TKBM Beroperasi di Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu

Terminal Multipurpose Labuan Bajo. Foto/net

Labuan Bajo | Okebajo.com | Angin segar. Para buruh yang bergabung dalam wadah Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Tacik Mori Ata Ngaran Pelabuhan Labuan Bajo mulai Maret 2023 resmi beroperasi di pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu.

Sebelumnya, mereka hanya diizinkan melakukan kegiatan bongkar muat barang campuran dan curah di pelabuhan Labuan Bajo. Padahal, barang-barang cargo, kontainer, roro adanya di pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu.

Mari kita lihat data ini

Tahun 2020, jumlah kapal yang dilayani sebanyak 206 unit. Tahun 2021 sebanyak 182 unit. Tahun 2022 hanya 71 unit.

Tahun 2020, jumlah TKBM yang digunakan sebanyak 3.090 orang. Tahun 2021 sebanyak  2.730 orang. Tahun 2023 turun drastis 1.065 orang.

Total Pendapatan Upah tahun 2020 sebesar Rp2.734.281.251. Tahun 2021 sebesar Rp2.385.158.265.  Tahun 2023 menurun lagi Rp1.122.710.770.

Grafik penurunan ini terjadi akibat sebagian kegiatan bongkar muat diekspansi ke pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu per 1 Januari 2022. Barang-barang kapal cargo, kontainer, roro adanya di sana.

Di pelabuhan Labuan Bajo hanya kegiatan bongkar muat barang campuran.

Padahal, salah satu bidang usaha TKBM ini adalah unit usaha jasa bongkar muat pelabuhan.

Jadi, sejak  pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu beroperasi, sumber pendapatan para buruh TKBM Pelabuhan Labuan Bajo semakin menurun.

Terkait hal itu, Wartawan Okebajo.com mewawancarai Kepala Kesyahbandaran dan Ororitas Pelabuhan Labuan Bajo, Capten Hasan Sadili saat menghadiri Rapat Akhir Tahun (RAT) perdana Koperasi TKBM Tacik Mori Ata Ngaran Pelabuhan Labuan Bajo di Restaurant Primarasa, Labuan Bajo, Selasa (21 Maret 2023).

Hasan Sadili  menjelaskan bahwa penataan infrastruktur pelabuhan Labuan Bajo  memisahkan antara pelabuhan  untuk penumpang dan wisata dengan pelabuhan untuk bongkar muat barang.

Barang kapal kontainer, cargo curah, tengker ditambah lagi yang pindah ke  pelabuhan Multipurpose itu ada Roro yang muat mobil-mobil besar. Ini semua  sudah tidak bisa lagi di existing di pelabuhan Labuan Bajo karena telah ditata jadi kawasan Waterfront Marina.

“Nah awalnya, keseluruhan kegiatan bongkar muat itu kan yang melayani itu adalah Koperasi Tacik Mori Ata Ngaran Pelabuhan Labuan Bajo yang dulunya itu Koperasi Komodo. Jadi seluruh pendapatan mereka dobel ada dari curah, kontainer, roro, cargo dan lain sebagainya.

Namun per 1 Januari 2022, piur murni pelabuhan terminal Multipulporse sudah beroperasi secara keseluruhan. Jadi sesuai dengan rencana induk pelabuhan Multipurpose itu untuk seluruh cargo dan kontainer”, jelas Hasan Sadili.

Hasan mengakui, pemindahan kegiatan bongkar muat cargo dan kontainer dari pelabuhan Labuan Bajo ke pelabuhan Multipurpose berdampak menurunnya pendapatan para buruh anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Labuan Bajo.

“Otomatis yang menjadi pendapatannya mereka saat ini cuman barang Pera. Pera itu kebanyakan barang-barang campuran. Adapun barang-barang curah kayak semen sama beras itu sangat jarang. Dan itu waktu bongkar dengan waktu pelayanan mereka tidak seimbang”, jelas Capten Hasan Sadili menyebut

Ia menyebut contoh. Bongkar muat  barang campuran seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu 3-4 hari. Tapi faktanya bisa selesai sampai 10 hari.

Kenapa? Karena pemilik barang Pera itu berbeda-beda, ada yang dari Bajo, Lembor dan ada juga dari Ruteng. Sehingga konsentrasi kendaraan yang menjemput barang di pelabuhan juga kurang fokus dan kurang banyak.

Pindah ke pelabuhan Multipurpose

Tahun 2022, Capten Hasan Sadili mengambil langkah terobosan. Memindahkan kegiatan anggota koperasi TKBM  ke Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu.

Langkah terobosan ini dilakukan seiring dengan penataan terminal Multipurpose dan berdasar pengalaman, aspirasi para anggota koperasi TKBM Pelabuhan Labuan Bajo.

“Seiring pula dengan penataan ini maka sebelum tahun 2022, saya sudah menyampaikan kepada teman-teman TKBM bahwa saya akan operasionalkan mereka di terminal Multipurpose Wae Kelambu hanya dengan catatan ; seluruh perlengkapan K3 harus dipenuhi seperti baju, safety, helm dan lain sebagainya”, kata Hasan Sadili.

Ia menambahkan, persiapan  untuk memenuhi segala perlengkapan tersebut ternyata membutuhkan waktu yang lama, dari Desember 2021 baru bisa beroperasi pada Maret 2023.

“Dari awal memang saya akan memindahkan operasional mereka ke terminal Multipurpose Wae Kelambu, hanya memang persiapannya perlengkapannya ternyata membutuhkan waktu yang lama”, aku Hasan.

Awal Maret 2023, pihaknya menyurati PT Pelindo dan tembusanya ke Dirjen, Inkop TKBM, bersama stakeholder terkait.

Intinya bahwa koperasi TKBM  sudah siap untuk memulai kegiatan bongkar muat di Terminal Multipurpose Wae Kelambu.

Apresiasi

Langkah terobosan Capten Hasan Sadili itu mendapat apresiasi luar biasa dari para buruh, anggota Koperasi TKBM Pelabuhan Labuan Bajo.

Mereka layak memberi apresiasi kepada Capten Hasan Sadili karena memang kebanyakan barang-barang yang cukup signifikan untuk menambahkan penghasilan mereka, adanya di pelabuhan Multipurpose itu.

Penghasilan dari bongkar muat barang campuran dan curah seperti semen, beras dll bisa  mereka dapatkan di terminal Multipurpose Wae Kelambu.

“Jadi nantinya TKBM Tacik Mori Ata Ngaran yang di terminal Marina itu sistemnya hanya melayani TKBM untuk kapal penumpang”, kata Hasan Sadili.

Ke depan, lanjut dia, dermaga kapal Pera juga rencananya akan dibangun di terminal Wae Kelambu.

“Jadi pada intinya seluruh kegiatan barang atau logistik itu adanya di terminal Multipurpose, sedangkan untuk pelayanan pariwisata dan kapal penumpang kita fokuskan di existingnya Marina Labuan Bajo”, terang Hasan Sadili. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *