Selain Pulau Komodo, Ini Spot Wisata Healing Paling Gacor di Pegunungan Labuan Bajo

Selain Pulau Komodo, Ini Spot Wisata Healing Paling Gacor di Pegunungan Labuan Bajo
Kolam di atas awan. Foto/Okebajo.com

Okebajo.com, – Tidak dapat dipungkiri bahwa Pulau Komodo adalah destinasi yang menakjubkan, tetapi bagi yang mencari pengalaman yang lebih mendalam dan terpencil, Pegunungan Labuan Bajo menawarkan spot-spot wisata healing yang tak kalah menarik.

Menghabiskan waktu liburan di tempat yang sunyi dan menenangkan adalah impian banyak orang. Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan kota, wisatawan mencari tempat untuk melepaskan penat dan mendapatkan ketenangan.

Mari kita telusuri lebih jauh tentang spot-spot wisata healing paling gacor yang bisa Anda temui di tengah keindahan Pegunungan Labuan Bajo.

Desa Wae Lolos, yang dikenal sebagai “Seribu Air Terjun”, merupakan destinasi ideal untuk mencari kedamaian di tengah alam pegunungan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Wisatawan yang berkunjung ke Desa Wae Lolos bukan hanya mencari keindahan alam, tetapi juga ingin menemukan tempat untuk bersantai dan melakukan aktivitas healing. Desa ini menawarkan lebih dari sekadar spot-spot indah; di sini, Anda dapat menemukan momen untuk merenung, menenangkan diri, dan memberikan perawatan diri yang bernilai.

Bagi wisatawan yang suka berlibur (staycation) di destinasi bernuansa alam nan pesona, asri, dan instagramabel, Desa wisata seribu air terjun Wae Lolos jadi rekomendasi yang sangat cocok buat liburan Anda bersama keluarga.

Di Desa ini, tak hanya bisa beristirahat sembari menikmati pemandangan yang memanjakan dan menyegarkan mata, hati dan pikiran Anda, wisatawan juga bisa melakukan banyak aktivitas petualangan lainnya, healing, trekking, hiking, camping dan lain-lain.

Bagaimana tidak. Sekali berkunjung, Anda dapat menikmati pesona seribu air terjun dalam satu bentangan alam. Air yang mengalir jernih dari alam pegunungan membentang hijau. Masing-masing spot yang ada di sana memiliki daya pikat dan daya jelajah yang menyenangkan.

Awal tahun 2023, Pokdarwis Desa Wae Lolos bekerja sama dengan Kampus Politeknik elBajo Commudus dan Pemerintah Desa telah melakukan penataan aksesibilitas jalur tracking. Penataan jalan setapak dan jembatan kayu di titik-titik rawan agar wisatawan nyaman.

Penataan aksesibilitas dilakukan sepanjang 1000 meter dari akses jalan masuk hingga lokasi seribu air terjun. Jalur trekking sepanjang itu menyusuri kawasan hutan belantara dengan medan yang cukup memacu adrenalin.

Panorama alam pegunungan yang memanjakan mata. Berjuta pohon dengan ranting-rantingnya menjuntai di sepanjang jalan dan bunga anggrek hutan tumbuh subur.

Kesejukan alam dengan segala keragaman flora fauna sepanjang jalur tersebut menambah energi positif dan pengalaman petualangan yang berkesan.

Ada beberapa spot destinasi wisata alam dengan karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Dimulai dari air terjun Cuaca Meleng, Cunca Plias, Cunca Tiwu Galong, Cunca Ri’i, Gua Langgo, Cunca Liang Langgo, Cunca Wene, Cunca Wongka/Cunca Niki, Cunca Wae Reha, Cunca Lolos, Bukit Toto Ninu, perkampungan adat Rangat hingga sumber air panas Wae Lua.

Berikut rekomendasi 15 spot wisata healing paling gacor saat liburan di pegunungan Labuan Bajo.

1. Air terjun Cunca Meleng

Air terjun Cunca Meleng. Foto/Okebajo.com

Spot pertama yang Anda jumpai adalah air terjun Cunca Meleng. Letaknya dekat area perkebunan warga setempat.

2. Air terjun Cunca Pilas I

Air terjun Cunca Pilas I. Foto/Okebajo.com

Cunca Pilas menyuguhkan panorama alam yang unik. Air terjun ini mengalir dari celah-celah batu alam. Kolamnya mungil di bawah rimbunan pepohonan. Selain keunikan alamnya, Cunca Plias ternyata memendam kisah historis sebagai tempat pemandian orang-orang sakit oleh tabir atau dukun yang memiliki kesaktian khusus. Warga setempat menyebutnya “ata mbeko” (dukun).

Dahulu kala sebelum ada rumah sakit dan petugas kesehatan, warga setempat yang menderita sakit atau penyakit ditolong oleh dukun. Para pasiennya yang telah sembuh dimandikan secara ritual “pilas” di muara (cunga) sungai dekat air terjun itu. Itu sebabnya air terjun itu diberi nama Cunca Plias. Plias artinya penyembuhan sakit dan penyakit.

3. Air terjun Cunca Pilas II

Air terjun Cunca Pilas II. Foto/Okebajo.com

Lokasi air terjun ini berdekatan dengan Cunca Plias I. Air terjun ini mengalir pada kontur tebing batu yang lebar.

4. Air terjun Tiwu Galong

Air terjun Tiwu Galong. Foto/Okebajo.com

Tidak jauh dari Cunca Plias, terdapat air terjun Cunca Tiwu Galong. Air terjun ini tidak kalah uniknya dengan Cunca Plias dan memiliki kisah historisnya sendiri. Konon kisahnya, pada zaman penjajahan Belanda, para menir selalu mandi di kolam (tiwu) Cunca Galong. Dinamakan Tiwu Galong karena memiliki cekungan yang sangat dalam di antara dua batu berukuran besar. Airnya jernih dan sejuk.

5. Kolam di atas awan

Kolam di atas awan. Foto/Okebajo.com

Satu lagi spot wisata alam yang ada di Desa ini, yakni “kolam di atas awan”. Letaknya sekitar 650 meter dari Kampung Langgo. Kolam ini menyerupai danau yang mungil dan teduh dalam sebuah cekungan batu alam di kedua sisinya.

Kolam ini berada di tengah rindangan pepohonan. Di beranda kolam tampak terbuka sehingga sinar matahari langsung tancap ke permukaan kolam.

Bisa jadi karena pantulan cahaya, kolam ini selalu berubah warna setiap waktu, tergantung cuaca. Siang hari, kolam ini berwarna biru langit karena cakrawala raja siang memendarkan cahaya ke atas permukaan kolam.

Mandi atau duduk santai di beranda kolam ini serasa berada di atas awan. Asyik. Di tengah kesunyian dan gemercik air, Anda leluasa menikmati keindahan panorama alam pegunungan yang membentang hijau sejauh mata memandang.

Ranting-ranting pepohonan menjuntai. Bunga-bunga anggrek hutan mendekorasi latar kolam ini. Sangat romantis. Dedaunan rindang menyelubungi cekungan batu yang sedang mencumbui bibir kolam menambah daya tarik bagi pengunjungnya.

6. Air terjun Cunca Ri’i

Air Terjun Cunca Rii. Foto/Okebajo.com

Tetapi jangan lengah. Di balik pemandangannya yang menakjubkan, kolam di atas awan ini sangat rawan bahaya. Sebab di beranda kolam itu, air terjun membuncah tegak lurus setinggi puluhan meter.

Sebelum air jatuh ke jurang dalam, limpasan air dari kolam itu berputar ke anak kolam yang berada di mulut jurang. Limpasan air dari kolam di atas awan terjun bebas ke jurang inilah dinamakan Cunca Ri’i. Cunca (air terjun), Ri’i (alang-alang).

Yang unik dari air terjun ini, kolamnya terletak di atas ubun-ubun air terjun. Di dasar air terjun hanya tampak batu-batu besar yang sangat licin. Hal ini tentu berbeda dengan air terjun di tempat lain.

Keunikan lainnya. Pelangi “tumbuh” tiap hari di air terjun ini. Apabila Anda ingin mandi di kolam atau di air terjun ini, sebaiknya siang hari sekitar pukul 10.00 Wita hingga pukul 13.00 Wita. Lewat jam tersebut tidak boleh !

Kode alamnya, kalau pelangi hilang, kami sarankan Anda segera tinggalkan lokasi itu.

Kolam di atas awan dan air terjun Cunca Ri’i menjadi spot baru yang tersembunyi di tengah hutan belantara. Spot wisata yang satu ini jadi iconik Desa wisata “seribu air terjun” Wae Lolos. Sangat bersih dan jernih.

Bagi Anda yang suka petualangan, spot ini menjadi pilihan healing yang tepat saat Anda staycation di Desa wisata Wae Lolos.

7. Air terjun Liang Langgo I

Air Terjun Liang Langgo I.

Setelah Anda menikmati keindahan kolam di atas awan, spot berikutnya adalah air terjun Liang Langgo I.

8. Air terjun Liang Langgo II

Cunca Liang Langgo II

Kedua air terjun ini letaknya berdekatan dengan gua batu raksasa (liang). Kedua air terjun itu menjadi lokasi pemandian para leluhur mereka menimba kesaktian saat berperang. Mereka bertapa di hutan rimba.

9. Gua batu raksasa (Liang Langgo)

Gua batu raksasa (Liang Langgo)

Di sekitar air terjun itu ada sebuah gua batu alam (liang) raksasa yang unik. Gua ini memendam kisah histori terkait leluhur orang Langgo dengan segala peradabannya di masa lalu.

Dahulu kala, gua batu ini merupakan benteng pertahanan nenek moyang warga masyarakat setempat. Pada zaman penjajahan Belanda, leluhur mereka bersembunyi dan tinggal di situ.
Jejak-jejak peradaban leluhur mereka di masa lampau masih tersirat jelas di gua batu tersebut.

Konon kisahnya, nenek moyang mereka gemar berburu rusa, babi hutan dan hewan lainnya untuk bahan makanan sehari-hari. Selama berburu, tidur berminggu-minggu di dalam gua batu yang berdiri kokoh di tengah hutan lebat.

Daging rusa, babi hutan hasil buruan diawetkan secara tradisional “cuing” (pengasapan) di gua tersebut sebelum mereka kembali ke Kampung Langgo.

Selain itu, pada zaman penjajahan Belanda, gua itu dan beberapa gua lainnya dalam kawasan hutan menjadi tempat yang nyaman untuk mereka bersembunyi dari ancaman penjajahan Belanda.

Di gua itu pula mereka menyusun strategi perang melawan penjajah. Namun seiring perkembangan, jejak-jejak masa lalu, mini tak teramat dengan baik.

Kini, gua batu ini dijadikan sebagai tempat teduhan sementara bagi warga Langgo ketika mereka berada di tengah hutan mencari kayu bakar atau mencari obat ramuan tradisional (daun atau akar kayu tertentu).

Lihat sepintas, gua ini angker rasanya. Gua batu ini tampak gelap. Di mulut gua terdapat onggokan batu. Di langit-langit gua terlihat hitam pekat bekas asap api.

Gua ini menjadi istana kelalawar berbulan madu. Di langit-langit gua banyak ditemukan sarang kelalawar.

Luas gua ini bisa menampung belasan orang dewasa. Dari jarak pandang puluhan meter, gua tersebut tampak sayup-sayup. Batu berukuran besar itu terbalut akar-akar pohon kayu serta tali-temali menjuntai hingga ke mulut gua. Gua ini berjarak 975 Km dari Kampung Langgo.

10. Air terjun Cunca Wene

Air terjun ini tidak kalah uniknya dengan air terjun sebelumnya. Dinamakan Cunca Wene (pinang) karena di sekitar air terjun itu terdapat rimbunan pohon pinang yang tumbuh di hutan.

11. Air terjun Cunca Wongka

Air terjun Cunca Wongka. Foto/Okebajo.com

Sekitar 65 meter dari gua batu, Anda menemukan air terjun berikutnya, Cunca Wongka namanya. Cunca Wongka berada di bawah rindangan pepohonan yang sangat rapat. Air terjun ini mengalir pada celah batu mirip palungan sepanjang puluhan meter.

Di ujung palungan itu terdapat sebuah kolam yang dalam dan diapit dinding batu yang terjal dan sangat curam.

Pada kedua sisi tebing kolam tampak dua cekungan gua yang gelap. Gua tersebut ternyata istana ribuan kelalawar. Itu sebabnya warga setempat menamai air terjun ini Cunca Wongka atau Cunca Niki.

Air yang jatuh menghantam dinding bebatuan dan genangan air kolam di bawahnya menimbulkan gelombang seperti ombak laut di tengah hutan.

Air terjun ini unik dan sangar. Namun di tengah kesunyianya, Anda terhibur saat ribuan kelalawar terbang ke sana kemari di langit-langit air terjun itu. Uniknya, pada musim hujan, ribuan kelalawar berkelana entah ke mana. Pada musim kemarau kembali menghuni istana gua air terjun itu.

Keunikan yang lain. Kontur air terjun ini tidak bisa dilihat secara utuh, kecuali Anda punya keahlian untuk memanjat tebing atau pohon kayu yang tumbuh di tepi tebing batu yang curam.

Camera Anda hanya dapat memotret sebagian obyek air terjun. Memakai pesawat drone sekalipun sangat berisiko karena air terjun ini diselubungi pepohonan nan lebat dan rapat.

12. Air terjun Wae Reha

Tidak jauh dari Cunca Wongka, Anda melintasi lereng sekira 50 meter. Di ujung lereng, Anda kemudian menyusuri tangga batu beraneka warna yang berada di sepanjang muara (cunga) Wae Langgo dan Wae Reha. Di ujung tangga batu itu terdapat air terjun Cunca Wae Reha yang mengalir tenang. Kolamnya tidak seberapa luas tapi sangat seksi dan memanjakan mata.

13. Air terjun Cunca Lolos

Air terjun Cunca Lolos. Foto/Erwin Ramin

Air terjun berikutnya adalah Cunca Lolos. Dari Cunca Wae Reha sekira 500 meter. Menuju air terjun Cunca Lolos, Anda harus menerobos medan yang sangat ekstrim dan lereng terjal. Namun pepohonan yang tumbuh rapat sepanjang jalan terjal itu jadi tumpuan Anda agar tidak jatuh terpleset.

Cunca Lolos mengalir dari bentangan sungai Wae Lolos. Jika dibanding dengan air terjun sebelumnya, Cunca Lolos terletak terpisah dari air terjun lainnya dan lebih dekat dengan ruas jalan raya Langgo-Werang.

Cunca Lolos memiliki panorama tak kalah uniknya. Air terjun ini mengalir pada kontur tebing batu setinggi 100 meter. Pada dinding batu berwarna kuning dan berlumut hijau ini terdapat banyak gua, istana burung endemik Flores, seperti Elang Flores. Hanya sayangnya Burung raksasa ini tidak tampak setiap saat. Hanya saat tertentu saja. Biasanya bulan Oktober, burung Elang Flores ini keluar dari istana persembunyiannya.

Cunca Lolos terletak di tengah hutan. Sunyi namun asyik. Alam sekitarnya tenang. Jauh dari bising keramaian. Bebas polusi.

Airnya jernih, segar, dan udaranya sejuk karena dilingkungi pepohonan tinggi dan rimbun. Gemercik air yang membuncah di tebing batu seolah-olah menyapa pengunjungnya. Di kaki air terjun ini terdapat kolam renang yang cukup luas. Demikian juga di sekitar kolam, batu-batu besar tempat duduk pengunjung telah ditata apik.

Menuju air terjun ini dapat dijangkau dengan mudah kalau dari jalan raya Langgo-Werang. Masuk dari cabang dekat rumah warga kampung Tembel kemudian melintasi jalan setapak yang membelah hutan mahoni dan kemiri milik warga setempat. Jaraknya sekira ratusan meter dari jalan raya.

Sebelum tiba di air terjun ini, mata Anda dimanjakan dengan pemandangan terasering persawahan. Di antara petak-petak sawah itu kini tersedia kolam ikan Nila dan kantin kopi bapak Fransiskus Sehidi.

Di kantin ini tersaji kopi panas dan ubi rebus. Jika kembali dari air terjun Cunca Lolos, mampirlah di kantin dekat sawah itu sambil seruput kopi asli (kopi tumbuk) dan makan ubi rebus.

Semua spot wisata alam yang dipaparkan di atas berada dalam tiga bentang anak sungai dalam satu kawasan hutan ulayat masyarakat setempat.

Sungai ini tipe sungai perennika. Tipe Perennika adalah aliran dasar yang berasal dari aliran air tanah kemudian mengalir pada DAS yang sangat baik yang masih mempunyai hutan lebat.**

Jangan lupa baca berita menarik dari Oke Bajo di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *