Opini  

Sosok Cerdas dan Cantik

Mengenang Helti Murniati Yuliana

Helti Murniati Yuliana. Foto/Sil Joni

Oleh: Sil Joni* 

Opini, Okebajo.com, – Berita ‘kepergian’ Helti Murniati Yuliana atau yang biasa disapa Yulti Panding, beredar begitu cepat pada 29 Januari yang lalu. Grup WA alumni SMAK St. Ignatius Loyola angkatan 1999 sudah pasti berisi tentang warta duka itu dan ucapan belasungkawa serta pelbagai bentuk dukungan, baik moral maupun material kepada keluarga yang ditinggalkannya. Semua teman angkatan dari Yulti terutama yang tergabung dalam grup WA Loyola Family 99, sangat sedih dan begitu ‘terpukul’ dengan kabar duka itu.

Awalnya saya sempat tidak percaya dan merasa kalau kabar itu hanya candaan dari teman-teman. Tetapi, ucapan ‘turut berduka’ mengalir deras di media sosial terutama facebook dan WA, membuat saya yakin bahwa Yulti benar-benar ‘beralih’ dari dunia fana ini.

Kuat sekali keinginan pada saat itu untuk menulis semacam ‘obituari’ bagi almarhumah, tetapi kondisi fisik terlalu prima. Setelah merasa sedikit fit, kami coba ‘mempersembahkan’ tulisan khusus untuk beliau.

Bulan Juli 1996, untuk pertama kalinya, saya berjumpa dengan Yulti. Sebagai ‘remaja polos’ dari kampung, saya sangat kagum dengan pancaran kepribadian dari almarhumah. Maklum, Yulti bersama dengan teman-teman yang berasal dari ‘kota’, terlihat agak lain dengan kami yang sekolah di udik.

Untuk diketahui Yulti adalah alumnus SMPK Imakulata Ruteng. ‘Imakulata’ kala itu merupakan salah satu SMP di Manggarai yang prestasi akademiknya mendekati SMP Seminari Kisol dan SMPK St. Klaus Kuwu. Beberapa orang teman termasuk Yulti ‘tamat’ dari sekolah itu. Mereka terlihat begitu Percaya Diri (PD) dan dengan cepat ‘menguasai’ situasi di Loyola dan Seminari Yohanes Paulus II.

Ketika proses pembelajaran tiba, Yulti dan saya ‘duduk’ di kelas yang sama (kelas 1A). Sistem pembagian kelas waktu itu berdasarkan Nilai Ebtanas Murni (NEM). Mereka yang NEM-nya 40 ke atas, belajar di satu kelas. Yulti, dengan demikian pasti NEM-nya bagus sehingga berada di kelas 1A itu.

NEM itu, meski tidak selalu, menjadi jaminan mutu seseorang. Yulti membuktikan bahwa dirinya memang pantas berada di ‘kelas super’ itu. Beliau menjadi salah satu siswi yang kemampuan intelektualnya setara dan bahkan lebih dari anak seminari. Bagi saya, Yulti tergolong ‘siswa cerdas’ pada jaman itu.

Dengan prestasi akademik yang bagus itu, Yulti bersama kawan-kawan hebat lainnya, harus berada di kelas nomor atas ketika naik ke kelas II. Mereka yang nilai rapornya bagus, bergabung di kelas 2D. Penilaiannya bukan berdasarkan ‘peringkat kelas’, tetapi nilai Rapor. Itu berarti siswa yang masuk 10 besar di kelas 1D dan 1E, tidak otomatis bergabung di ‘kelas unggul’ itu. Sebaliknya, meski tidak masuk 10 besar di kelas 1A atau 1B, tetap masuk kategori berprestasi. Yulti dan saya, merasakan ‘serunya’ persaingan di kelas 2D itu.

Di kelas ini pun, Yulti tetap konsisten memperlihatkan kualitasnya. Seingat saya, Yulti tidak hanya menonjol di mata pelajaran tertentu, tetapi dirinya relatif ‘tertarik’ mempelajari semua mata pelajaran. Pak Thomas Jerau merekomendasikan Yulti dan bersama dengan beberapa teman di kelasa 2D untuk memilih jurusan IPA.

Lagi-lagi, Yulti dan saya berada di jurusan yang sama ketika naik ke kelas 3. Pak Thomas Jerau selaku guru Fisika membuat semacam ‘seleksi’ untuk masuk di kelas IPA itu. Yulti bersama beberapa ‘jagoan eksakta, seperti Fens Alwino, Frans De Gomes, Sales Lelo, Fery Rusmiadin, Frans Jehoda, Kornelis Karmon, Ermi Sripurnawsti, Epin Nabu dll harus merasakan ‘ketatnya persaingan’ di kelas IPA itu.

Saya dan beberapa nama yang saya sebut di atas (kecuali Epin Nabu), mulai dari kelas 1 sampai kelas 3, berada satu kelas. Karena itu, saya dan mungkin semua teman yang ‘selalu satu kelas’ dengan Yulti, tentu merasa sangat berduka. Waktu tiga tahun di Loyola, rasanya lebih dari cukup untuk membangun relasi emosional sebagai ‘teman kelas’ dengan almarhumah.

Selain cerdas, Yulti memiliki pesona lain yang tidak kalah menawan yaitu kecantikan yang natural. Tidak hanya cantik secara fisik, tetapi yang paling kuat dalam memori saya adalah ‘kecantikan batinnya (inner beauty). Yulti adalah pribadi yang murah senyum, ramah, luwus, punya selera humor dan mudah bergaul dengan dengan semua orang. Yulti bukan tipe pribadi yang tertutup.

Suasana kelas ‘semakin cerah dan ceria’ jika ada Yulti. Beliau selalu membawa aura kegembiraan baik di dalam maupun di luar kelas. Di mana ada Yulti, keceriaan dan kegembiraan pasti ada.

Canda tawanya masih segar dalam ingatan. Pohon bidara dan pohon angsono di depan kelas 3 IPA menjadi ‘pohon kenangan’, tempat semua pengalaman indah kala berseragam SMA, terpahat gagah. Boleh jadi, pohon-pohon bersejarah itu, sudah ‘tumbang’ atau mati, tetapi 1001 kenangan di bawah pepohonan Loyola tetap hidup selamanya.

Gaya berbusana dari teman Fens Alwino, menjadi salah satu bahan candaan favorit dari Yulti kala itu. Alwino sering memakai celana super ketat sehingga tampak begitu seksi. Bagian depan tampak begitu menonjol, sehingga Yulti selalu meledek teman ini ‘modok’ (tegak lurus). Mungkin menjurus ke bagian yang agak tegang dan menonjol dari ‘celana putih (seragam yayasan) yang dikenakan Alwino saat itu.

Saya kira, mungkin teman Emanuel Hardinata, yang menjadi suami dari almarhumah, terpesona dengan kecantikan holistik (luar dan dalam) itu sehingga sejak di Loyola, sudah mulai tumbuh benih cinta di antara mereka. Mungkin cinta itu tampak samar kala itu, tetapi setelah sekian lama ‘ada bersama’, maka ketika mereka kuliah di Jakarta, cinta itu jadi nyata.

Saya tidak pernah bersua muka dan atau berkomunikasi lewat media setelah tamat SMA tahun 1999 dengan Yulti. Karena itu, saya sangat ‘kaget’ dengan berita kepergiannya itu. Sudah 24 tahun lebih kita berpisah. Saya tidak tahu persis apakan senyum dan tawamu masih seperti masa SMA dulu.

Jika kembali menoleh sejenak ke beranda Loyola, rasanya engkau tidak pernah mati Yulti. Kenangan dan ingatan tentang dirimu, tetap hidup selamanya dalam diri kami, teman angkatanmu yang sangat mencintai dirimu. Gabriel Marsel, filsuf harapan dari Prancis itu benar bahwa ‘ketika kita saling mencintai, maka engkau tidak pernah mati’. Meski ragamu sudah menyatu dengan kosmos, tetapi percikan kenangan selama kita hidup bersama, tetap terjaga selamanya.

Selamat jalan teman Yulti, sosok yang cerdas dan cantik. Tuhan tentu punya rencana indah untukmu. Kami hanya bisa berdoa semoga ‘pintu surgawi’ terbuka untukmu. Doakan kami, teman-teman Loyola 1999 yang masih berziarah di dunia ini.

*Penulis adalah alumnus SMAK St. Ignatius Loyola. Tamat tahun 1999.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *