Jalan dari Desa Wajur ke Desa Golo Riwu-Kuwus Barat Tertimbun Longsor, Butuh Alat Berat

Bencana alam tanah longsor dan angin kencang yang terjadi di Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat, Manggarai Barat, NTT pada Sabtu, (24/2/2024). Foto/Edo

Labuan Bajo | Okebajo.com | Bencana alam longsor melanda Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat,  Kabupaten Manggarai Barat. Sejak kejadian, Kamis, 24 Februari 2024 hingga saat ini belum ada penanganan.

Kepala Desa Golo Riwu, Edo Mense kepada media ini menjelaskan kejadian itu  akibat hujan deras beserta angin kencang yang terjadi pada Sabtu, 24 Februari 2024. Longsor terjadi di beberapa titik ruas jalan daerah yang menghubungkan antara Desa Wajur dan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus.

“Ada 1 titik longsor di jalur akses utama jalan daerah yang menghubungkan antara Desa Wajur dan Desa Golo Riwu. Untuk sementara di jalur tersebut hanya kendaraan roda dua saja yang bisa lewat, sementara kendaraan roda empat belum bisa dilalui,” ungkap Edo

Ia menjelaskan bahwa penanganan swadaya masyarakat bersama Pemerintah Desa setempat bergotong royong membuka akses jalan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua.

“Kami pemerintah desa berinisiatif mengerahkan warga untuk bergotong royong membersihkan material longsor berupa batu dan pohon yang tumbang hanya dengan menggunakan peralatan seadanya,” jelasnya.

Titik longsor lainnya terdapat di jalan utama menuju SDI Wetik, SMP Negeri 1 Kuwus Barat dan Kapela Stasi Wetik.

“Ada satu titik longsor juga tepat di jalan menuju lembaga pendidikan SD dan SMP dan juga menuju Kapela Stasi Wetik,” jelasnya

Rumah warga ambruk

Kades Edo mengatakan, dampak  bencana tidak hanya  merusakkan infrastruktur jalan. Ada satu dapur rumah warga yang ambruk akibat angin kencang yang terjadi di Dusun Masing, Desa Golo Riwu dan satu rumah gendang Ngalo Wetik.  Atap dan dinding rumah gendang rusak semua.

Pemerintah Desa, kata Edo, telah melaporkan kejadian ini kepada pihak terkait. Namun Tim kaji cepat BPBD Kabupaten Manggarai Barat belum terjun ke lokasi.

“Sebelumnya saya sudah pernah lapor ke dinas bencana alam tapi tidak ada realisasi, dan untuk yang bencana susulan belum kami laporkan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pada tahun 2023 lalu longsor terjadi tiga kali di lokasi yang sama dan dua  kali terjadi awal tahun 2024.

“Lokasi tersebut memang rawan bencana longsor, butuh penanganan khusus dari pemerintah daerah.
Karna desa hanya mengandalkan tenaga manusia dan bekerja semampu kita,” cetusnya

Butuh alat berat

Edo mengatakan, penanganan darurat di lokasi bencana membutuhkan alat berat. Tidak bisa dikerjakan secara manual oleh warga masyarakat.

“Kami membutuhkan alat berat untuk membuka kembali akses jalan. Tidak bisa hanya dengan  swadaya masyarakat, karena volume longsor besar”, ungkap Edo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *