Usai Pamit dari Bogor, Monsinyur Paskalis Diterima dengan Budaya Manggarai di Rumah Persaudaraan OFM

Avatar photo
Monsinyur Paskalis Bruno Syukur, OFM
Monsinyur Paskalis disambut secara istimewa dalam nuansa budaya Manggarai, Flores, NTT melalui ritus torok/kepok curu dan pemberian tuak kapu. Foto: Luki Karim
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

JAKARTA, Okebajo.com Usai mengundurkan diri dari jabatan Uskup Bogor pada 19 Januari 2026, Monsinyur Paskalis resmi menutup satu bab pengabdiannya. Sabtu (7/2) pagi, ia berpamitan dari kompleks Gereja Katedral Bogor dan melanjutkan perjalanan menuju rumah persaudaraan Ordo Fratrum Minorum (OFM) di Kramat, Jakarta.

Sebelum meninggalkan kompleks katedral, Monsinyur Paskalis masih meluangkan waktu bertemu dengan sejumlah umat. Senyum, jabat tangan, dan foto bersama menjadi penanda perpisahan yang hangat dan penuh haru. Perjalanan menuju Jakarta berlangsung lancar, hanya memakan waktu sekitar satu jam.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Setibanya di Provinsialat OFM Jakarta, Monsinyur Paskalis disambut secara istimewa dalam nuansa budaya Manggarai, Flores, NTT melalui ritus torok/kepok curu dan pemberian tuak kapu. Penyambutan kultural itu dilengkapi dengan pemasangan peci dan pengalungan selendang khas Manggarai oleh Provinsial OFM Indonesia, RP Agustinus Laurentius Nggame OFM, bersama Wakil Provinsial, RP Hieronimus Dei Rupa OFM.

Dalam sambutannya, Pater Provinsial menegaskan bahwa kembalinya Monsinyur Paskalis ke rumah persaudaraan OFM merupakan momen sukacita. Ia menyebut Uskup Paskalis sebagai seorang saudara yang telah menuntaskan misi perutusannya.

“Kami bahagia menyambut Monsinyur Paskalis yang telah menjalani panggilan sebagai misionaris Fransiskan di Keuskupan Bogor. Hari ini kami menerima Bapa Uskup kembali ke rumah persaudaraan OFM dengan penuh sukacita,” ujar Pater Gusti di teras Provinsialat OFM.

Rangkaian penyambutan dilanjutkan dengan ibadat singkat. Dalam refleksinya, Pater Gusti mengajak para hadirin melihat perjalanan Monsinyur Paskalis sebagai karya Allah yang nyata.

“Kita mungkin mengira tokoh sentral hari ini adalah Monsinyur Paskalis. Namun jika ditanyakan kepada beliau, saya yakin jawabannya adalah Tuhan sendiri sebagai tokoh sentral,” ungkapnya.

Usai ibadat, para frater dan pater Fransiskan berdiri mengelilingi Monsinyur Paskalis untuk memberikan Berkat Santo Fransiskus melalui penumpangan tangan dan lantunan nyanyian yang berlangsung khidmat.

Para frater dan Pater Fransiskan berdiri mengelilingi Monsinyur Paskalis untuk memberikan Berkat Santo Fransiskus melalui penumpangan tangan. Foto: Luki Karim

Dalam sapaan balasannya, Monsinyur Paskalis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para saudara dan umat yang terus berjalan bersamanya hingga saat ini.

“Saya sungguh berterima kasih karena para saudara masih mau menerima saya dengan apa adanya, di tengah berbagai situasi dan kondisi yang mungkin tidak selalu baik-baik saja,” tuturnya dengan nada reflektif.

Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam rencana Tuhan.

“Tuhan sedang merajut kehendak-Nya untuk saya. Saya tidak merasa sendiri. Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi menjadi inspirasi dan kekuatan saya dalam memaknai setiap peristiwa hidup,” pungkasnya.

Menutup sapaannya, Monsinyur Paskalis mengajak semua yang hadir untuk terus menebarkan kebaikan.

“Memang ada orang jahat, tetapi orang baik jauh lebih banyak,” katanya.

Sumber: Katedralbogor.org

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *