Kapal Tenggelam di Labuan Bajo, Tanda Rendahnya Kontrol Atas Kelayakan Kapal Wisata

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo, Okebajo.com – Tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat (26/12/2025) merupakan puncak gunung es rendahnya pengawasan kelayakan kapal wisata yang dilakukan Kementerian Perhubungan dalam hal ini Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Labuan Bajo.

“Ini puncak gunung es banyak masalah kapal wisata di Labuan Bajo karena minimnya pengawasan dari pihak terkait,” kata Pengamat Hukum, Dr. Edi Hardum, SH, MH ketika dimintai pendapatnya.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Edi diminta pendapat soal tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang, enam penumpang dan lima crew, termasuk kapten kapal itu. Akibatnya, empat orang tewas termasuk pelatih Club LaLiga Tim Valencia CF Women B dan tiga anaknya.

Pantauan Edi, sudah sering kapal wisata tenggelam dan terbakar di Labuan Bajo.

“Kasus kapal tenggelam dan terbakar sudah sering terjadi di Labuan Bajo,” kata advokat dari Kantor Hukum “Edi Hardum and Partners” ini.

Edi mengatakan, sering bermasalahnya kapal wisata di Labuan Bajo jelas membuat orang dari seluruh dunia yang mengetahui keindahan Labuan Bajo dari media massa dan media sosial dan ingin berwisata ke Labuan Bajo akan urungkan niatnya karena takut.

“Labuan Bajo sebagai objek wisata internasional seharusnya pengawasan kapal-kapal wisata wajib dilakukan agar nihil terjadi kecelakaan,” kata dia.

Menurut Edi, tenggelamnya KM Putri Sakinah selain cuaca buruk juga karena ada masalah pada kapal yakni kapal sempat mati mesin di tengah laut.

“Saya baca kronologi bahwa kapal sempat mati mesin. Ini menunjukan kapal tidak layak berlayar. Kapalnya sehat tentu bisa menerjang gelombang,” kata dia.

Kejadian Sebelumnya

Edi mengatakan, pada tahun pada 29 Desember 2025, sebuah Kapal Penisi Dewi Anjani karam di Dermaga Pink, Labuan Bajo, saat cuaca sedang buruk dengan hujan lebat.

Pada September 2025 pukul 20.55, KM Tiga Jaya 01, sebuah kapal phinisi wisata, terbakar di Labuan Bajo di Pelabuhan Marina Waterfront, Labuan Bajo.

Kebakaran tersebut diduga terjadi saat pengisian bahan bakar ke genset dalam kondisi mesin masih menyala, menyebabkan api membesar dan melahap hampir seluruh bagian kapal. Dua anak buah kapal (ABK) mengalami luka bakar ringan dan sudah mendapat perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya lagi yakni pada tahun 2022, pada 24 Juli 2022, kapal wisata bernama KM Maju Bersama 1 tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Kapal itu membawa 19 penumpang dan 6 ABK. Beruntung, semua orang berhasil dievakuasi dengan selamat.

Edi mendesak Menteri Perhubungan agar turun langsung evaluasi kinerja Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Labuan Bajo. “Sesuai UU Pelayaran yang berwenang mengawasi dan menegakan hukum soal pelayaran adalah Kementerian Perhubungan,” kata dia.

Edi menduga rendahnya pengawasan akan kalayakan kapal-kapal wisata di Labuan Bajo karena pihak Kesyahbadaran Labuan Bajo menerima suap atau upati dari para pemilik Kapal Wisata.

Untuk itu, Edi juga meminta Menteri Perhubungan agar mengganti Kepala Syahbandar Labuan Bajo.

“Sepertinya beliau bekerja tidak professional. Bahkan seharusnya dengan terjadi kapal tenggelam terakhir ini, dia segera mengundurkan diri,” kata Edi.

Sebagaimana diberitakan, KM Putri Sakinah berlayar pada Jumat (26/12/2025). Setelah meninggalkan Pelabuhan Labuan Bajo, kapal itu singgah di Pulau Kalong.

Sekitar pukul 20.30 WITA, kapal itu meninggalkan Pulau Kalong menuju Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perjalanan itu berubah drastis ketika kapal mengalami mati mesin di tengah laut sekitar 30 menit setelah berlayar. Tanpa mesin yang berfungsi, kapal tidak bisa bermanuver saat gelombang laut tiba tiba meninggi dan menghantam kapal dua kali. **

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *