Opini  

Idul Adha : Momentum Mengenang Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail

Oleh : Sumardi (Kepala Desa Siru, Manggarai Barat)

Hari ini, memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu.

Pagi ini, kita kenang lagi manusia-manusia agung, yang telah menciptakan gelombang sejarah umat manusia.

Pagi ini, kita agungkan lagi nama-nama besar itu, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail.

Pagi ini juga, jutaan kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, yang sedang menunaikan ibadah haji melantunkan kalimat talbiyah, mengagungkan kebesaran Allah.

Pada saat yang sama, miliaran kaum Muslimin di berbagai belahan dunia juga mengagungkan betapa besarnya kekuasaan Allah

Idul Adha atau Idul Qurban mengingatkan kita tentang sejarah tiga anak manusia agung, Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail.

Peristiwa ini diabadikan dengan jelas dalam al-Qur’an. Bahkan di antara beberapa syariat ibadah haji, bermula dari keluarga Nabi Ibrahim yang mulia ini.

Lari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa,  adalah refleksi pengorbanan Siti Hajar dalam mencari air untuk buah hatinya, Ismail.

Lempar Jumrah, juga merupakan refleksi perlawanan Nabi Ibrahim dalam melawan godaan iblis.

Berqurban, membawa dua misi sekaligus secara bersamaan. Pertama, misi vertikal yang berhubungan langsung dengan Allah.

Allah akan memberikan pahala yang setimpal, bagi siapa saja yang berqurban untuk-Nya.

Kedua, misi horishontal, berkaitan dengan kepedulian terhadap sesama. Khususnya kaum papa dan dhuafa.

Berqurban juga merupakan bentuk ekspresi ketaatan manusia atas Tuhannya. Allah berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Q.S Al Kautsar : 2].

Berqurban juga merupakan bentuk ekspresi kepedulian terhadap sesama. Nabi bersabda, Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya”. [al – Hadits].

Berqurban juga mengingatkan kita, tentang ujian ketaatan Ibrahim, dan Ismail anaknya, dalam menjalankan perintah Allah.

Ibrahim dan Ismail adalah manusia pilihan Allah. Keduanya, diberikan ujian oleh Allah melebihi akal sehat kita sebagai manusia.

Bagaimana tidak, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak semata wayangnya, Ismail.

Ada dialog menarik antara ayah (Ibrahim) dan anak (Ismail), ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Dialog ini, terekam baik dalam al-Qur’an, Surat As-Shffat : 99 – 113.

Ibrahim : ” Wahai anakku, dalam mimpiku, aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu, bagaimana pendapat mu ” ?.

Ismail : ” Wahai Bapakku, kerjakan apa yang diperintahkan Allah atas mu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Begitulah cara para nabi – nabi dalam menjalankan perintah Ilahi. Kami dengar, kami laksanakan (ami’na wa ata’na).

Semoga kita mendapat inspirasi keteladanan, dalam kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Kesalahan kita dalam mempelajari sejarah para nabi-nabi adalah, kita hanya sebatas mengagumi, tidak sampai pada mengambil hikmah dan mengikuti.

Penulis: Tim RedaksiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *