Opini  

Menangkis “Serangan Fajar”

Silvester Joni. Foto/Isth

Okebajo.com, – Biasanya, ungkapan ‘serangan fajar’ begitu ramai dipercakapkan jelang hari pencoblosan atau pemilihan para pemimpin politik. Istilah ini secara sempit mengacu pada strategi memengaruhi preferensi publik dengan cara membagi uang sebelum fajar menyingsing pada hari pemilihan itu.

Tetapi, sebetulnya serangan fajar merupakan istilah populer politik uang umumnya, terlepas apakah waktunya pagi hari atau tidak. Bentuk serangan fajar pun tidak hanya soal bagi uang.

Dalam serangan fajar itu, selain uang, pasukan politik itu juga memberi barang, jasa atau materi lainnya seperti paket sembako, voucher pulsa dan bensin. Disebut serangan fajar karena pemberian uang maupun barang-barang tersebut dilakukan pada saat tahun politik atau kampanye menjelang Pemilu dan hari pemungutan suara.

Tentu saja, serangan fajar digunakan untuk membeli suara agar memilih partai atau kader tertentu dan calon yang diusung untuk memenangkan Pemilu. Biasanya serangan fajar secara umum menyasar masyarakat menengah ke bawah saat menjelang Pemilu.

Bagi sebagian aktor politik, serangan semacam ini, dinilai sangat efektif untuk mendongkrak perolehan suara. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa sebagian pemilih ‘sangat butuh uang’ akibat diterpa aneka krisis. Selain itu, mental pragmatisme sudah menjalar ke sebagian pemilih. “Ini kesempatan untuk mendapat sesuatu dari Caleg. Jika mereka sudah terpilih, pasti mereka tidak peduli dengan kita lagi”, ungkap para pemilih pragmatis tersebut.

Jadi, serangan fajar berjalan mulus ketika politisi oportunis berjumpa dengan pemilih transaksional. Biasanya, untuk memenangkan pertandingan, para petarung akan ‘mengerahkan segala daya’ di penghujung laga. Segala cara coba dipakai agar ambisi untuk menjadi kampium kompetisi, bisa terealisasi.

Hal serupa terjadi dalam gelanggang kontestasi politik. Serangan di masa injury time, umumnya sangat efektif dalam mendulang suara. Agresi politik pada menit-menit terakhir itu, dikenal luas dengan sebutan “serangan fajar”. Setiap kubu kemungkinan menyiapkan “pasukan khusus” untuk mengeksekusi sebuah serangan politik persis menjelang fajar menyingsing.

Uang adalah senjata utama yang terbukti begitu jitu dalam “menembak hati” konstituen. Di hadapan kuasa uang, rasionalitas dan hati nurani, tampak terkulai. Hanya dengan ‘selembar rupiah’, pendirian kita bisa goyah. Politisi medioker yang ambisius, biasanya menjadikan ‘serangan fajar’ ini sebagai skenario gemilang dalam memenangkan pertempuran.

Politik uang itu, memang sulit dideteksi. Tetapi, bau amisnya begitu menyengat. Meski beroperasi dalam senyap, money politic sejatinya bersifat destruktif. Praksis berdemokrasi bakal semakin kerdil sebab aspirasi publik dalam mendapatkan pemimpin yang bermutu, tersandera oleh kuasa uang. Publik tidak bisa secara otentik dan rasional dalam menentukan calon pemimpinnya.

Beberapa jam lagi, para pemilih akan ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk ‘memilih’ para wakil di semua level dan pemimpin politik nasional. Bagi para petarung, waktu beberapa jam itu terasa sangat lama. Bukan tidak mungkin, jurus-jurus pamungkas coba digunakan untuk ‘menjemput’ momen pemilihan itu.

Sebagai konstituen, kita mesti waspada. Pastikan bahwa ‘perisai moral’ tidak jebol di menit akhir itu. Tembok pertahanan diri perlu diperkuat untuk menangkis setiap ‘serbuan politik kotor’ menjelang fajar itu.

Sigap membaca ‘gestur politik’ laskar politik yang ‘menyerang’ rumah kita, menjadi sebuah keharusan. Kita perlu mengambil sikap tegas. Jangan ragu untuk menghajar mereka yang dicurigai sebagai bagian dari ‘pasukan serangan fajar’ dari kubu politik tertentu.

Menjelang hari pencoblosan itu, kita bisa belajar untuk ‘menghardik’ tim yang berlaku curang dan mungkin kurang ajar. Hanya dengan ketegasan semacam itu, kontestasi Pileg dan Pilpres benar-benar menjadi ajang pemanifestasian ‘kedaulatan publik’ dalam membidik figur yang berkompeten, berkapasitas, dan berintegritas.

Jangan beri ruang bagi yang beruang untuk mengibuli kesadaran para pemilih. Ketika kesadaran publik terdistorsi, maka ongkosnya terlalu mahal. Demokrasi tidak sanggup menghantar publik ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Pemimpin politik yang lahir dari proses demokrasi yang berkualitas, berpotensi menghadirkan perubahan yang signifikan bagi publik. Menangkis serangan fajar, menjadi sebuah keharusan. Selamatkan demokrasi dengan ‘meludahi’ legium serangan fajar.

Oleh: Sil Joni)*

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *