Labuan Bajo | Okebajo.com | Tim Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Manggarai Barat hadir bukan untuk sekadar memberikan ceramah, melainkan membawa misi edukasi yang krusial bagi generasi muda di SMK Bina Mandiri, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Sabtu, 11 April 2026.
Di bawah atap ruang kelas yang sederhana namun penuh semangat, ratusan pelajar sekolah tersebut terlibat dalam percakapan penting demi menyelamatkan masa depan mereka dari bahaya HIV/AIDS.
Kepala SMK Bina Mandiri, Dionisius Rajen, S.Pd.Gr, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, kehadiran KPA adalah sebuah “hadiah” yang tak ternilai bagi para siswanya.
“Kegiatan ini adalah rahmat. Anak-anak didik kami mendapatkan ilmu yang sangat mahal secara gratis,” ujar Dionisius saat menyambut tim KPA.
Ia berpesan agar para siswa menyerap setiap informasi dengan serius, mengingat tantangan pergaulan di era modern yang kian kompleks.
Dialog Hangat: Bukan Menggurui, Tapi Melindungi
Suasana formal segera mencair ketika Sekretaris KPA Mabar, Harun Alrasid, bersama timnya, Marselinus Lukman, Robert Perkasa dan Sil Joni memulai sesi tanya-jawab. Alih-alih satu arah, forum tersebut berubah menjadi diskusi terbuka yang hangat.
Fokus utama diskusi hari itu adalah Menepis Stigma dan Membedah Fakta. Di tengah masyarakat, HIV sering kali dianggap sebagai “hantu” yang menakutkan karena minimnya informasi yang akurat. Di sinilah KPA Mabar berperan sebagai pelurus informasi.
Memahami Musuh yang Tak Kasat Mata
Marselinus Lukman menjelaskan dengan lugas namun hati-hati untuk menghancurkan stigma yang selama ini membelenggu orang dengan HIV (ODHIV).
“Virus HIV itu sebenarnya sangat rapuh. Ia tidak bisa bertahan lama di luar tubuh manusia,” tegas Marsel di depan para siswa yang menyimak dengan saksama.
Ia merinci fakta-fakta medis untuk meredam ketakutan yang tidak perlu:
Lukman menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui udara, keringat, air mata, atau sentuhan kulit seperti berjabat tangan dan berpelukan.
Penularan HIV hanya terjadi melalui cairan tubuh tertentu, yaitu darah, sperma, cairan vagina, dan Air Susu Ibu (ASI).
Perilaku Berisiko
Lukman mengatakan, kewaspadaan harus difokuskan pada penggunaan jarum suntik tidak steril dan perilaku seksual berisiko, bukan pada orangnya.
Menanam Empati, Menuai Harapan
Antusiasme memuncak saat sesi tanya jawab. Para pelajar SMK Bina Mandiri tidak hanya bertanya soal aspek medis, tetapi juga melontarkan pertanyaan kritis tentang bagaimana bersikap secara sosial. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi tersebut berhasil menyentuh sisi kemanusiaan mereka.
Edukasi ini bukan sekadar tentang angka dan virus, melainkan tentang membangun empati dan tanggung jawab sosial sejak dini.
KPA Mabar optimis bahwa dengan membawa pengetahuan langsung ke “jantung” pendidikan, para siswa akan tumbuh menjadi garda terdepan dalam pencegahan HIV/AIDS.
Bagi KPA, edukasi adalah vaksin terbaik melawan ketakutan. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya.
Langkah kecil di SMK Bina Mandiri ini adalah bukti nyata bahwa pencegahan adalah tanggung jawab kolektif. Dengan pengetahuan sebagai senjata, stigma dapat runtuh, dan angka penularan pun dapat ditekan demi masa depan Manggarai Barat yang lebih sehat.








