Pusara Tanpa Nisan

(Mengenang Satu Nama di Kedalaman)

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Oleh : Robert Perkasa 

Okebajo.com – Hari ini, di ufuk barat Labuan Bajo, matahari terbenam dengan membawa beban yang lebih berat dari biasanya. Operasi SAR resmi ditutup. Mesin-mesin kapal telah dipadamkan. Para pejuang kemanusiaan mulai melipat atribut mereka. Namun, di tengah kesunyian dermaga, ada satu kenyataan yang mengiris hati. Satu nama tertinggal di kedalaman.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Pusara Tanpa Nisan. Itulah yang kini terbentang di luasnya perairan Taman Nasional Komodo. Tidak ada gundukan tanah yang bisa ditaburi bunga setiap waktu. Tidak ada batu nisan yang bisa didekap saat rindu memuncak. Hanya ada hamparan biru yang luas, yang kini menjadi rumah abadi bagi seorang pengembara yang datang mencari keindahan, namun pulang didekap takdir.

Momen penandatanganan berita acara senja tadi bukan sekadar prosedur formalitas. Itu adalah detik keluarga korban harus “dipaksa” berdamai dengan ketiadaan. Dengan tangan bergetar, mereka membubuhkan tanda tangan paling menyakitkan, bahwa pencarian telah usai.

Satu jiwa warga negara Spanyol itu kini resmi menjadi bagian dari arus rahasia laut Flores. Ia tidak lagi menjadi pelancong. Ia telah menjadi penghuni abadi dari keindahan yang dulu ia kagumi. Bunga-bunga yang kita taburkan di atas riak ombak hanyalah utusan rindu yang akan tenggelam menyusulnya ke dasar sunyi. Membisikkan doa bahwa ia tidak sendirian.

Terima kasih tak terhingga bagi setiap pejuang kemanusiaan yang telah bertaruh nyawa di tengah pusaran arus. Kalian adalah cahaya di tengah kegelapan tragedi ini. Meski operasi ditutup, doa-doa tidak akan berhenti mengalir bersama pasang surut air laut.

Besok pagi, takkan ada lagi deru mesin kapal pencari. Yang ada hanyalah desir angin yang membawa sisa isak tangis, berbisik pelan pada tebing-tebing karang bahwa ada seseorang yang tertinggal di sana.

Selamat jalan bagi yang tak kembali. Meski raga tak lagi bisa kami sentuh, namamu akan selalu bergetar di setiap desir angin Phinisi dan dalam setiap debur ombak yang mencium bibir pantai.

Labuan Bajo hari ini bukan lagi sekadar surga wisata, melainkan sebuah saksi bisu tentang sebuah perpisahan yang tak sempat mengucap kata tinggal kenangan.
Di laut ini, ada pusara tanpa nisan, tempat doa-doa kami akan selalu berlabuh.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *