Labuan Bajo, Okebajo.com — Deru air Sungai Wae Songka pagi itu terdengar lebih garang dari biasanya. Hujan yang turun tak menentu di wilayah Manggarai Barat membuat sungai yang memisahkan Kampung Lesem dan Desa Golo Riwu berubah menjadi arus jeram yang mengancam nyawa.
Namun, bagi 21 anak dari Kampung Lesem, derasnya sungai bukan alasan untuk berhenti mengejar mimpi. Setiap pagi, mereka harus menaklukkan arus selebar 15 hingga 20 meter itu demi sampai ke bangku sekolah.
Pemandangan mengharukan terjadi pada Rabu (28/1/2026) pagi. Sejumlah personel Polsek Kuwus turun langsung ke tengah sungai. Dengan air setinggi lutut dan arus yang kuat, para polisi satu per satu menggendong siswa berseragam Pramuka di atas pundak mereka. Seragam cokelat harus tetap kering, dan yang terpenting, keselamatan anak-anak harus terjaga.
“Kalau hujan turun di hulu, air sungai ini bisa naik drastis dalam hitungan menit. Kami tidak bisa membiarkan anak-anak menyeberang sendirian. Arusnya sangat berbahaya,” ujar Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar.
Bertaruh Nyawa Demi Sekolah
IPTU Arsilinus menjelaskan, setiap hari sebanyak 11 siswa SD dan 10 siswa SMP dari Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, harus menyeberangi sungai tersebut untuk bersekolah di SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat yang berada di desa tetangga.
Kondisi ini menjadi momok tersendiri, terutama saat musim hujan. Debit air yang meningkat tiba-tiba menjadikan sungai sebagai jalur maut, terutama bagi anak-anak dengan tas sekolah di punggung mereka.
“Kami tidak ingin pendidikan mereka harus dibayar dengan risiko nyawa. Melihat anak-anak kecil berjuang melawan arus deras seperti ini sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Jembatan Darurat, Jalan Harapan
Mendengar keresahan orang tua dan para guru, Polsek Kuwus tak tinggal diam. Selain membantu menyeberangkan siswa, mereka menggagas pembangunan jembatan darurat sebagai solusi kemanusiaan.
Jembatan tersebut akan menghubungkan Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar dengan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat—menjadi urat nadi penting bagi aktivitas pendidikan dan sosial warga.
“Ini adalah respons atas aspirasi warga dan guru. Kami melihat langsung betapa berbahayanya kondisi sungai ini saat hujan. Jembatan darurat nantinya diperuntukkan bagi anak sekolah dan masyarakat agar aktivitas mereka tidak terputus,” jelas IPTU Arsilinus.
Pembangunan jembatan darurat ini direncanakan dilakukan secara swadaya dengan melibatkan masyarakat dari kedua desa, memanfaatkan material lokal seperti batu, pasir, bambu, dan kayu.
“Sudah ada koordinasi dengan tokoh masyarakat. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama,” tambahnya.
Negara Hadir di Tengah Arus Deras
Bagi warga Kampung Lesem, kehadiran polisi di tengah sungai bukan sekadar bantuan teknis, melainkan simbol nyata hadirnya negara di saat paling dibutuhkan.
Selama jembatan permanen belum terbangun, pundak-pundak tegap para polisi menjadi satu-satunya “jembatan” yang memastikan mimpi anak-anak Manggarai Barat tidak hanyut terbawa arus.
“Dalam semangat Polri untuk masyarakat, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar jembatan harapan bagi generasi penerus bangsa ini dapat terwujud,” tegas IPTU Arsilinus.
Kini, warga berharap jembatan darurat tersebut segera terealisasi melalui gotong royong, menjadi bukti bahwa batas wilayah dan derasnya arus bukan penghalang bagi sebuah aksi kemanusiaan.








