Pemilu, Kasih, dan Politik Rabu Abu

Silvester Joni. Foto/Isth

Okebajo.com, – Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih presiden-wakil presiden, anggota DPR Kabupaten, Propinsi, dan Pusat serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) telah digelar pada Rabu, (14/2/2024). Kontestasi politik itu dibuat bersamaan dengan perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Day) dan ibadat Rabu Abu bagi umat Katolik.

Demi alasan praktis, sebagian paroki, termasuk Paroki Longgo, tempat kami berdomisili, pelaksanaan Misa Rabu Abu itu, diundur ke Hari ini, Kamis (15/2/2024). Meski ditunda, tetapi makna atau esensi dari ritual itu tetap sama, refleksi atas kerapuhan manusiawi kita yang ditandai dengan tindakan pengolesan abu di dahi.

Tulisan ini bermaksud ‘merenungkan’ keterkaitan makna antara tiga peristiwa besar itu (Pemilu, Valentine Day dan Rabu Abu). Perspektif politik dipakai untuk menggeledah’ kandungan makna untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan bersama.

Dengan perkataan lain, politik menjadi jembatan sekaligus benang merah antara Pemilu, Hari Kasih Sayang, dan Rabu Abu. Tindakan politik dihubungkan dengan ‘kasih’ (politik kasih) dan upacara Rabu Abu (politik Rabu Abu).

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Tusuk dengan ‘Kasih Sayang’, (Okebajo.com, 14/2/2024), kami telah membentangkan secara amat singkat perihal ‘unsur kasih dalam politik’. Politik dilihat sebagai medan perwujudan kasih kepada sesama (masyarakat) yang dilayani oleh para pemimpin politik yang terpilih dalam sebuah kontestasi.

Kasih, cinta tanpa kalkulasi pragmatis, semestinya dijadikan landasan dan referensi bagi para elit dalam mendesain dan mengeksekusi pelbagai kebijakan publik itu. Itu berarti kekuasaan yang diraih itu, bukan sebagai sarana memperkaya diri dan keluarga, tetapi sebagai instrumen menjelmakan tindakan kasih kepada orang lain. Kebahagiaan dan kesejahteraan warga menjadi patokan apakah kasih itu sudah ditunaikan secara tulus dan adil atau tidak.

Para politisi dipanggil untuk menata bangsa dan negara dengan spirit cinta kasih. Mereka mendedikasikan dirinya untuk ‘menghadirkan wajah kasih’ yang terbaca dari perubahan tingkat kemaslahatan publik.

Karakter utama dari kasih adalah memberi. Kapasitas politik coba dipersembahkan seutuhnya untuk kebaikan bersama (bonum commune). Kasih itu juga bersifat liberatif dan mengkreasi ruang komunikasi dan relasi yang inklusif. Jadi, orientasi politik kasih adalah kasih adalah penguatan kapasitas dan rasa percaya diri warga, bukan menaburkan kebencian, rasa takut, dan pesimisme.

Rabu Abu, dalam derajat tertentu bisa menjadi momentum penerapan politik kasih dalam pelbagai sendi kehidupan bersama. Mengapa? Dalam tradisi Iman Katolik, abu adalah simbol kerapuhan manusiawi. Itulah sebabnya pada hari Rabu Abu, setiap orang Kristiani yang ditandai dengan Abu diingatkan dengan pesan ini: “Ingatlah bahwa Engkau ini abu dan akan kembali kepada abu atau Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil”.

Para politisi mesti sadar, bahwa tubuh politik bangsa ini, masih rapuh. Virus korupsi, kolusi dan nepotisme terus menggerogoti wajah negeri ini. Efeknya, proyek kesejahteraan publik, tidak berjalan optimal. Politik Rabu Abu mengingatkan para pemimpin untuk ‘bertobat’ (baca: tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri).

Dengan kata lain, Rabu Abu menyadarkan penguasa untuk ‘tidak bersikap abu-abu’ terhadap pelaksanaan misi memperbaiki kondisi kehidupan publik. Politisi, dalam spirit Rabu Abu, tidak boleh menjadi penipu, pembohong, dan bersikap abu-abu (tidak tulus).

Boleh dibilang bahwa dalam politik Rabu Abu, kualitas politisi ditentukan keberanian mengakui, menyesali dan bertobat atas kesalahan dan dosa politiknya serta sanggup untuk membaharui serta dibaharui oleh spirit kasih persaudaraan.

Berharap para pemimpin yang terpilih dalam kontestasi ini, diilhami oleh semangat Rabu Abu dalam menjalankan politik kasih yang didasari oleh ‘rasa sesal dan tobat politik masa lalu’. Nafas Rabu Abu hendaknya merasuki setiap pribadi untuk menghidupi kebajikan dan melawan keburukan yang timbul dari ego berkuasa. Politik Rabu Abu, yes dan politik abu-abu, no!

Kita sudah memilih dengan kasih para pemimpin yang dinilai penuh dengan kasih itu. Proses perhitungan dan rekapitulasi suara sedang berlangsung. Dalam semangat kasih dan persaudaraan politik yang universal, tentu kita menerima hasil kontestasi yang akan diumumkan oleh lembaga resmi.

Fokus kita sekarang adalah melihat lanskap politik penuh kasih, damai dan penuh persaudaraan sejati. Sebagai publik, kita mesti kawal agar pergerakan politik dari para wakil rakyat dan pemimpin politik, tidak keluar dari rel politik kasih di mana etika dan moral menjadi panduan utama.

Akhirnya, Pemilu yang diselenggarakan bertepatan dengan Valentine’s Day dan ritual ‘Penerimaan Abu, mendorong para penguasa dan kita semua, untuk menerapkan politik kasih secara konsisten yang dilatari oleh kesadaran akan kerapuhan diri. Kesadaran semacam ini melahirkan rasa sesal dan tobat yang memotivasi kita untuk menghadirkan wajah politik yang otentik, sebagai sarana menyalurkan rahmat kasih kepada sesama.

Sebetulnya, bukan kepentingan yang diutamakan dalam politik, melainkan kasih. Ketika unsur kasih itu menjiwai tindakan politik, maka dengan sendirinya kepentingan sudah terwujud. Jadi, yang abadi bukanlah kepentingan melainkan kasih. Seperti apakah wajah peradaban politik tanah air, jika mayoritas pemimpinnya, diselimuti semangat kasih yang otentik?

Peradaban demokrasi akan hancur, ketika politik kasih diabaikan. Kita tidak ingin demokrasi jatuh lagi ke jurang otoritarianisme di mana ‘politik kasih’ kian menjauh. Para penguasa lebih senang mempraktekan ‘politik nafsu’ agar kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok lekas tercapai.

Oleh: Sil Joni)*

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *