Labuan Bajo, Okebajo.com – Ratusan lilin menyala di Puncak Waringin, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu (31/8/2025), menjadi simbol doa, duka, sekaligus perlawanan. Warga dari berbagai penjuru Manggarai Barat berkumpul dalam aksi damai bakar lilin, mengenang almarhum Affan Kurniawan yang meninggal tragis dalam demonstrasi, serta menyerukan tuntutan keadilan.
Terpantau sekitar pukul 18.00 Wita, kawasan wisata ikonik itu dipenuhi massa. Saat malam menjelang, sekitar pukul 19.30 Wita, terpantau cahaya lilin menyalakan suasana penuh haru dan khidmat. Lagu-lagu bergema, meneguhkan semangat bahwa suara rakyat tidak boleh dipadamkan.
Berbagai poster dipajang oleh peserta aksi, memuat doa, harapan, dan kritik sosial. Di antara tulisan penuh refleksi seperti:
“Semoga Negara bisa memberikan kehidupan yang layak bagi rakyat yang menghidupinya.”
“Semoga Indonesia akan dan selalu jadi rumah yang layak untuk siapapun.”
muncul pula sebuah poster yang sontak mencuri perhatian :
“Ya Allah, kasih karma tunai buat DPR dzolim, semoga bisulan seumur hidup.”
Tulisan ini sanga sederhana, jenaka, tetapi sarat makna. Kritik terhadap wakil rakyat dituangkan lewat doa dengan bahasa sehari-hari yang lugas, bahkan sedikit “nakal”, namun justru terasa lebih mengena.
Sindiran ini lahir dari keresahan masyarakat yang menilai wakil rakyat sering abai terhadap aspirasi. Kata “bisulan seumur hidup” seolah menjadi simbol penderitaan kecil namun terus-menerus, menggambarkan keinginan rakyat agar setiap tindakan zalim dibayar dengan balasan setimpa langsung, nyata, dan tunai.
Di lokasi, aparat dari Polres Manggarai Barat dan Satpol PP berjaga mengawal jalannya aksi. Tidak ada bentrokan, tidak ada ketegangan. Warga duduk bersila bersama, membiarkan lilin kecil menjadi saksi solidaritas mereka.
Berbeda dengan aksi di sejumlah kota besar yang kerap memanas, di Labuan Bajo nuansa terasa hangat, penuh kekeluargaan, namun tetap tegas menyuarakan kritik.
Waldi, perwakilan warga Pulau Rinca, menegaskan bahwa aksi ini murni gerakan solidaritas. Ia menjelaskan bahwa terang cahaya lilin ini adalah simbol harapan, sekaligus peringatan. Rakyat tidak bisa terus-menerus ditutup matanya.”
“Lilin ini menunjukkan cahaya yang terang. Semoga doa-doa kita bisa menerangi perjalanan saudara Affan di dunia akhirat,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Walaupun Affan gugur, semangatnya bisa melahirkan seribu Affan baru yang berani menyuarakan kebenaran.”
Ratusan lilin masih menyala ketika warga menundukkan kepala, mengirimkan pesan jelas ke pusat kekuasaan.
Bahwa rakyat menuntut keadilan. Bahwa suara rakyat tak bisa dipadamkan. Dan bahwa kritik, doa, hingga sindiran sekalipun bisa menjadi jalan perjuangan.
Karena bahkan doa jenaka seperti “Ya Allah, kasih karma tunai buat DPR dzolim, semoga bisulan seumur hidup” sesungguhnya adalah teriakan rakyat yang muak pada kebijakan yang tak berpihak, tapi memilih menuangkannya lewat jalan damai, penuh kreativitas, dan tetap bermartabat. **