Opini  

Pohon, Penyelamat Bumi

Pohon Penyelamat Bumi
Panorama alam yang sejuk di SMK Stella Maris Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Foto/Silvester Joni

Oleh: Sil Joni*) 

Opini, Okebajo.com, – Cuaca semakin extrem dalam beberapa tahun terakhir. Kita yang berada di wilayah tropis sering mengeluh bumi terasa panas menyengat. Terik matahari terasa membakar kulit. Debu tampak mengepul di mana-mana.

Tentu ini sebuah keadaan yang sangat mencemaskan. Jika kondisi extrem ini tidak dikendalikan, cepat atau lambat, riwayat dunia bakal tamat. Kita tidak ingin kisah kiamat itu datang begitu cepat.

Masalahnya adalah “Bumi hanya satu”, tulis Barbara Ward. Sementara itu, laju pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup semakin tak terbendung. Bersamaan dengan itu, aksi ‘eksploitasi dan pencemaran terhadap wajah Ibu Bumi oleh manusia kian massif.

Para ilmuwan alam memprediksi bahwa 50 tahun lagi, planet bumi ini sudah tidak layak huni. Ramalan dari lapangan saintifik ini seakan mendekati kebenarannya jika kita konfrontir dengan kondisi ekologi di kekinian. Suhu bumi terus meningkat dari tahun ke tahun. Isu global warning bukan isapan jempol semata.

Unsur penopang ‘keberadaan bumi” kian tergerus oleh ulah manusia sendiri. Jangan salahkan alam/bumi jika saat ini kita merasakan “krisis/bencana ekologi” yang mengerikan. Kemarau atau kekeringan berkepanjangan, temperatur yang tak bersahabat, perubahan iklim yang sulit diprediksi, banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi/tsunami dan sederetan prahara ekologi yang mematikan sudah sangat akrab dengan kehidupan manusia modern saat ini.

Berhadapan dengan fakta kerapuhan ini, apa yang bisa kita buat? Bersuara dari “padang gurun kenabian” saja tidak cukup. Kampanye menyelamatkan ibu bumi mesti menjadi sebuah gerakan bersama dan menjadi sebuah “kultur yang hidup” di semua belahan dunia.

Kita mesti “bangkit” untuk melawan dan mengikis semua bentuk perilaku destruktif yang membahayakan kelangsungan eksistensi bumi ini seraya mengambil langkah aksi yang signifikan guna “menahan” laju kerusakan ekologi”.

Kendati demikian, kita tetap mengapresiasi suara ‘kegelisahan profetis’ dari para nabi ekologi terkait dengan keringkihan alam dan kejahilan manusia dalam ‘memperkosa’ keindahan alam. Suara kenabian seperti ini, kendati kerap ditanggapi secara sinis, kian urgen dan relevan saat ini.

Poin kita adalah manusia dan alam tetap “menjalin relasi simbiosis mutualisme”. Kita bersatu dalam spirit persaudaraan yang universal. Manusia dan alam berada dalam posisi setara sebagai anggota komunitas kehidupan (biosentrisme).

Menanam satu batang pohon, mesti menjadi sebuah ‘habitus baru’ agar lapisan ozon tidak lekas jebol. Ditengarai bahwa isu pemanasan global itu sebagai akibat dari ‘pengikisan lapisan ozon’ karena suplai oksigen semakin berkurang. Terbatasnya pasokan oksigen, tentu saja sebagai efek dari laju pengrusakan hutan yang tak terkontrol.

Kita tahu bahwa pohon merupakan produsen oksigen yang berkualitas. Menebang pohon, dengan demikian identik ‘memotong sumber hidup’. Hanya pohon yang bisa ‘menyelamatkan bumi’ yang sedang sekarat ini.

Oleh sebab itu, mari selamatkan bumi dengan cara menanam pohon dan menahan diri untuk tidak menebang pohon secara liar dan serampangan. Pohon adalah penyelamat bumi. Kita mesti menanam dan merawat ‘sang mesias ekologi’ itu secara konsisten dan berkesinambungan.

Satu pohon saja, itu sudah cukup membuat ibu bumi bertambah bugar. Apalagi kalau ribuan dan bahkan jutaan pohon yang ditanam, nafas manusia diperpanjang.

Komunitas SMK Stella Maris dibawah kepemimpinan Rm. Kornelis Hardin, relatif sukses ‘menghidupkan’ gerakan menanam pohon itu. Jika anda berkesempatan mengunjungi sekolah itu, anda bakal menikmati panorama alam yang menawan. Anda bakal merasakan udara yang sejuk dan bersih di bawah pepohonan yang hijau dan asri.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *