Puisi  

Ada Luka yang Tak Memiliki Nisan, Ada Duka yang Tak Bisa Ditaburi Bunga

Puisi ini adalah sebuah ratap tangis terakhir bagi mereka yang pergi dalam binar kekaguman, namun dipeluk selamanya oleh laut biru yang sunyi. Di antara karang Labuan Bajo yang bisu, kita belajar bahwa mencintai terkadang berarti merelakan seseorang menjadi bagian dari debur ombak. Selamat jalan, jiwa yang kini telah menjadi samudera

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Nisan yang Larut

Kau datang membawa binar kagum di kedua mata,
Namun laut kini mendekapmu selamanya.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Tak ada gundukan tanah yang bisa kami taburi bunga,
Hanya buih putih yang pecah di sela karang-karang tua.

Tak ada nisan batu untuk menuliskan namamu dengan pilu,
Sebab kini namamu abadi di setiap debur rindu.

Pena telah terhenti di atas kertas yang putih,
Tanda kami menyerah pada takdir yang pedih.

Saat mesin kapal pencari mulai mematikan suara,
Doa kami tetap berlayar, mencarimu di relung samudera.

Wahai pengembara dari negeri jauh,
Janganlah merasa asing di dalam laut yang keruh.

Arus ini kini adalah nadimu, dan karang adalah rumahmu,
Labuan Bajo akan selalu menjaga sisa-sisa mimpimu.

Istirahatlah dalam tenang, di kedalaman yang paling sunyi,
Tak ada lagi badai, hanya damai yang menyelimuti.

Kau tidak benar-benar hilang, kau hanya berubah rupa,
Menjadi desir angin, menjadi ombak, menjadi bagian semesta.

Selamat jalan, jiwa yang kini menjadi samudera.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *