Opini  

Labuan Bajo Menuju Keuskupan (3)

Oleh : Fransiskus Ndejeng dan Yosef Min Palem

Labuan Bajo Menuju Keuskupan
Kuda sahabat Pater Yosef van Hoef, SVD Pastor Paroki Rekas 1952-1996

OKEBAJO , – Labuan Bajo Menuju Keuskupan

Gereja Tua Rekas

Pada tahun 1925 P. Eickmann SVD, dibantu oleh Br. Yoseph, SVD asal Belanda, mendirikan Gereja di Rekas.
Para pekerjanya berasal  dari Bajawa. Pembangunan Gereja ini dapat diselesaikan dalam satu tahun. Sehingga Natal tahun itu dapat dirayakan oleh umat di Gereja Rekas.

Umat yang menghadiri Natal tahun 1925  berasal dari 7 kedaluan. Kemudian banyak umat dari wilayah lain pun datang merayakan Paskah dan Natal di Rekas yaitu umat dari: Pocoleok, Pongkor, Todo, Rahong, Pacar, Ndoso, Kolang, Boleng, Lelak, Welak, Wontong, Bajo, Matawae, Look, Mburak, Labuan Bajo, Kempo.

Gereja pertama di Manggarai

Gereja Tua Rekas yang terletak di Rekas, Desa Kempo Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat merupakan warisan religi  bersejarah berupa bangunan tua yang merupakan gereja pertama  di wilayah Manggarai. Gereja ini dibangun oleh Pater Eickmann, SVD pada tahun 1925.

Bangunan gotik yang berkembang di abad pertengahan di Benua Eropa menjadi model bangunan gereja tua ini terutama pada interior gereja dengan menampilkan tiang-tiang yang kokoh, atap yang menjulang tinggi, serta ornamen-ornamen kaca hias dan warna warni yang penuh dengan simbol – simbol religius tertentu.

Proses pengerjaan Gereja Tua Rekas dilaksanakan secara gotong royong oleh umat yang beragama islam dan umat yang belum menganut agama (kafir). Kehadiran gereja di Rekas ini menjadi sebuah catatan penting bagi gereja katolik Flores karena Rekas kemudian menjadi pusat agama Katolik di Flores bagian barat.

Rencana Pater Eickmann, SVD

Untuk mendirikan gereja ini pada awalnya di Tembarai (sekitar kantor Desa Kempo saat ini) tetapi tidak terealisasi karena tidak diberi izin oleh Dalu Rekas yang bernama Dompe. Kemudian Pater Eickman, SVD bertemu dengan tu’a Kampung Tado, yakni Kraeng Kistoforus Pata (dikenal dengan nama Jarang Lingka) untuk menyampaikan rencana pembangunan gereja dan persoalan larangan dari dalu.

Kraeng Jarang Lingka kemudian menemui suku Nuri yang merupakan keluarganya (Ine ame/anak rona). Pihak suku Nuri  (Batu Mbaru Comong)  menyerahkan tanah  di Lengkong Nara untuk didirikan Gereja. Menurut penuturan Guru Alo Mongko,  Lengkong ini adalah tanah kuburan dari keluarga besar suku Nuri, salah satunya bernama Makur.

Tahun 1925 Gereja Rekas yang dibangun di Lengkong Nara dibangun di atas tanah pekuburan . Dan baru rampung pada tahun 1926 dan diberkati.  Gereja pertama di Keuskupan Ruteng ini dibangun dengan mengambil model Gotik.

Model Gotik

Terdapat satu menara pada bangunan yang terletak pada bagian depan yang difungsikan sebagai isyarat adanya peribadatan di dalam gereja. Walaupun dalam perkembangan setelah renovasi terakhir menara gereja ini sudah tidak ada lagi.

Proporsi arsitektur yang berkesan agung, menjulang tinggi melebihi skala manusia normal, melambangkan Allah yang agung dan maha besar.

Filsafat arsitektur Gotik adalah vertikalisme, transparan dan diafan. Adanya rib vaulting yang merupakan atap bangunan menyerupai membran dan memiliki unsur arsitektural.

Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan dengan Jajaran kolom yang terpadu dengan rib voulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan.

Terdapat rose window (jendela berbentuk seperti mawar) pada bangunan. Secara arsitektural hal itu digunakan untuk memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi, rose window sebagai symbol suatu firman Tuhan.

Berkembangnya seni kaca patri (clear storey) yang dipasang di dinding bangunan. Hal ini merupakan hasil perkembangan teknologi kaca pada masa itu yang diterapkan pada bangunan.  Gambar yang tersaji pada kaca patri banyak menceritakan sejarah kekeagamaan dan tokoh-tokoh
yang berpengaruh.

Renovasi pertama yakni tahun 1935 pada zaman Pater Theo Tolen SVD. Tahun 1952 saat Pater Geeraeds, SVD sebagai Pastor Paroki Rekas dan Pater Yosep Van Hoef, SVD sebagai pastor kapelan/pembantu dan pada tahun 1975.

Kegiatan renovasi antara lain, candi gereja diturunkan dari bubungan depan gereja dan dibangun candi baru di samping gereja

Doa minta hujan di Golo Kempo

Pada zaman karya pelayanannya, P. Theo Tholeen SVD berbagai kegiatan rohani dijalankan. Termasuk  juga menggiatkan ziarah ke Golo Kempo tatkala kemarau berkepanjangan. Berdoa Tosario dan ditutup dengan Misa minta hujan di Golo Kempo.

Pasalnya, kemarau berkepanjangan dapat membahayakan kehidupan petani yang membutuhkan air hujan untuk tanamananya di ladang maupun padi di sawah. Untuk itu Pater Thoolen mengajak umat berziarah ke Golo Kempo. Sampai di puncak Golo Kempo, umat diminta berdoa 5 peristiwa Rosario. Setelah itu diadakan misa dengan intensi khusus meminta hujan.

Saat berdoa, perlahan-lahan awan mulai berkumpul di langit. Setelah memasuki bagian penutup, hujan gerimis turun dan umat bergegas pulang. Di tengah jalan hujan lebat hingga mereka basah kuyup Umat penuh syukur dan pujian kepada  Tuhan karena doa mereka terkabulkan.
Kebiasaan berrziarah ke Golo Kempo tetap dilaksanakan sampai tahun 1980-an pada  zaman pelayanan P. Yosef van Hoef SVD.

Bunda Maria Penolong Orang Bersusah

Di kompleks Gereja Rekas, ada bangunan gua tempat ziarah.

Pasca peristiwa G 30 S PKI, 1 pleton pasukan tentara dari Ende tiba di Rekas guna penertiban orang-orang yang menjadi anggota PKI.

Dugaan, bahwa banyak dari antara umat/warga setempat yang  terlibat gerakan partai tersebut. Padahal mereka terdaftar hanya ikut-ikutan dan tergiur dengan janji-janji manis partai tersebut. Mereka ketakutan lalu bersembunyi di kebun dan hutan.  Itu terjadi ketika Kapten Toni (Komandan Pasukan) mengancam akan membumihanguskan kampung Rekas dan Rambang. Dan ancaman itu rupanya tidak main-main dan mulai menyiapkan strateginya untuk melakukan eksekusi.

Mimpi perempuan cantik

Malam sebelum melakukan eksekusi, Kapten Toni bermimpi seorang perempuan cantik mengunjunginya. Dengan wajah sedih dan suara memelas, si perempuan cantik itu minta Kapten Toni jangan melaksanakan rencananya. Perempuan itu juga dengan tegas mengatakan bahwa kalau rencana itu tetap Ia laksanakan maka Kapten Toni akan menerima risiko.

Keesokan paginya, Kapten Toni pergi ke Pastoran Rekas. Di sana ia bertemu dengan P. Erwin SVD yang saat itu membantu di Rekas sebelum ke Nunang menjadi Pastor Paroki. Setelah minum kopi, mereka jalan-jalan di kompleks Gereja dan melewati Gua Maria. Kapten Toni menolehkan wajah ke arah Gua dan ia berteriak, “Aeh Pater ! Perempuan ini yang datang dalam mimpi saya semalam,”  ucapnya seraya menceritakan mimpinya.

Setelah bercerita, Kapten Toni bertanya, “siapakah dia Pater ?”  Pater Erwin SVD menjawab, “Ini Bunda Maria dari Lourdes Pendoa dan Penolong Orang Katolik”.

Perintah mengeluarkan senjata

Mendapat penjelasan dari Pater Erwin, Kapten Toni pulang ke Pesanggarahan (bekas Kantor Hamente Kempo) tempat mereka menginap dan tetap bertekad melaksanakan perintah pimpinan di Ende.  Sampai di situ sang kapten menyuruh semua masyarakat yang terlibat organisasi terlarang itu untuk berbaris. Setelah itu Kapten Toni mengeluarkan senjatanya  untuk mengeksekusi semua orang di tempat itu. Peringatan pertama sang Kapten mengarahkan moncong senjata ke udara dan menekan platuk senjatanya. Apa yang terjadi ? Senjata itu tidak berbunyi. Kapten Toni menembakkan senjatanya ke udara sebagai peringatan.  Moncong senjatanya tidak mengarah ke udara tetapi  jatuh mengarah ke kakinya dan terdengar suara tembakan, akibatnya kakinya terluka.  Sang kapten lalu membatalkan rencananya untuk membumihanguskan Rekas dan  Rambang.

Kapten Toni kemudian memerintahkan orang-orang tersebut untuk segera ke Ruteng (berjalan kaki).  Di Ruteng ada yang kena tembak tetapi banyak yang bebas setelah menerima hukuman antara lain, telinga mereka harus iris sebagai tanda. Konon Kapten Toni kemudian mendapat karena ternyata ia juga masuk anggota PKI.

Bersambung…

*) Penulis, Fransiskus Ndejeng (Seksi HAK Dewan Pastoral Paroki Roh Kudus Labuan Bajo dan Yosef Min Palem (Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi Labuan Bajo) dan Marsely Abi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *