Layang-Layang di Pulau Messah

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo | Okebajo.com — Perjalanan menyusuri pulau-pulau di Manggarai Barat berlanjut. Usai merekam keasrian Pulau Rinca, langkah kaki membawa kami menepi di dermaga kayu Desa Pasir Putih, Pulau Messah. Pulau ini menyuguhkan wajah lain dari eksotisme kawasan Labuan Bajo. Pemukiman pesisir yang begitu padat, namun menyimpan kehangatan tiada tara.

Sabtu siang, 16 Mei 2026, matahari bersinar terik, tetapi gerah seketika luruh oleh sambutan yang begitu hangat. Di ujung dermaga kayu yang menjadi gerbang masuk desa, anak-anak nelayan tengah berkumpul. Tangan-tangan kecil mereka lincah menarik ulur benang, menerbangkan layang-layang ke langit biru. Tawa mereka lepas, menari bersama angin laut, seolah menyapa setiap pendatang dengan bahasa keramahan khas orang pesisir.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Meliuk di Antara Kepadatan Rumah Warga

Puas merekam senyum anak-anak di dermaga, kami mulai melangkah masuk. Struktur Desa Pasir Putih di Pulau Messah ini terbilang unik sekaligus menantang. Rumah-rumah panggung dan bangunan kayu milik warga berdiri sangat rapat, nyaris tanpa sekat yang berarti. Kami harus berjalan kaki meliuk-liuk, menyusuri gang-gang sempit yang hidup di antara padatnya pemukiman nelayan. Di kanan-kiri, sapaan ramah warga senantiasa mengiringi derap langkah kami.

Tujuan kami satu: Balai Desa. Di sanalah misi utama kami bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Manggarai Barat kembali diuji. Kami datang membawa misi yang sama pentingnya seperti di Pulau Rinca beberapa jam sebelumya—menyalakan kepedulian dan membagikan benteng informasi mengenai bahaya serta pencegahan HIV/AIDS.

Gadis Desa dan Berkah Laut

Setiba di Balai Desa, kelelahan kami langsung terbayar lunas. Pemerintah desa bersama puluhan gadis remaja setempat ternyata sudah lama menanti. Ruangan yang sederhana itu mendadak penuh oleh energi positif.

Ada pemandangan yang menyentuh hati di dalam ruangan. Para gadis desa itu menyimak setiap materi dengan tatapan yang sangat serius. Di tengah keterbatasan akses informasi di pulau terpencil, ruang diskusi ini menjadi oase berharga bagi mereka. Keseriusan yang terpancar dari wajah-wajah muda ini adalah simbol dari sebuah generasi yang ingin bertumbuh sehat, cerdas, dan tangguh melindungi diri serta lingkungannya.

Sore pun perlahan melabuhkan sinarnya keemasan di ufuk barat. Saatnya bagi kami untuk berpamitan dan bertolak kembali menuju pusat kota Labuan Bajo.
Kami pulang tidak dengan tangan hampa. Selain membawa kepuasan batin karena misi edukasi telah tertunaikan dengan baik, kapal kami juga dipenuhi oleh ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat. Buah tangan yang menjadi simbol ikatan emosional dan kemurahan hati warga Pulau Messah. *(Robert Perkasa)

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *