Opini  

Labuan Bajo, Dulu dan Kini

Bagian 1

Labuan Bajo, Dulu dan Kini
Penampakan kota Labuan Bajo dari Puncak Waringin. Foto/ASEAN Skyline

Oleh : Bernadus Barat Daya

LABUAN BAJO, yang oleh masyarakat lokal di seluruh wilayah “Tana Kempo Mese” sering menyebutnya secara singkat dengan sebutan, “Lembajo”.

Tempat yang orang sebut Lembajo itu sesungguhnya hanya sebuah kampung kecil di tepi pantai. Persisnya, sebuah tanjung tempat berlabuhnya perahu para nelayan dari berbagai penjuru yang hendak masuk Pulau Flores di ujung barat.

Jadi, yang orang sebut Lembajo itu sebenarnya hanya satu lokasi kecil saja. Luasnya hanya sekira 3 hektar. Letak persis kampung Lembajo tsb (sekarang ini) meliputi wilayah sekitaran pelabuhan Fery, Hotel Meruorah, Lapangan Kampung Ujung, Gereja Stela Maris dan Masjid raya.

Di lokasi tepi pantai itu (sekarang pelabuhan Fery dan Hotel Meruorah) dahulunya ditumbuhi banyak pohon kelapa. Selain pohon kelapa, juga banyak pohon asam serta pohon lontar (Taal).

Di bawah rindangan pohon kelapa dan pohon lontar itulah Lembajo dijadikan sebagai “Amba Lembajo” atau Pasar (tradisional) Labuan Bajo. Tempat pertemuan antara orang gunung dan orang laut. Petani dan nelayan. Penjual dan pembeli.

Penentuan “hari” Pasar saat itu adalah dgn menggunakan mekanisme REKE (janji) sehingga sering pula disebut “Amba Reke” (pasar janji).
Hari yang dijanjikan utk bertemu di Pasar itu diberitahu dari mulut ke mulut. Baik orang gunung pun orang laut, berkewajiban utk mengedarkan informasi hari pasar yang sudah dijanjikan itu kepada semua orang yang dijumpainya. Maksudnya agar semua orang bisa sesuaikan persiapan barang jualannya degan hari Pasar Lembajo itu.

Orang Kempo (Kempo Poco dan Kempo Biring) yang semuanya adalah petani datang di Lembajo membawa barang jualan seperti beras ladang (dea golo), jagung, sirih/pinang, kopi, jambu hutan, kunyit, serei, berbagai sayuran, umbi umbian, dan berbagai jenis buah buahan.

Alat transportasi yang digunakan orang gunung untk mengangkut berbagai barang jualan adalah Kerbau dan Kuda.

Sedangkan orang dari suku Bugis, suku Bima, suku Bajo yang tinggal di sekitar Lembajo maupun yang tinggal di Pulau Rencak (Rinca) dan Komodo, juga datang membawa ikan, garam, dan berbagai barang jualan lainnya dengan menggunakan perahu layar.

Saat itu, semua barang jualan menggunakan cara “barter” (baluk) yakni barang ditukar dengan barang. Misalnya, ikan ditukar dgn sayur atau buah buahan. Garam ditukar dengan jagung atau umbi umbian, dst.

Seiring waktu, penduduk Lembajo pun terus bertambah.
Orang Kempo pun banyak yang tinggal menetap di sekitar Lembajo.

Demikian pula orang dari Larantuka, Ende, dan juga sejumlah warga etnis Tionghoa (baba/toke) datang dan tinggal menetap di Lembajo.

Di kemudian hari, lokasi Lembajo itu dijadikan sebagai ibu kota Kecamatan Komodo. Kantor Camat dan rumah para pegawai didirikan di sana.
Lapangan bola kaki juga dibuat di sana. Di lokasi itu, juga dibangun Gereja dan Masjid.

Rumah rumah warga Lembajo pun makin bertambah banyak dan berjejer di sepanjang pantai mulai dari Lembajo hingga sampai di Wae Welu 1 (sekaramg simpang Pede).

Kampung Lembajo pun menjadi kampung panjang yakni terbentang mulai dari kampung ujung hingga Wae Welu 1.

Melihat perkembangan yang pesat itu, Pasar Lembajo yang sebelumnya berada di ujung barat, lalu dipindahkan ke arah timur yakni di sekitar muara kali Wae Kerara atau sering juga disebut Wae Welu 2. Di sekitar muara kali Wae Kerara/Wae Welu 2 inilah Pasar dibuka. (Namun kini lokasi ini telah disebut bekas Pasar lama dan di lokasi pasar tsb telah beralih fungsi menjadi pemukiman warga).

Lokasi Pasar ini dipilih dengan pertimbangan agar letak Pasar berada di tengah tengah kampung Lembajo yang makin panjang itu.

Saat Pasar dipindahkan ke muara kali Wae Kerara/Wae Welu 2, ditetapkanlah hari pasti pelaksanaan Pasar yakni setiap hari Rabu. Artinya, setiap hari Rabu, pasti Pasar dibuka secara rutin/teratur. Sehingga sering pula disebut “Amba Rabu” (Pasar hari Rabu).

Lembajo pun terus tumbuh dan berkembang lebih luas lagi. Hingga pada era tahun 1990 an, Pasar Lembajo pun dipindahkan lagi untuk kedua kalinya ke lokasi baru yang agak jauh yakni ke arah timur.

Awalnya di lokasi Pasar ini merupakan kawasan hutan lindung. Atas persetujuan bersama antara masyarakat dan pemerintah kecamatan Komodo, kawasan hutan lindung itu dibuka. Sebagian untuk dijadikan Pasar dan sisanya dibagi-bagi kepada warga masyarakat untuk dijadikan tempat pemukiman.

Lokasi Pasar tsb, sekarang ini disebut “Pasar Baru”. Jadi, pasar Lembajo itu pernah ada di 3 lokasi dan telah mengalami 2 kali perpindahan dari tempat awal mulanya.

Demikian pula, sebutan (nama) Labuan Bajo itu kini telah berkembang lebih luas. Dari semula yANg hanya berada di satu lokasi kecil yang berfungsi sebagai “pasar tradisional”, telah berkembang menjadi sangat luas dan menjadi semacam kawasan (teritorial) baru yang kemudian dijadikan sebagai ibu kota kabupaten Manggarai Barat di NTT.

Dapat dikatakan, Labuan Bajo yang dahulunya hanya menjadi “Pasar tradisional”, kini telah berubah me jadi “Pasar internasional”.

Catatan kaki yang perlu saya sampaikan berkaitan dgn postingan di atas adalah:

1. Lapangan bola kaki yang terletak di Lembajo dan yang selama lebih dari 50 tahun terakhir ini telah menjadi lapangan bola tempat dimana semua menggelarkan event pertandingan bola, serta tentu saja telah menjadi lapangan kebanggaan bagi masyarakat dari Tana Kempo Mese, kini sudah diambil alih/dialihfungsikan untuk menjadi tempat parkir kendaraan (parking area) bagi tamu hotel mewah yang ada di seberang jalan. Lapangan rakyat dan aset pemeritah kecamatan Komodo itu telah berubah menjadi tempat parkir bagi tamu hotel.

2. Tempat Penjualan Ikan (TPI) yang sebelumnya telah ada di Lembajo itu, kini juga telah gusur dan telah bangun Hotel mewah Meurorah.

3. Bekas kantor Camat Komodo serta bekas rumah rumah dinas para pegawai tempo dulu yang terletak di sekitar lapangan bola kaki itu, kini telah menjadi kantor Tentara. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *