Opini  

Refleksi Hari Guru : Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Menjadi Pahlawan  Penuh Jasa

Oleh : Inno Mamat *) 

OPINI, Okebajo.com | Menjadi guru, berbakti memberikan dan mengabdikan kehidupannya untuk senantiasa berbagi ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Menjadi guru bukan hanya sebatas memiliki kemampuan mengajar tetapi lebih dari itu memahami muatan materi  yang akan disampaikan dalam hal mengajar. Menjadi guru artinya harus mampu bersabar menghadapi beragam karakter anak didik/muridnya.

Tak jarang, guru menguras tenaga dan psikis, sebab guru adalah sosok yang penuh keuletan dan kesabaran.

Hari Guru Nasional

Momen peringatan Hari Guru Nasional 25 November sering dimaknai secara sempit hanya sebatas kegiatan seremonial.

Dalam setiap peringatan Hari Guru Nasional (HGN), umumnya muncul berbagai sanjungan dan pujian atas jasa guru. Sejatinya, guru tak terlalu membutuhkan ragam pujian itu. Mereka lebih membutuhkan implementasi kebijakan yang berpihak pada mereka sehingga profesi guru mendapatkan kedudukan terhormat dan penting di masyarakat.

Guru hanyalah manusia biasa yang memiliki peran dan diberikan tanggung jawab luar biasa dalam mendidik anak bangsa. Melalui pendidikan, anak bangsa memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang kelak mereka butuhkan agar memiliki kualitas hidup yang baik di masyarakat.

Pendidikan merupakan ”eskalator sosial” yang mampu menaikkan mobilitas sosial ekonomi masyarakat. Melalui pendidikan, anak bangsa bisa meningkatkan mobilitas sosialnya secara vertikal. Pendidikan membuka wawasan, menambah ilmu pengetahuan, meningkatkan penguasaan teknologi, dan meluaskan lingkaran pergaulan seseorang. Dampak turunannya, kualitas manusia semakin meningkatkan status sosial ekonomi.

Dalam proses pendidikan, guru menjadi aktor utama yang memainkan skenario penting pada berbagai episode pendidikan. Kedudukan terhormat yang dimiliki para pejabat di lembaga legislatif maupun eksekutif tentu tidak terlepas dari peran dan jasa guru.

Apa pun profesi dan jabatan yang ditekuni dan disandang seseorang mendapat stimulasi dari guru yang telah mendidik dan mengajar mereka sejak masa prasekolah, jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi.

Mengingat pentingnya guru dalam menjalankan sistem pendidikan, sejatinya perlu ada restorasi pelafalan ”Pahlawan tanpa Tanda Jasa” menjadi ”Pahlawan yang Penuh Jasa”.

Guru seharusnya menjadi profesi yang diidam-idamkan oleh anak muda terdidik yang memiliki prestasi terbaik di bidang akademik, berkepribadian baik, dan menjadi teladan.

Faktanya, anak muda dengan prestasi akademik cemerlang lebih memilih jalur profesi selain guru yang dianggap lebih menjanjikan masa depan cerah dengan jaminan kesejahteraan dan fasilitas yang sangat baik.  Profesi guru masih dipandang sebelah mata dan belum setara dengan profesi lain yang lebih ”bergengsi” di masyarakat.

Mungkin karena profesi guru dianggap belum dapat memberikan kenyamanan kesejahteraan secara finansial dan menjanjikan karier yang baik di masa depan, kecuali bagi mereka yang telah meneguhkan hati dan memiliki rasa pengabdian tinggi serta terpanggil jiwanya menjadi guru.

Dalam berbagai kebijakan pendidikan selama ini, guru lebih banyak ditimpakan persoalan dan diberikan tumpuan beban ketimbang diberikan pelayanan maksimal untuk keluar dari berbagai persoalan serius yang membelitnya. Kesejahteraan, kompetensi, dan perlindungan guru masih menjadi persoalan serius yang harus dibenahi.

Kebijakan kurikulum yang kerap berubah-ubah dalam waktu singkat, juga kerap membingungkan guru di lapangan. Guru masih diposisikan sebagai obyek dan bukan subyek dalam dunia pendidikan.

Faktanya, masih banyak guru yang belum dimerdekakan status kepegawaian dan finansialnya. Selain itu, belum ada peraturan khusus yang melindungi guru saat menjalankan tugas profesinya di sekolah.

UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mengatur perlindungan guru dalam menjalankan tugasnya pun terancam terhapus di RUU Sisdiknas yang kini sedang jadi polemik di masyarakat.

Ketakutan dan ancaman hukuman selalu menghantui para guru saat menerapkan disiplin pada para pelajar. Padahal, di sisi lain, guru berperan sangat penting dalam mendidik, menanamkan  nilai-nilai disiplin, dan tanggung jawab untuk pembentukan karakter anak didik agar mereka kelak tumbuh menjadi generasi bangsa yang gemilang dan berkarakter.

Makna Luas HGN

Peringatan HGN kali ini dapat dimaknai secara luas sebagai momentum bagi para guru untuk melakukan introspeksi dan merefleksikan perannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Pada tahu  2023 ini, sudah 78 tahun usia dunia pendidikan nasional sejak pertama kali proklamasi kemerdekaan bangsa dikumandangkan. Selama kurun waktu yang cukup panjang itu, peran guru dengan segala kelebihan dan kekurangannya dalam membangun dunia pendidikan, tentu tidak dapat dinafikan.

Perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia hingga saat ini tentu tidak terlepas dari peran guru yang sangat strategis dalam menjalankan sistem pendidikan nasional. Dunia yang terus bergerak maju dengan segala dinamika perubahan yang terjadi memerlukan guru-guru adaptif.

Nilai-nilai lama pendidikan yang sesuai di zamannya tentu tidak lagi kontekstual diterapkan di masa kini. Pendidikan masa kini dan masa depan memerlukan arah dan nilai baru yang memerlukan guru-guru yang memiliki perubahan pola pikir, adaptif, kreatif, dan inovatif.

Dengan arah dan nilai baru pendidikan di masa ini, turut memengaruhi terbentuknya profil guru sesuai perkembangan zaman. Saat ini, pengetahuan tak dapat diklaim hanya bersumber dari guru semata.

Perkembangan dunia teknologi informasi yang pesat membuat pelajar dalam mencari pengetahuan tak melulu bergantung pada guru. Di era teknologi digital saat ini, guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Dalam proses pembelajaran di kelas, pelajar dapat mencari dan mempelajari pengetahuan dari berbagai sumber yang tersebar di jagat maya.

Selain mendidik, peran guru mulai berkembang sebagai fasilitator yang memfasilitasi para pelajar mencari pengetahuan dari berbagai sumber. Guru memimpin pembelajaran di kelas dengan sikap welas asih yang mendorong dan mendukung pelajar berada di lingkungan belajar yang tepat sesuai minat dan gaya belajar mereka.

Guru berperan dalam memfasilitasi terciptanya lingkungan pembelajaran yang bermakna, nyaman, berkesan, dan menyenangkan bagi para pelajar.
Akselerasi perkembangan teknologi saat ini menyadarkan para guru yang tidak mau mengikuti perkembangan, bahwa mereka akan tergantikan oleh guru lain yang lebih adaptif terhadap perubahan.

Hal ini bisa dimaknai bahwa selama seseorang berprofesi sebagai guru, ia tak boleh berhenti belajar dan mengembangkan diri selagi hayat dikandung badan.

Peringatan HGN kali ini dapat dimaknai para guru sebagai tonggak penting untuk melesatkan kualitas pendidikan kita agar mampu sejajar dengan negara-negara lain.

Untuk itu, dibutuhkan guru literat yang memiliki resiliensi akademik yang tinggi, sikap tangguh, adaptif, kreatif, dan inovatif. Guru dapat memaknai hari jadinya dengan merefleksikan dirinya agar terus belajar sepanjang hayat, memberikan pelayanan terbaik di dunia pendidikan, dan turut serta aktif dalam memahat peradaban bangsa.

Selamat HGN 2023 dan HUT Ke-78 PGRI bagi seluruh guru tangguh di Indonesia. **

Okebajo.com adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis

Penulis: Inno MamatEditor: Robert Perkasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *