Kehadiran Transportasi Online Grab Ditolak Masyarakat Peduli Transportasi Wisata di Labuan Bajo

Kehadiran Transportasi Online Grab Ditolak Masyarakat Peduli Transportasi Wisata di Labuan Bajo
Masyarakat Peduli Transportasi Wisata Labuan Bajo (MILITAN). Foto/Okebajo

Labuan Bajo, Okebajo.com, Kehadiran layanan transportasi online seperti Grab di destinasi pariwisata Labuan Bajo mendapat penolakan keras dari Masyarakat Peduli Transportasi Wisata Labuan Bajo. Dalam pernyataan yang disampaikan oleh Jhon Dacosta, Koordinator MILITAN (Masyarakat Peduli Transportasi Wisata Labuan Bajo), pada Senin (8/4/2024), terungkap bahwa penolakan ini didasari oleh pertimbangan mendalam atas dampak potensial yang akan ditimbulkan.

Adapun pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar penolakan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Labuan Bajo merupakan destinasi pariwisata utama di Indonesia, yang terkenal akan keindahan alamnya yang mempesona. Karenanya, Labuan Bajo bukanlah kota yang seharusnya menjadi pusat industri transportasi, melainkan lebih layak dijaga sebagai kota wisata yang nyaman dan terjaga keasriannya.

2. Dalam konteks transportasi, digitalisasi harus mengarah pada pengembangan sistem transportasi
yang lebih baik dan berkelanjutan. Ini mencakup pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan operasional transportasi, menyediakan layanan yang lebih terjangkau dan mudah diakses, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Namun, perlu dicatat bahwa transportasi berbasis online seperti Grab bukanlah satu-satunya solusi transportasi digital yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Labuan Bajo.

3. Keberadaan layanan transportasi online Grab dalam jangka panjang diperkirakan akan memicu
kemacetan yang signifikan dan lonjakan jumlah kendaraan bermotor. Hal ini akan berpotensi merusak keadaan lalu lintas yang sudah teratur dan mengganggu kenyamanan wisatawan maupun masyarakat lokal.

4. Lonjakan jumlah kendaraan bermotor yang akan ditimbulkan oleh layanan transportasi online Grab dapat meningkatkan polusi udara di Labuan Bajo. Dampak buruk dari polusi udara ini akan berpotensi merusak ekosistem dan kesehatan masyarakat setempat.

5. Adanya peningkatan aktivitas kendaraan bermotor juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan
tingkat kriminalitas di Labuan Bajo. Lonjakan jumlah kendaraan membuka peluang bagi kegiatan kriminal seperti pencurian, perampokan, dan tindak kejahatan lainnya.

6. Dalam situasi kemacetan, tingkat stres yang dialami oleh penduduk dan pengunjung Labuan Bajo akan meningkat. Hal ini akan mengurangi kualitas pengalaman wisata dan menciptakan dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat.

7. Infrastruktur transportasi di Labuan Bajo masih belum memadai untuk menangani lonjakan jumlah kendaraan bermotor. Kondisi jalan yang sempit dan minimnya fasilitas parkir akan semakin diperparah dengan kehadiran layanan transportasi online Grab dan sejenisnya.

Jhon menejelaskan bahwa digitalisasi transportasi di Labuan Bajo harus bertujuan untuk memberikan solusi yang holistik dan sesuai dengan kebutuhan lokal, sambil memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini membutuhkan kerjasama antara pemerintah daerah, pelaku industri, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan bersama yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.

Terkait adanya isu banyak Wisatawan tak nyaman dengan transportasi di Labuan Bajo pihaknya memiliki pandangan yang berbeda.

Jhon menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memberikan layanan transportasi yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan serta kenyamanan para wisatawan yang mengunjungi Labuan Bajo.

“Sebagai pelaku transportasi di destinasi pariwisata super prioritas, kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kami melalui pemeliharaan kendaraan, pelatihan kepada pengemudi, serta investasi dalam teknologi dan sistem manajemen yang lebih baik. Kami memahami betapa pentingnya peran transportasi yang nyaman dan aman dalam mempengaruhi pengalaman wisatawan selama berlibur di Labuan Bajo,” tegas Jhon

Ia menambahkan bahwa secara rutin pihaknya mendapatkan umpan balik dari para pelanggan, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara, dan berupaya secara aktif untuk memperbaiki layanan berdasarkan
masukan yang diberikan. Namun, pihaknya juga menyadari bahwa tidak semua wisatawan mungkin memiliki pengalaman yang sama, dan pihaknya juga selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran yang membangun untuk terus meningkatkan kualitas layanan.

“Kami percaya bahwa dengan kerja sama antara pihak operator transportasi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, kami dapat terus mengembangkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang ramah, nyaman, dan berkesan bagi semua pengunjung. Tentu, kami sangat menghargai perhatian dan komitmen dari masyarakat peduli transportasi terhadap pembangunan sistem transportasi yang baik di Labuan Bajo. Kami sepenuhnya terbuka untuk berdiskusi dan berkolaborasi dengan semua pihak yang tertarik untuk meningkatkan layanan transportasi di kota ini,” terangnya

Lebih lanjut Jhon menuturkan bahwa pihaknya percaya partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses perencanaan dan pengembangan sistem transportasi sangatlah penting.

“Dengan bersama-sama, kami dapat mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat dan pengunjung Labuan Bajo,” tutupnya

Respon (9)

  1. Walaah saya kira itu pasti timbul dari rasa kekhawatiran yg berlebih kalau jasa transportasi di labuan bajo akan didominasi oleh jasa transportasi online seperti grab. Alasan mereka tidak berdasar sama sekali

  2. bener bang,buat apa aplikasi gak jelas kaya grab dan gojek yang memanfaatkan masyrakat jadi babu aplikator, jangan sampai masuk 2 aplikator tai

  3. Lucu banget ya… Mau ketawa nih membacanya. Menolak perubahan zaman. Padahal sebuah keniscayaan aplikasi seperti Grab Gojek sangat dibutuhkan masyarakat. Alasan yg dibuat dibuat. Gak masuk akal. Pembodohan masyarakat.

  4. Bagus tolak ajah… Di awal doang di iming imingin pendapatan bagus… Kesini kesini di isep darah… Pemerintah ajah gak bisa apa apa

  5. Salam pramuwisata ! Saya sangat setuju ketika kita semua berkomitmen agar daerah labuan bajo menjadi maju. Semua orang membutuhkan pelayanan prima. Kalau selama ini transportasi bandara Tidak nyaman Siapa yg bertanggung jawab tentang hal itu? Kalau yg selama ini sistim yg dipakai convensional maka dibutuhkan sistim digitalisasi ini perlu dukungan dari pemerintah daerah agar semua pelaku bisa mendapatkan dampak positif dari kegiatan kepariwisataan. Jangan terlalu cepat menerima kehadiran dari pelaku usaha luar yg bertujuan mengambil keuntungan di daerah kita. Menjadi tugas pemerintah adalah mensejahterakan masyarakat. Semoga bermanfaat.

  6. Kalau polusi masalahnya, tetapkan saja bhw kendaraan Grab harus menggunakan mobil// motor listrik. Beres???

  7. Saya sangat setuju..contoh misal di Bali..online Harga ya sangat murah..cukup di Bali Saja..untuk daerah lain jangan boleh online masuk..Kita sudah di bodohi sma taxi berbasis online

  8. Gw sebagai driver ojol…menyerukan tolak aja..aplikasi kaga bener…klo sampe masuk bisa merusak tatanan yg ada
    Sebelum memperluas …sebaiknya benerin dulu ojol yg udah ada..pikirin dulu nasib para ojol…jangan cuma mau ngeruk keuntungan aja…
    Kata nya mitra..ko banyak aturan…kaya pegawai aja
    Mending jaman dulu ngopang bebas waktu
    Sekarang klo ojol bebas waktu tapi anyep
    Harus on dari subuh ampe tengah malem baru bisa bawa duit…sedih ini fakta di jln …seperti kerja paksa
    Gk seindah dulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *