Tokoh Pemuda-Mahasiswa Manggarai di Bali Ajak Perantau NTT Jaga Kamtibmas Jelang Natal dan Tahun Baru

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Denpasar, Okebajo.com – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), tokoh pemuda dan mahasiswa Manggarai yang berdomisili di Bali mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh pemuda-pemudi perantau asal Nusa Tenggara Timur (NTT) agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Pulau Dewata.

Imbauan tersebut disampaikan oleh I Putu Agus Karsha Saskara Putra, S.Kom, tokoh Pemuda-Mahasiswa Manggarai Bali sekaligus Ketua Muda-Mudi Ikatan Keluarga Kabupaten Manggarai Bali (IKKMAR Bali). Ia mengajak seluruh perantau, khususnya generasi muda dan mahasiswa, untuk menjadi teladan di tengah masyarakat Bali.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Langkah ini muncul sebagai respons atas maraknya kasus pelanggaran Kamtibmas yang melibatkan oknum perantau asal NTT dalam beberapa waktu terakhir, terutama menjelang momentum Nataru.

Menurut Putu Agus, Natal dan Tahun Baru seharusnya dimaknai sebagai momentum refleksi diri, memperkuat persaudaraan, serta menebar nilai-nilai kedamaian, bukan justru menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

“Saya mengajak seluruh saudara-saudari perantau NTT, khususnya pemuda dan mahasiswa, untuk menjadi teladan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing. Mari kita jaga citra positif perantau NTT di Bali, karena setiap tindakan kita mencerminkan nama baik kita bersama,” tegasnya, Sabtu (13/12/2025).

Ia menekankan bahwa sikap disiplin, tertib, dan saling menghormati merupakan kunci utama agar perayaan Nataru berjalan aman dan penuh sukacita.

Dalam imbauannya, Putu Agus secara khusus menyoroti dua hal yang kerap menjadi pemicu gangguan Kamtibmas, yakni konsumsi minuman keras (miras) berlebihan dan aktivitas berkumpul hingga larut malam.

1. Kurangi dan Hindari Konsumsi Miras
Ia mengimbau agar pemuda-pemudi perantau NTT dapat mengurangi, bahkan menghindari, konsumsi miras selama periode Nataru.

Beberapa alasan yang disampaikan antara lain:

Mencegah konflik: Konsumsi miras berlebihan kerap menghilangkan kontrol diri dan memicu perselisihan hingga tindakan kriminal.

Alihkan ke kegiatan positif: Waktu dan biaya yang biasanya dihabiskan untuk miras dapat dialihkan ke kegiatan sosial, doa bersama, atau persiapan perayaan Natal di gereja dan lingkungan.

Menjaga kesehatan: Nataru seharusnya diisi dengan aktivitas yang menyehatkan fisik dan mental, bukan sebaliknya.

2. Batasi Aktivitas Berkumpul di Malam Hari

Selain miras, Putu Agus juga mengingatkan agar perantau membatasi kegiatan berkumpul dalam jumlah besar, terutama hingga larut malam.

Ia menekankan pentingnya:

Mengutamakan keselamatan: Aktivitas malam hari berpotensi menimbulkan kerawanan, baik kecelakaan, kriminalitas, maupun gesekan antar kelompok.

Menghormati lingkungan: Pembatasan jam malam merupakan bentuk penghormatan terhadap masyarakat Bali yang menjunjung tinggi ketenangan dan keteraturan.

Pulang tepat waktu: Setelah kegiatan ibadah atau pertemuan terencana, perantau diimbau segera kembali ke tempat tinggal masing-masing dengan tertib dan aman.

Menutup imbauannya, Putu Agus mengajak seluruh perantau NTT untuk menjadi mitra Kamtibmas yang baik bagi aparat kepolisian dan masyarakat Bali.

“Mari kita rayakan Natal dan Tahun Baru dengan penuh syukur, damai, dan rasa tanggung jawab. Jauhi miras, hindari pemicu konflik, serta tunjukkan bahwa perantau NTT mampu menjadi bagian dari solusi, bukan masalah,” pungkasnya.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *