berbatasan dengan Desa Golo Ndaring dan Desa Golo Kondeng.

Ruas jalan Kabupaten menuju Werang ibunya Kecamatan Sano Nggoang hingga Danau Sano Nggoang terbentang meliuk-liuk di wilayah Desa ini. Namun kondisi ruas jalan itu, kini sudah rusak parah dan sulit dilintasi kendaraan. Padahal sebelumnya, menjadi jalan alternatif mempersingkat mobilitas warga dan wisatawan dari dan menuju ibu kota Kabupaten Manggarai Barat.

Desa wisata Wae Lolos

Desa ini juga menjadi salah satu dari 68 Desa Wisata di Kabupaten Manggarai Barat atau satu dari 6 Desa wisata yang ada di Kecamatan Sano Nggoang berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor :  27/KEP/HK/2020 Tentang Perubahan Keputusan Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula Nomor : 90/KEP/HK/2019 Tentang Penetapan Desa Wisata di Kabupaten Manggarai Barat, tanggal 23 Januari 2020.

Selain itu, Desa Wae Lolos juga merupakan salah satu dari 16 Desa yang ditetapkan oleh Burung Indonesia menjadi Desa penopang kawasan Bentang Alam Mbeliling.

Desa ini memiliki banyak destinasi wisata alam nan unik dan berdaya pikat luar biasa. Selain wisata alam air terjun, juga ada wisata budaya dan tempat wisata rohani.   Jalur trakking terbaik di Kabupaten pariwisata Manggarai Barat  hanya ada di Desa wisata tersebut. bersambung…

Robert Perkasa

Jangan lupa baca berita menarik dari Oke Bajo di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *