Opini  

Tantangan dan Solusi Kesehatan Mental Anak Generasi Z

Oleh : Yohanes Bernard Koban

OPINI, Okebajo.com, – Tahun silih berganti, maka generasi baru pun lahir ke dunia terutama Generasi “ Z “ yang mana kita akan bahas disini adalah hubungan antara Kesehatan mental dan Generasi Z. Generasi ini sering disebut dengan generasi yang manja, maunya serba instan, dan healing melulu.

Generasi Z tumbuh di era teknologi sedang berkembang dengan pesat. Internet, media sosial, aplikasi pesan makan, aplikasi transportasi, aplikasi kencan online, dan masih banyak lagi, sehingga terjadi banyak perbedaan dengan generasi sebelumnya yang mana semakin berkembangnya dunia semakin banyak tekanan dunia kerja, social dan kehidupan dirumah serta ekspetasi yang tinggi sehingga ketika tidak sesuai yang di harapkan maka akan banyak kecewa.

Sesuai perkembangan zaman yang semakin maju banyak orang harus dituntut untuk kuat secara jasmani terutama mental. Dewasa ini kesehatan mental sendiri sering menjadi topik pembicaraan.

Generasi Z sendiri adalah generasi yang lahir pada tahun 1995-2010. Pada tahun 2020 mahasiswa generasi Z juga semakin rentan terhadap ganggungan kesehatan mental yaitu depresi. Kesehatan mental merupakan keadaan yang baik dimana seseorang dapat menyadari potensi diri mereka yang sebenarnya, dapat mengatasi stress normal dari hidup, serta dapat bekerja secara produktif dan kian berkontribusi terhadap lingkungannya.

Di Indonesia kasus bunuh diri dan tingginya kasus yang berhubungan dengan kesehatan mental termasuk depresi juga semakin meningkat. Salah satu penyakit mental yang sedang banyak dialami umat manusia adalah depresi. dimana berdasarkan Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ membenarkan adanya peningkatan tersebut.

Dalam praktek klinisnya, dr Lahargo mengungkapkan gangguan kesehatan mental yang paling banyak ditemui pada Gen Z adalah gangguan kecemasan, depresi, dan bunuh diri. Gangguan kesehatan mental Generasi Z meningkat hingga 200%.

Seperti dilansir dari laman Kemenkes, sebanyak 6,1 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Generasi Z merupakan golongan individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Dalam hal ini, mereka juga dihadapkan dengan berbagai tekanan dan tantangan yang unik era digital dan sosial media.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA), Generasi Z memiliki tingkat stres yang lebih tinggi daripada generasi lainnya. Dikatakan hanya ada 45% Generasi Z yang memiliki kesehatan mental baik atau sangat baik. Selain itu, Generasi Z juga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, bipolar, dan ADHD.

Banyak hal-hal yang mempengaruhi faktor Kesehatan mental tersebut seperti genetik , pola asuh orang tua yang salah salah satu contohnya kurang kasih sayiang karena orang tua yang sibuk bekerja atau orang tua yang bercerai dimana seperti kita ketahui peran orang tua sangat penting untuk pertumbuhan mental anak, pendidikan yang tidak terpenuhi, regulasi emosi yang tidak tersalurkan, keterampilan sosial yang kurang, perubahan pola makanan yang mana makan seperti anoreksia, bulimia, atau kebiasaan makan yang tidak sehat sering terjadi pada Generasi Z.

Hal ini karena tak jarang dari mereka yang merasa mendapat tekanan untuk memiliki bentuk tubuh yang sempurna, sesuai dengan standar kecantikan yang sering ditampilkan di media sosial, gangguan tidur karena kecanduan media sosial dan gadget dapat mengganggu pola tidur Generasi Z. Alhasil, mereka menjadi kurang tidur dan istirahat.

Kekurangan tidur atau istirahat ini pastinya bisa memengaruhi kesehatan mental mereka, mood yang sering berubah-ubah sehingga menyebabkan seseorang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrim dan tidak stabil. Hal ini bisa berdampak pada perilaku impulsif, agresif, atau menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan fungsi otak karena tekanan yang berlebihan, kurang tidur, dan kecanduan teknologi dapat menyebabkan penurunan fungsi otak.

Generasi Z bisa saja menjadi kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Bukan hanya itu ternyata dampak teknologi informasi meski tak selamanya buruk, perkembangan teknologi ini melahirkan dampak negatif seperti cyber bullying, adiksi terhadap media sosial dan game, serta judi online juga rentan mengganggu kesehatan jiwa Gen Z.

Karena menurut laporan Gen Z Global 2022 McKinsey Health Institute berdasarkan laporan survei yang sama, Gen Z yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk menggunakan media sosial cenderung memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk bila dibandingkan dengan generasi lainnya, Gen Z adalah generasi yang paling banyak memperoleh dampak negatif dari media sosial karena keberadaan media sosial menyebabkan Gen Z membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Hasilnya, mereka mengalami penurunan kepercayaan diri hingga mental yang terganggu.

Membuat diri merasa tak sepadan, tak selevel yang berujung pada rasa insecure secara berulang dan berlebihan. Namun hal- hal diatas bisa diatasi apabila langkah pertama yang paling penting adalah mengenali gejala gangguan kesehatan mental dan mencari bantuan profesional sesegera mungkin. Jangan ragu atau malu untuk berbicara dengan orang yang kamu percaya, seperti keluarga, teman, guru, atau konselor, yang kedua menjaga keseimbangan hidup dengan melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi tubuh dan pikiran. Misalnya, berolahraga secara rutin, makan makanan sehat, tidur cukup, meditasi, hobi, atau berlibur.

Langkah ketiga adalah membangun relasi yang kuat dan mendukung. Carilah orang-orang yang bisa membuat kamu merasa nyaman, dihargai, dan dimengerti. Hindari orang-orang yang toxic atau negatif. Selain itu, batasi juga penggunaan media sosial gedget jika durasi membuat stres atau cemas. **

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

Catatan redaksi : Semua isi tulisan dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penuh dari penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *