Opini  

Waktu Berlalu, Tulisan Tetap Tinggal

Oleh: Sil Joni* 

Opini, Okebajo.com,- Kita telah melepaskan’ tahun 2023 dan menyambut tahun baru 2024. Secara personal, masing-masing kita memiliki kenangan tersendiri tentang tahun lama dan aneka harapan atau resolusi dalam memasuki tahun baru itu.

Sebagai orang yang terpikat dengan dunia literasi, saya pun coba menantang diri sendiri untuk tetap menekuni dunia itu pada tahun 2024. Anggap saja tulisan ini sebagai pembuka tabir apakah resolusi di atas bisa terwujud atau tidak. Terus terang, setiap pergantian tahun, saya selalu ‘berjanji’ agar pada tahun yang baru itu, saya secara konsisten menghayati ungkapan ‘tiada hari tanpa menulis’. Lalu, apakah komitmen ini, sudah berhasil saya tunaikan?

Pertanyaan itu, harus dijawab tegas: belum. Bagaimana dengan tahun 2024? Sebagai sebuah idealisme, hal itu, perlu digaungkan. Tetapi, pada tataran implementasi, rasanya tidak perlu dijawab secara definitif.

Pentingnya aktivitas menulis, hemat saya, bisa menjadi bahan refleksi pada akhir tahun semacam ini. Ungkapan Latin, tempus fugit sriptura manet (waktu berlalu, tulisan tetap tinggal) sangat relevan untuk dijadikan pegangan. Menulis merupakan salah satu cara ‘mengawetkan’ pengalaman pada tahun yang berlalu.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, ujar Pramoedya Ananta Toer.

Pada kesempatan lain, sastrawan besar Indonesia, nominator hadiah ‘Nobel sastra’ itu menulis demikian: “Menulislah, apapun. Jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna”.

Ada dua hal yang hendak saya refleksikan di sini. Pertama, ‘yang penting tulis, tulis, dan tulis’. Kuncinya adalah ada aksi atau kegiatan konkret, yaitu menulis. Tindakan menulis menjadi pusat perhatian. Apakah tulisan itu ‘dibaca’ atau tidak oleh orang lain, itu tidak penting.

Kedua, ‘suatu saat, (aktivitas menulis dan tulisan itu) pasti berguna’. Siapa yang menyangkal soal besarnya pengaruh positif yang kita rasakan dari keseringan dan keseriusan kita dalam menekuni dunia menulis? Cepat ata lambat, kebiasaan menulis itu, pasti memberikan nilai plus pada pribadi yang bersangkutan.

Selain itu, entah disadari atau tidak, pada satu titik, sebagian tulisan itu, bisa menginspirasi orang lain. Dengan perkataan lain, tulisan itu membawa nilai guna bagi publik pembaca. Karena itu, menulis itu identik dengan aktivitas amal atau berbagi. Kita membagi pengetahuan secara gratis kepada sesama. Menulis, dengan demikian, dapat juga dianggap sebagai sebuah ibadah. Dalam ritual itu, kita mewartakan kebaikan kepada pembaca.

Jika kita mengamini bahwa menulis merupakan bagian dari ibadah dan amal, maka semestinya, kita menggauli aktivitas itu setiap hari. Dalam sehari, minimal kita memproduksi satu tulisan sederhana. Tetapi, apakah hal itu mungkin terlaksana? Apakah saya sanggup mengerjakan proyek aktualisasi diri ini pada tahun 2024 nanti?

Dari sisi ideal, kita bisa mengatakan bahwa bila tekat kita kuat, maka menghasilkan satu tulisan sederhana setiap hari, bukan hal yang mustahil. Bisa juga, pertanyaan di atas dijawab dengan gampang bahwa tidak sulit untuk membuat satu tulisan setiap hari. Bukankah setiap hari kita menulis ‘status atau komentar’ di media sosial dalam pelbagai aplikasi?

Tanggapan semacam itu, dalam level tertentu, sah-sah saja. Tetapi, apakah menuangkan status atau komentar singkat itu, bisa disebut kegiatan menulis dalam arti yang sebenarnya? Menulis yang saya maksudkan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara serius. Kita memproduksi tulisan yang mendalam dan berbobot dalam pelbagai genre. Jadi, bukan sekadar ‘memasang sejumlah huruf’ di laman media sosial.

Untuk itu, pertanyaannya adalah mungkinkah kita bisa menghasilkan satu tulisan berbobot dalam satu hari? Saya kira, orang yang sudah sering menulis mungkin akan berkata mudah. Tetapi, bagi pemula seperti saya ini, hal itu sangat sulit.

Alasan utamanya, saya kurang konsisten dalam menekuni dunia menulis itu. Pada fase tertentu, oleh karena pelbagai kesibukan, gairah untuk menulis berkurang atau lesu. Kita tahu bahwa membangun semangat dan menjabarkannya dalam bentuk tulisan ternyata membutuhkan usaha yang kuat. Persis usaha dan tekat yang kuat itulah yang masih kurang dalam diri saya.

Masing-masing kita, tentu mempunyai alasan yang beragam mengapa kita sulit menulis setiap hari. Umumnya, tidak percaya diri, menjadi alasan untuk ragu menulis. Muncul rasa khawatir, jangan sampai tulisan kita jelek, tidak disukai pembaca, dan takut diejek. Ada juga yang beralasan tidak bisa mengetik, tidak paham dengan cara menulis kalimat, tidak ada ide, tidak tahu cara memulainya, dan masih banyak lagi alasan yang sering terdengar ketika akan menulis.

Saya pikir, kita bisa menerima alasan seperti itu untuk konteks penulis pemula. Hal-hal yang diutarakan itu sangat wajar karena memang belum mencobanya. Tetapi, alasan yang banyak itu dapat kita tepis jika tekad sudah kuat.

Jika ada niat sejak bahwa kita akan menulis, maka saya optimis orang tersebut bakal ‘kecanduan’ menulis. Bahkan boleh jadi, dengan tekad yang teguh, kita bisa menulis lebih dari satu artikel setiap hari.

Mungkin tips yang paling sederhana adalah menulis hal-hal konkret melalui gaya bercerita. Kita menulis seolah-olah kita sedang menceritakan sesuatu yang nyata kepada pembaca. Mulai menulis dari hal sederhana bisa menjadi permulaan yang baik. Menceritakan kejadian sehari-hari, menuliskan pengalaman pribadi atau orang lain, dan menyampaikan keinginan atau pendapat . Itu semua dapat kita jadikan bahan untuk membuat tulisan.

Teknologi digital dalam pelbagai platform, bisa menjadi instrumen yang murah dan mudah untuk berlatih menulis. Kuncinya adalah ada kemauan untuk memanfaatkan perangkat digital untuk memproduksi karya.

Saya sudah membuktikan bahwa media sosial, terutama Facebook, menjadi sarana yang pas untuk menulis artikel opini. Sebagian goresan itu, ditayangkan di media online. Kendati tidak setiap hari saya menulis, tetapi saya sudah merasakan betapa besar pengaruh media sosial ini bagi karier kepenulisan saya.

Boleh jadi, banyak di antara warga-net yang sering menulis status di jejaring sosial ini. Setiap kali melakukan kegiatan atau merasakan sesuatu, pasti langsung pasang status. Tak ada yang salah dengan kebiasaan semacam itu. Namun, tidak salah juga untuk mengasah dan meningkatkan kecakapan menulis, dari sekadar menulis status ke menulis artikel ilmiah populer atau menulis karya fiksi.

Dengan perkataan lain, status yang kita tulis itu, bisa dielaborasi lebih jauh dan dalam, menjadi sebuah artikel opini yang bernas.Tegasnya, untuk kepentingan ‘berlatih menulis’, kita dapat membuat status dengan lebih panjang dan bermanfaat untuk dibagikan. Biarkan pembaca melihat perubahan gaya tulisan, kita dan akhirnya akan memberikan feedback untuk dijadikan motivasi.

Terus terang, saya tidak langsung berurusan menulis artikel opini ketika pertama kali bergaul dengan Facebook. Tahun-tahun awal, saya lebih banyak menulis ‘status’ yang pendek. Hanya sesekali, saya menulis agak panjang dan diekspos sebagai artikel opini di beberapa media dalam jaringan (daring). Tetapi, semakin ke sini, saya semakin ‘ketagihan’ untuk menulis artikel dalam langgam ilmiah populer.

Jadi, sekali lagi, meminjam pendapat Pramoedya Ananta Tour di atas, tak usah khawatir dengan pendapat orang lain tentang tulisan kita. Masalahnya adalah kita menjadi ‘terbebani’ dengan penilaian itu. Kita akan merasa kaku, kurang percaya diri, dan akhirnya batal untuk menulis.

Poinnya adalah selama kita menulis dengan niat yang baik maka lakukanlah. Memberikan manfaat dan berbagi kebaikan untuk orang lain melalui tulisan, merupakan sebuah kebajikan. Biarkan orang lain memberikan pendapat sesuai dengan perspektifnya. Kita mesti arif dalam menanggapinya. Catatan dan masukan dari orang lain, bisa menjadi terapi untuk kita memperbaiki diri.

Sampai di sini, pernyataan ‘satu hari satu karya tulis’, menjadi seruan etis sekaligus tantangan bagi penulis pemula. Sebuah tantangan yang dapat melecut motivasi dan dijadikan sarana untuk belajar menulis. Konsistensi dan managemen waktu yang baik, menjadi prasyarat mutlak untuk mewujudkannya. Ada pengorbanan dan kerja keras agar terbiasa menulis. Tapi itu bukanlah hal mustahil dilakukan jika niat sudah diucapkan.

Perlu nafas panjang untuk menekuni kultur literasi. Selama ini, kesan saya, aktivitas literasi di Manggarai Barat (Mabar), timbul-tenggelam. Ada saat tertentu, kita bersemangat untuk menulis dan membagikan tulisan itu di media sosial. Tetapi, setelah itu, untuk jangka waktu yang lama, kita tidak menulis lagi. Belum ada yang masuk dalam kategori penulis produktif.

Modal awal untuk bisa menulis adalah ‘keberanian’ untuk memulai kegiatan menulis itu. Mesti ada keberanian untuk menampilkan karya tulis kita di depan umum, meski masih dalam taraf latihan.

Tidak berlebihan jika dibilang media sosial menjadi laboratorium untuk bereksperimentasi. Tetapi, tentu sebuah langkah maju jika kita mengirimkan karya tulis ke media cetak. Itu menjadi pengalaman yang luar biasa bagi penulis pemula. Singkatnya, semua media harus kita coba agar dapat memotivasi diri untuk terus menulis. Bergabung dengan komunitas yang sesuai pun dapat kita lakukan sebagai ajang untuk bertukar pendapat dan informasi.

Untuk urusan ‘gaya menulis’, saya pikir tidak ada yang final. Kita berada dalam proses untuk menemukan model tulisan yang kita sukai. Namun, kalau dapat, ketika sudah berhasil dengan sebuah tulisan, maka cobalah lagi menulis dengan gaya yang lain.

Jika sebelumnya kita berhasil menulis status yang lebih panjang atau artikel opini, pada episode berikutnya, kita bisa mencoba menulis puisi, cerpen, artikel berita (jurnalistik), dan jenis tulisan lainnya. Intinya, kita terus mengeksplorasi dan mengaplikasikan pengetahuan yang sudah didapat. Tepis semua kekhawatiran dan mulailah menulis. Kita akan banyak belajar ketika kita sudah mencobanya. Spirit trial and error’, bisa diterapkan untuk tiba pada fase ‘terampil menulis’.

Berkolaborasi dan berbagi, merupakan dua istilah yang cukup populer dalam dunia manajemen pendidikan saat ini. Menumbuhkan budaya literasi, khususnya menulis, selain bisa dicapai melalui kerja keras individu, juga bisa dibuat secara kolaboratif. Kita bisa saling berbagi bagaimana semestinya menghidupkan kebiasaan menulis itu. Membagi praktik baik itu, bisa disalurkan melalui tulisan. Mari ‘berbagi’ kue kebaikan melalui tulisan.

Di atas semuanya itu, tentu kita ingin meninggalkan warisan (legacy) kepada generasi mendatang. Tulisan adalah ‘monumen’ yang membuat kita hidup selamanya. Raga boleh tiada, tetapi anak rohani tak pernah mati. Waktu boleh terbang, tetapi warisan rohani kita tetap tinggal selamanya di dunia fana ini. Mari, gauli aktivitas menulis itu pada tahun 2024 agar tidak tenggelam dalam arus sejarah. Tunggu apa lagi?

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *