Opini  

“Tempus Fugit Amor Manet” (Sebelum Beralih ke Tahun 2024)

Oleh : Sil Joni *) 

Opini, Okebajo.com, – Lembaran tahun 2023 sebentar lagi akan berakhir. Sudah sepatutnya, di penghujung tahun ini, kita membuat refleksi yang memuat aspek introspeksi dan proyeksi. Refleksi, dalam bahasa Inggris reflect (kata kerja) artinya think deeply or carefully about, berpikir dalam-dalam atau berhati-hati. “Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi”, kata filsuf Sokrates.

Di tengah karakter waktu yang ‘terbang begitu cepat’, jeda untuk berefleksi menjadi sebuah keharusan. ‘Pause’ semacam  ini, mesti dimaknai sebagai ‘kairos’, momen penuh rahmat untuk menilai apakah hidup yang dijalani sesuai dengan harapan dan rencana-rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Proverbia Latin, tempus fugit amor manet (waktu berlari/terbang, cinta tetap tinggal) dijadikan cermin untuk mengais serpihan makna sehingga bisa diolah secara matang dalam goresan ini. Meski waktu (tahun 2023) berlalu, tentu masih ada yang tetap tinggal, yaitu cinta. Dengan perkataan lain, tidak semuanya lenyap dalam waktu yang terbang itu, sebab dalam cinta ada ingatan dan kenangan tentang apa yang terjadi pada masa silam.

Karena itu, pendapat yang mengatakan ‘bagi yang saling mencintai, waktu adalah keabadian’, tentunya ada benarnya. Dalam cinta, jarak waktu melebur. Kita tidak pernah ‘dipisahkan’ oleh waktu yang ditakar secara kronologis.

Tahun 2023 boleh saja ‘pergi’, tetapi api cinta kepada sesama, semesta dan Yang Kudus, tak lenyap. Dalam perspektif teologis, di mana ada cinta Tuhan hadir di sana. Itu berarti Tuhan adalah Sang Cinta itu sendiri. Cinta itu tak terbatas dan abadi. Dia melampaui batas ruang dan waktu.

Pertanyaannya adalah sejauh mana kita menghadirkan Sang Cinta itu dalam perilaku dan pelbagai kegiatan, baik dalam ranah privat maupun ruang publik selama tahun 2023 ini? Apakah tindakan kita berbasiskan Cinta atau bermotif mencari kemegahan diri? Jika kita terobsesi dengan pengejaran kepentingan pribadi dan sektarian, maka tidak ada yang tinggal dalam tahun 2023. Mengapa? Semuanya lenyap ditelan oleh nafsu dan ambisi yang bersifat egoistis dan parsial.

Hidup yang bermutu, dengan demikian, tidak diukur dari seberapa banyak harta yang terakumulasi, tetapi sejauh mana kita memanifestasikan cinta kepada yang lain. Karakter cinta adalah memberi. Kita mesti menjadi penyalur berkat pada entitas yang lain. Apakah keberadaan kita pada tahun 2023 ini membawa berkat atau bencana bagi sesama? Jika kita tampil sebagai pembawa laknat, maka tahun 2023 tercoreng dan tidak ada yang patut dikenang.

Kendati demikian, harus diakui bahwa sukses dan gagal, berjalan beriringan selama tahun yang akan lewat itu. Rasanya, tidak mungkin kita hanya mengukir cerita sukses saja atau kisah sedih semata.

Karena itulah, kita perlu renung untuk mengambil hikmah dari setiap yang kita alami. Refleksi,  menjadi momen yang tepat untuk kita menghargai pencapaian-pencapaian kita, belajar dari pengalaman yang kita hadapi, dan bersyukur atas semua yang telah kita capai.

Akhir tahun adalah sebuah waktu yang berharga untuk meninjau perjalanan kita setahun terakhir. Sudah selayaknya kita mendekati setiap pencapaian dengan rasa syukur yang mendalam, dan mendekati setiap kegagalan dengan sikap belajar yang positif.

Dengan itu, sekali lagi, waktu boleh berlalu, tetapi cinta tetap tinggal. Kita yakin bahwa cinta itu bersemayam dalam cerita keberhasilan dan kegagalan kita. Semoga kita boleh memandang cahaya cinta dari pengalaman masa lalu untuk dijadikan panduan dalam merenda hari esok yang lebih elok.

Kita harus mengakui bahwa setiap kegagalan menyimpan pelajaran berharga, dan setiap kesuksesan memerlukan dedikasi dan kerja keras.

Terima kasih dan selamat berpisah kepada tahun 2023 dan selamat datang tahun baru 2024.

Tempora mutantur etnos mutamur in illis”. Waktu berubah dan hidup manusia pun turut berubah. Tidak ada yang statis dalam aliran waktu itu. Perubahan dan transformasi merupakan bagian yang inheren dari perputaran waktu. Ketika kodrat zaman berubah, maka tak bisa dielak kita bertransformasi entah ke kutub positif maupun negatif.

*) Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *