Opini  

Paskah dan Lebaran

Foto Istimewa Muhamad Rizal, Guru Imam dari Mesjid Wae mata, sebagai pengisi Khotbah kepada Jemaah Idul Fitri.

Oleh : Fransiskus Ndejeng *)

Dua tahun berturut-turut, 2022 dan 2023, umat beriman, baik yang beragama Nasrani maupun umat beragama Muslim melaksanakan refleksi spiritual yang sama, yaitu Puasa di Padang Gurun dan puasa iman untuk menahan haus dan lapar jasmaniah. Peristiwa dan moment berahmat ini seperti selalu dilaksanakan pada bulan yang sama , yaitu antara Bulan Maret dan April. Merefleksikan moment bulan puasa perjalanan ziarah umat beriman, kisah  Sengsara  Putra Tunggal Almasih dan Nabi Besar Muhamad, SAW dan pengikutNya. Menuju kemenangan yang abadi dari pergulatan iman akan masing-masing  pemeluk agama di  planet bumi ini.

Puasa Kristiani untuk mengenang sengsara, wafat Yesus Kristus di puncak bukit Golgota. Sampai pada kebangkitNya pada hari ketiga, disebut Paskah kemenangan Tuhan atas dosa umat manusia.

Proses puasa selama 40 hari lamanya. Sedangkan Puasa Nabi Muhamad dan pengikutNya, selama 30 hari, diawali, dan dimulai terhitung dari kedudukan penanggalan bulan Sabit, disebut Tahun Hijriah, atau Tahun  Khabisat.

Perjalanan Nabi, dalam masa puasa, adalah juga menahan semua hawa nafsuh duniawi. Penanggalan Nabi Muhamad, SAW., Dari Medina menuju Mekkah, sekitar pada tahun 622 Masehi.  Menahan lapar, haus, dan semua hal yang berkaitan kebiasaan duniawi. Menuju sebuah kemenangan atas pengaruh duniawi yang melekat dalam diri manusia itu sendiri.

Melewati ujian dan tantangan dan cobaan duniawi. Iman benar-benar ditantang dan diuji menurut iman dan kemanusiaan itu sendiri.
Hal ini, sesuai titah dalam ajaran Tuhan dan para Nabi yang diutus Allah ke dunia ini. Nabi Isa disebut Isa Almasih, dan Nabih Muhamad, SAW, sebagai Sang Guru utama yang membawa keselamatan bagi umat Allah di dunia ini. Bak seorang musafir pembawa keselamatan bagi umat pilihan dan kesayanganNya. Berkorban secara fisik untuk menahan setiap hawa nafsu sebagai pribadi kemanusiaan utusan Allah sejati.

Bertahan dalam goncangan dan ujian iman melaksanakan dan menikmati masa puasa selama 40 hari (untuk kaum Nasrani), dan 30 hari (untuk kaum musimin dan muslimat). Endingnya, secara imani, adalah memperoleh suatu kemenangan. Bagi saudara dan saudari yang beragama Nasrani, disebut Paskah. Sedangkan bagi saudara dan  saudari yang beragama Islam, disebut “Lebaran Idulfitri”.

Apakah memiliki hubungan spritualitas yang sama?

Dalam praktik iman, tentu memiliki spritualitas yang sama. Kata’ Puasa”,  Yesus Kristus dalam konteks pengikut  agama  Nasrani (Ortodoks) dan Puasa Ramadhan untuk konteks pengikut ajaran Nabi Muhamad.

Penulis tidak terlalu jauh melihat kepentingan  aliran dan kepercayaan masing-masing. Hanya mengamati dan menulis sesuai apa yang dirasakan oleh dua kepentingan yang sama dalam menyambut kemenangan paskah Tuhan Yesus bagi keselamatan umat manusia atas dosa asal dari kesombongan Adam dan Hawa di Taman Firdaus (Bdk. Kisah Kejadian). Ketika disandingkan dengan makna kemenangan Nabi Muhamad, SAW, dan pengikutNya, dari puasa Ramadhan selama sebulan penuh, menurut penanggalan Tahun Hijriah, atau Tahun Khabisat.

Selama sebulan penuh melaksanakan puasa batin, puasa jasmaniah, untuk menahan diri dari haus dahaga, menahan lapar dan hawa nafsu duniawi. Menahan amarah, menahan emosi, menahan hujatan. Tidak ngiler terhadap hal-hal yang berbau duniawi. Dalam sebulan penuh sujud sembah hanya pada Sang Ilahi, Nabi Besar Muhammad, SAW,  utusan Allah ke dunia ini.

Bagaimana konteks dengan kehidupan toleransi di kota super premium?

Semangat pesta paskah, melewati kisah Sengsara, Wafat dan Bangkit Kristus  di hari Paskah tahun 2023 ini; memiliki hubungan semangat iman yang  sama dalam tataran tahun toleransi umat beragama yang hidup berdampingan di kota Labuan Bajo dan sekitarnya, disebut Kota Super Premium. Makna yang terdalam dalam membangun kehidupan yang aman, damai, nyaman, dan kondusif. Tanpa sakwa sangkah terhadap satu  sama lainnya.

Memupuk sikap toleransi yang saling menghargai satu terhadap yang lainnya,  dalam bingkai kehidupan bersama. Wujudnya, adalah saling menyapa dan memberi ucapan selamat pada hari kemenangannya masing-masing. Baik ketika  melaksanakan moment paskah maupun pada moment lebaran Idulfitri. Bisa juga, dengan cara saling memberi bantuan untuk menjaga keamanan ketika pada pelaksanaan perayaan paskah ataupun  idulfitri. Di samping itu, dengan silahturahim, saling memaafkan secara langsung mengunjungi sahabat keluarga besar Muslimin dan sahabat keluarga besar Nasrani di moment hari hari raya, setiap tahun. Seperti Natal dan Paskah dan sebaliknya, pada moment Lebaran idulfitri.

Dalam kaitan dengan pesan pastoral Keuskupan Ruteng tahun 2023 ini. Menyetir intisari Kotbah Romo Lorens Sopang, Pr., sebagai pastor Kepala Paroki Roh Kudus Labuan Bajo;  pada malam Sabtu menjelang kebangkitan Tuhan Yesus, 8 April 2023.

Romo Lorens menandaskan tentang makna Terang Kristus yang membawa kemenangan atas maut guna menebus dosa umat manusia.

Dengan meninggalkan kebiasaan manusia lama, yang tercebur dalam dosa, dan hidup bersama  Tuhan dan untuk Tuhan.

“Jalan menuju kebangkitan adalah jalan menuju Galilea”. Mengapa? Sebab ada cahaya Kristus yang hidup di Galilea, supaya namaNya atas kuasa Allah untuk memanggil para murid pertama, seperti Simon Petrus, dan murid lainnya, karena umumnya para murid berasal dari Galilea, kecuali Yudas Iskariot, yang berasal dari kota Yudea (Yerusalem). Galilea merupakan tempat yang aman, kondusif, jauh dari pengaruh provokasi orang-orang jahat.

Menurut pandangan penulis, seturut ajaran Yesus Kristus yang telah bangkit dari alam maut menuju Galilea, untuk membuktikan keAllahanNya. Bahwa Dia yang telah bangkit bergegas menuju Galilea untuk bertemu para muridnya. Yesus membawa terang Kristus di kota Galilea, dan sekitarnya yang damai, dan aman serta kondusif.

Setelah Maria Magdalena dan Maria yang lainnya, menyaksikan bahwa kubur Yesus telah kosong dan bongkahan batu penutup kubur telah terguling, dan ada sisa kain kafan yang telah tersobek. Membuktikan bahwa Yesus  telah bangkit dari kuburNya. Dan, Yesus yang bangkit  bergegas pergi menuju  Galilea.

Perlu diwujud-nyatakan dalam hidup berdampingan secara damai  dan toleransi di kota super premium ini. Jadikan kota Labuan Bajo sebagai sebuah kota komunitas bersama, dari berbagai suku bangsa yang beragam, membangun dalam bingkai kebhinnekaan yang setara. Membangun ekonomi yang berkelanjutan sejalan dengan tema, yaitu Sejahtera, Adil dan Ekologis. Sejahtera dan berkeadilan untuk semua umat beragama dan budaya. Ekologis, agar pandai merawat dan menjaga alam lingkungan yang bersih  dan bebas dari sampah yang bertebaran dimana-mana. Apalagi, kota Labuan Bajo sebagai salah satu  kota kecil yang bersih, dan indah,  telah diberi penghargaan oleh President Jokowi,  berupa Piagam Penghargaan Kalpataru. Semacam jenis penghargaan dan apresiasi sebuah kota yang bersih dan indah.

Ditambahkan pula, tanggal 5-7 Mei 2023, kota wisata super premium Labuan Bajo menjadi tuan rumah pertemuan Internasional, Asean Sammit, KTT Negara-Negara Asean yang dihadiri oleh para pimpinan negara Asean dan utusan negara-negara sahabat lainnya. Seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan Eropa, dan dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, marilah kita membawa pesan perdamaian melalui kebangkitan Kristus  di kota super premium ini, agar situasi tetap terawat dan aman. Jadilah kota ini sebagai kota  Galilea membawa terang Kristus dalam tugas pewartaan para rasul sampai ke ujung dunia.

Moment perayaan pesta paskah Tuhan tahun ini dalam membangun iman yang kuat, tangguh dan solid, kita sebagai umat beriman yang hidup di kota super premium ini,  memiliki suatu kerinduan agar  Bapa Suci Paus Fransiskus di Vatikan memberikan rekomendasi untuk membentuk Keuskupan baru di Labuan bajo.  Didukung dengan pertumbuhan umat beriman yang bertambah dan semakin kompleks dalam  pelayanannya, dengan jumlah umat berkisar 270 ribu jiwa. Jadikanlah kota Labuan bajo super premium,  ibarat sebagai kota Galilea yang terang,  aman, damai dan kondusif dan hidup berdampingan secara damai dalam yang sama dan berbeda. Semoga!

*)Penulis, Ketua Seksi Hubungan Antar Agama Paroki Roh Kudus Labuan Bajo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *