Opini  

Sepak Bola dan Politik, Adu Skill

Oleh : Deo Hironimus)* 

Opini, Okebajo.com, – Liga sepak bola antar klub Eropa semakin banyak diminati oleh para pemain-pemain baru diawal tahun musim panas. Bursa transfer pemain semakin tinggi. Sang mega bintang Cristiano Ronaldo hengkang dari Real Madrid FC ( Spanyol) ke Al Nassr FC . Cristiano Ronaldo bergabung dengan Al Nassr, klub Arab Saudi pada awal tahun 2023 lalu tentu mengejar popularitas dan duit.

Kabarnya Cristiano Ronaldo tahun 2024 jika akan menandatangani kontrak sampai musim panas 2029. Angkanya 200 juta Euro per tahun atau setara Rp. 3 Triliun. Dengan kelincahan dan taktik mencetak gol tak diragukan lagi kualitasnya di lapangan hijau. Para fansnya dan idolanya di dunia sangat banyak.

Setelah hengkang dari Real Madrid FC. Semangat para pemain-pemain muda Real Madrid semakin membara bukan karena Cristiano Ronaldo semangat memudar. Bukti kekompakan itu sudah kantongi piala Super Copa Espanyol diawal musim panas 2024 setelah tumbang Barcelona FC pekan lalu. Klub bola Real Madrid FC itu menjadi klub favorit saya sejak tahun 2014 lalu, kenapa demikian karena klub satu ini suka membuat kejutan di menit terakhir pertandingan. Kegagalan Barcelona FC mutlak bukan kegalauan para fans, melainkan kegagalan pelatih dan tim menyusun formasi (line up). Kurang lebih seperti itulah.

Jadilah pemain dan pendukung yang berintegritas

Dunia sepak bola Eropa semakin panas, juga panggung politik (demokrasi) di negeri ini datang lagi dan ganas. Tinggal hitungan minggu saja masyarakat yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tentu tanggal 14 Februari 2024 mendatang, hal ini yang ditunggu-tunggu oleh kontestan yang merebut juara dalam ajang legislatif sampai eksekutif negeri ini.

Uniknya tanggal 14 Februari 2024 mendatang sudah dianggap oleh dunia sebagai hari kasih sayang (Valentine Day) sedunia. Maka dari itu gunakan hak pilih anda sebagai bentuk dukungan dan kasih sayang seperti tokoh Valentinus.

Para calon legislatif (caleg) menerapkan beberapa konsep dan strategi yang cerdik ( cerdas, dedikasi dan kreatif) dimata publik. Para calon wakil rakyat pajang poster dengan berbagai ukuran, visi dan misi yang jelas dan gaya foto yang apik dan elegan. Hal itu menambah kekhasan setiap individu.

Panggung politik dan sepak bola sama sama susah diprediksi di arena kontestan. Jika menang tentu saja adalah keberhasilan strategi cerdik dari para tim. Jika kalah mari kembali merefleksikan diri. Jangan salahkan siapa bila akhirnya berlalu ( seperti lirik lagu Pance Pondaag nostalgia 90-an).

Jadilah pemilih yang cerdas

Menjadi pendukung dalam dunia sepakbola harus mampu menahan emosi, junjung tinggi sportivitas, kontrol diri, dan jaga hati. Demikian juga menjadi fanatik dalam mendukung caleg (orang) legislatif sampai eksekutif harus mampu bersikap jujur mendukung tanpa merugikan orang lain. Mendukung dalam media sosial (medsos) harus berhati-hati sehingga tidak terkesan meresahkan setiap hati individu, kelompok, golongan, keluarga dan publik.

Panggung demokrasi adalah panggung masyarakat memilih atas dasar suara hati, bukan politik uang yang memamerkan kekayaan paslon ( money politics). Pemilih cerdas, pikiran dan kecerdasan memilih menolak amplop putih alhasil terciptanya orang (caleg) yang berkualitas lima tahun ke depan.

Sebagian masyarakat (pemilih) di negeri ini cerdas. Setiap orang punya hak untuk memilih dan itu sudah diatur pasal 43 ayat (1 dan 2) undang -undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dinyatakan, “setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil”

Oleh karena itu, pemain yang cerdik ( cerdas, dedikasi dan kreatif) tanpa harus frustrasi dengan kontestan yang cukup menguras ini. Jadilah pemenang yang berintegritas, berkualitas dan moral yang baik. Seperti pepatah lama mengatakan bahwa “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Kegagalan juga merupakan bagian dari proses kesuksesan. Demikian pula dengan seorang pemenang akan berutang sesuatu kepada semua orang. Dia tidak akan pernah bisa membayar semua bantuan yang dia dapatkan, untuk membuatnya menjadi idola terkenal.

Sampai saat ini saya sebagai masyarakat pemilih bangga dengan kinerja para pengawas pemilu yang super rapi dan sehat. Bukti kekompakan itu jelas ada, para pengawas kompak bukan main, mereka sudah dibekali dengan materi yang bernas dalam beberapa rapat internal pemilu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan stakeholder yang berkepentingan dalam pengawasan pemilu merupakan pekerja keras yang sudah berlari jauh sebelum kontestan mendaftar di KPU dalam pertandingan merebut kursi panas. Mereka adalah wasit hebat sudah dilantik yang akan meniup peluit tanda pertandingan berakhir. **

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *