Labuan Bajo | Okebajo.com | Di balik dinding sederhana sebuah kapela mungil di Stasi Waemasa, sebuah pesan besar tentang kemanusiaan baru saja bergema. Perayaan Misa Malam Natal tahun ini tidak hanya dirayakan dengan kemegahan liturgi, tetapi juga dengan bukti nyata persaudaraan lintas iman yang menggetarkan hati.
Perpaduan Etnik dan Iman
Kemeriahan dimulai sejak senja, ketika grup Sanda dari Kampung Ranong melakukan perarakan sakral dari halaman hingga ambang pintu kapela. Suasana semakin semarak saat ratusan mahasiswa yang tergabung dalam paguyuban Gammasando Unika St. Paulus Ruteng mengambil alih suasana dengan tarian tradisional dan harmoni suara yang memukau.
Pesan Persaudaraan dari Barisan Koor
Fokus utama umat malam itu tertuju pada barisan koor. Di tengah ratusan penyanyi, hadir tiga mahasiswi Muslim yang turut melebur dalam nada-nada pujian Natal. Kehadiran mereka bukan sekadar partisipasi, melainkan simbol kuat bahwa perbedaan agama tidak menghalangi niat untuk merajut persahabatan.
Salah satu perwakilan mahasiswi dari Paguyuban Gammasando, Vera Perkasa mengungkapkan kebanggaannya atas kebersamaan ini.
“Malam ini kami tidak hanya bernyanyi tentang kelahiran Yesus, tapi juga merayakan kelahiran rasa persaudaraan baru. Kehadiran teman-teman Muslim di tengah koor kami adalah kado Natal terindah. Ini membuktikan bahwa di kampus dan di masyarakat, kami adalah satu keluarga tanpa harus memandang perbedaan keyakinan,” ungkap Vera.
Toleransi yang Membumi
Partisipasi ketiga mahasiswi tersebut menjadi bukti bahwa semangat Lonto Leok dan toleransi di Manggarai telah mendarah daging di level akar rumput, bahkan di kalangan generasi muda (Gen Z).
Misa yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan jabat tangan hangat antarumat dan mahasiswa, meninggalkan kesan mendalam bahwa kedamaian Natal benar-benar milik semua orang yang berkehendak baik. *








