Opini  

Media Sosial Berpengaruh Terhadap Rendahnya Kesadaran Membaca Generasi Z

Munculnya media sosial dalam kehidupan kita harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, namun karena banyak masyarakat yang kurang literasi menjadikan media sosial hanya sebagai hiburan dan bukan sebagai media edukasi untuk menambah pengetahuan.

Oleh : Kristian Armando Purnama Sama

OPINI, Okebajo.com, – Rendahnya kesadaran membaca generasi Z bukan tanpa sebab, arus media sosial yang mengalir begitu deras mempengaruhi minat baca masyarakat, khususnya generasi penerus bangsa yang biasa disebut dengan generasi Z.

Membaca bak menonton film horor yang menakutkan yang menjadikannya tak banyak diminati oleh masyarakat khususnya generasi Z.

Dari data UNESCO, minat baca masyarakat indonesia hanya 0,001% yang artinya dari 1000 masyarakat indonesia, hanya ada 1 orang yang rajin membaca. Fakta lain UNESCO juga menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat 2 dari bawah soal literasi dunia.

Di kalangan anak muda jaman sekarang, membaca untuk mengetahui banyak hal melalui literasi atau membaca buku sangatlah kurang bahkan tidak ada. Kurangnya berpikir ulang terkait apa yang di ketahui menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya angka literasi yang ada.

Jika seseorang mampu berpikir ulang mengenai pentingnya literasi, maka kesadaran akan literasi akan semakin tinggi dan dapat memperbanyak pengetahuan tentang suatu hal.
Sebaliknya, masyarakat lebih sering bermain media sosial kurang dari 9 jam per harinya.

Tak heran jika masyarakat indonesia sudah sangat legend dalam memberikan komentar terkait apa yang dilihat di media sosial. Cerewet dalam bermedia sosial sudah sangat sering kita lihat di berbagai status ataupun kolom komentar di media sosial. Sampai-sampai semua berita dari luar negeri tedapat banyak sekali komentar yang berasal dari pengguna media sosial Indonesia.

Dari data menurut We Are Social menunjukan bahwa, pengguna media sosial di Indonesia pada bulan Januari 2023 sebanyak 167 juta jiwa jumlah tersebut setara dengan 60,4% dari populasi dalam negeri. Ini menunjukan bahwa media sosial sudah jauh melaju menguasai manusia di dalam negeri ini.

Anak yang baru lahir saja bisa mengakses media sosial seperti facebook, WhatsApp, Instagram, Tiktok dengan sangat mudah melalui ponsel. Ini merupakan suatu ketakutan bagi kita yang hidup dijaman yang serba internet saat ini. Lihat saja di media sosial Tiktok, banyak sekali konten-konten yang kurang mendidik yang tidak layak ditonton oleh anak-anak dibawah umur yang dapat mengganggu proses tumbuh dan berkembangnya.

Tak jarang juga akibat hal sepele yang terjadi di media sosial dapat menelan korban jiwa. Misalnya terjadi perubahan status hubungan atau ada kecemburuan di media sosial Facebook yang kemudian muncul rencana untuk merayu dan menjebak, serta membunuh akibat perselisihan ini.

Munculnya media sosial dalam kehidupan kita harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, namun karena banyak masyarakat yang kurang literasi menjadikan media sosial hanya sebagai hiburan dan bukan sebagai media edukasi untuk menambah pengetahuan.

Hal ini banyak sekali dilakukan oleh gen Z yang nota bene lebih banyak mengunakan media sosial untuk menghibur diri seperti joget-joget di tiktok dan bangga memamerkan diri ke media sosial agar banyak mendapat like atau komentar dari warganet.

Hal yang kurang mendidik dan kurang menarik untuk dilakukan oleh generasi penerus bangsa. Selain itu, generasi Z juga gemar mengikuti trend media sosial tanpa mengetahui arti dari tren yang sedang ia ikuti itu. Misalnya saja, kata healing yang viral beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang masih sangat banyak yang menggunakannya untuk menjelaskan bahwa mereka sedang jalan-jalan menikmati dunia setelah lelah bekerja atau bersekolah.

Nyatanya banyak yang tidak mengerti atau mengetahui arti dari kata healing ini, menururt ilmu psikologi healing merupakan proses penyembuhan secara berkala untuk seseorang yang baru saja sembuh dari stres.
Dari konteks ini bisa kita sadari bahwa betapa buruknya kualitas diri jika kita minim literasi.

Maka dari itu, membaca sangat penting untuk dilakukan bukan untuk diri sendiri tapi juga untuk keberlangsungan hidup dengan orang lain. Dengan banyak membaca, kita bisa mengetahui kualitas diri kita. Jangan menjadi buta untuk melihat diri sendiri, buta yang dimaksud adalah buta untuk menyadari bahwa diri kita perlu melakukan literasi agar menambah wawasan serta pengetahuan.

Di dalam diri kita terdapat berbagai cela atau blind spot didalam pengetahuan atau opini kita. Dimana celah-celah tersebut bisa juga membutakan kita terhadap “kebutaan” kita sendiri sehingga kita memiliki kepercayaan diri yang keliru tentang penilaian terhadap pengetahuan diri kita sendiri yang sebenarnya masih sangat banyak membutuhkan literasi dari membaca buku dan perlu meminimalisir urusan dengan media sosial yang tak sedikit memberikan efek yang buruk terhadap diri kita.

Oleh sebab itu generasi Z yang langsung dengan media sosial setiap harinya harus mampu berpikir ulang untuk menyadari bahwa betapa berbahaya media sosial bagi masa depan dan bagi kualitas diri. Menurut George Bernard Shaw, kemajuan mustahil dicapai tanpa perubahan, barang siapa yang tidak mengubah pikirannya dia tidak akan mampu mengubah apapun.

Kita generasi Z harus mampu berpikir secara bijaksana mana yang baik dilakukan untuk diri, mana yang akan hanya merusak kualitas diri kita.
Bermedia sosial memang perlu dilakukan di jaman sekarang agar kita juga tidak disebut ketinggalan jaman. Tetapi ada batasan-batasannya untuk menghindari sindrom dan juga harus bisa membagi waktu untuk membaca dan meningkatkan literasi.

Dengan terus berpikir bahwa literasi sangat dibutuhkan dan harus untuk dilakukan maka peran dari orang tua juga sangat penting untuk membimbing generasi z yang lahir di era digital saat ini. Pemberian pemahaman mengenai bahaya media sosial, serta pentingnya literasi perlu dilakukan sejak dini agar generasi yang lahir di jaman digital dan terpaan media sosial bisa memahami dan dapat memilah mana yang baik untuk dilakukan secara terus menerus, mana yang sebaiknya dilakukan sesekali saja. **

Penulis : Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *