Semburat Senja Jingga Antara Tiga Desa

Kisah Heroik Sosok Guru di Pelosok Manggarai Timur

Semburat Senja Jingga Antara Tiga Desa Kisah Heroik Sosok Guru di Pelosok Manggarai Timur
Senja Jingga Antara Tiga Desa Kisah Heroik Sosok Guru di Pelosok Manggarai Timur

Manggarai Timur | Okebajo.com | Pagiku sudah pergi. Siangku telah hilang, Senja datang menghadang, kesibukan kian bertambah. Banyak anak negeri yang cerdas. Cemerlang bagai semburat senja jingga di antara tiga Desa tempat aku pernah berkarya”.

Aku berjalan di tengah padang. Angin meliuk-liuk di lereng terjal. Meniup ilalang, debu pasir, bebatuan. Berjalan tanpa batas. Di langit indah sekawanan burung pulang kembali ke sarang.

Aku masih di sini, berkawan sepi. Langkah kaki lelah, berjibaku menantang badai. Aku masih di sini, Menanti semburat senja jingga di antara tiga Desa nun jauh di pelosok Manggarai Timur.

Itu penggalan puisi semburat senja Jingga antara tiga Desa seorang guru SD senior mengenang pengabdiannya selama puluhan tahun nun jauh di pelosok Manggarai Timur.

Berklinong dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Suka duka, untung buntung dirundungnya. Berjibaku melintasi rintangan demi rintangan. Namun semua itu dilaluinya dengan penuh sukacita demi tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa.

Profil

Adalah Pius Pande, S.Pd (59 tahun). Sosok guru senior yang lahir di Kampung Aedai, Desa Randorama, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, 31 Desember 1964.

Kepada Okebajo.com, Guru Pius begitu sapaan akrabnya sang penulis puisi semburat senja jingga antara tiga desa mengisahkan jejak kisah heroik dan kiprahnya mengabdi pada negara untuk anak-anak negeri.

Tahun 1984, Ia tamat SPGK Ndao, Ende. Berbekal ijazah SPGK, Ia dua kali mengikuti tes CPNS di Kabupaten Ende tetapi tidak lulus.

“Saat itu ada buka tes CPNS dan saya tidak lulus. Kemudian tahun 1985 ada lagi seleksi CPNS namun saya juga tidak lulus”, kenangnya.

Gagal dua kali tidak membuatnya putus asa. Setahun kemudian Ia kembali ikut bursa CPNS di Kabupaten Ende dan alhasil Ia pun Lulus.

Tes ketiga kali inilah awal kisah dan kiprahnya di dunia pendidikan menjadi Guru SD.

“Tahun 1986 kembali dibuka tes CPNS formasi guru TK dan saya LULUS seleksi. Di tahun yang sama, ada lagi buka tes CPNS formasi guru SD. Saat itu saya juga ikut tes dan LULUS“, ungkap Guru Pius.

“Karena kedua formasi ini Lulus, saat itu saya lebih memilih formasi guru SD sebab kalau saya memilih formasi guru TK, maka saat itu saya harus ikut pelatihan selama 6 bulan lagi di Bandung. Oleh karena itu saya memilih formasi guru SD sesuai latar belakang pendidikan saya, tamat SPG”, Tambah Guru Pius.

Mengabdi di Manggarai

Setelah dinyatakan lulus, tepatnya pada 31 Oktober 1986, Guru Pius bersama 68 rekannya menuju Ruteng, Kabupaten Manggarai berdasarkan Surat Keputusan Gubernur NTT.

Surat Keputusan Gubernur NTT dipertegas lagi dengan Surat Keputusan Bupati Manggarai. Ia bersama 68 Guru lainnya menyebar di sekolah-sekolah yang kekurangan guru.

“Pada tahun 1986, dari 69 Guru asal Kabupaten Ende, saya ditempatkan di SDI Golo Roke”, jelasnya.

Sekolah ini terletak di Kampung Laci, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda (kini menjadi Kecamatan Lamba Leda Utara) Kabupaten Manggarai Timur.

“Saat saya datang, SDI Golo Roke baru berusia 3 tahun. Saya mulai mengabdi pertama kali berkarya sebagai Guru di sekolah ini”, Ujarnya.

Sekolah di pelosok

Guru Pius mengisahkan lagi pengalaman pertamanya mengabdi di sekolah yang berada di pelosok.

Infrastruktur jalan pada masa itu belum ada. Transportasi sangat sulit dari Reo menuju Benteng Jawa (Ibukota Kecamatan Lamba Leda).

“Saat itu apabila ada keperluan dinas di Ruteng terpaksa saya harus berjalan kaki dari sekolah ke Gongger yang jaraknya kurang lebih 15 km”, kenangnya.

Dari Gongger (Desa Satar Punda) harus menyeberang lagi muara kali Gongger menggunakan perahu atau sampan dayung karena belum ada jembatan yang menghubungkan Gongger dengan Reo.

Pada tahun 1993 jalan raya Benteng Jawa-Reo baru mulai kerja atas prakarsa dari pastor Paroki Todo, saat itu Pater Stanis Ograbeg, SVD yang bekerjasama dengan Camat Lamba Leda, Drs. Yoseph Biron Aur. Sehingga sejak tahun 1995, jalan raya jalur Benteng Jawa – Reo sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pindah ke SDK Weleng

Guru Pius mengabdi di SDI Golo Roke selama 16 tahun. Pada tahun 2002 Ia pindah ke SDK Weleng, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara. Di sana, ia membangun rumah dan tinggal bersama istri dan anak.

“Awal Juli 2002, saya mutasi ke SDK Weleng, Desa Nampar Tabang Kecamatan Lamba Leda Utara atas permintaan sendiri. Saya mengabdi di SDK Weleng sampai dengan bulan Februari Tahun 2016”, kisahnya.

Pelan tapi pasti. Selanjutnya pada tahun 2007 Ia mengikuti kualifikasi guru program S1 PGSD di STKIP Ruteng. Guru Pius mengikuti program tersebut hingga tahun 2011.

“Tahun 2011 saya memperoleh ijazah S1 dengan gelar S.Pd dengan nilai IPK yang sangat memuaskan”, tuturnya.

Pindah ke SDN Golo Lando

Seiring usianya yang makin senja, Guru Pius mengabdi dengan tulus meski berpindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain.

Baginya, hal itu merupakan wujud dedikasi berdharmabakti bagi negeri. Ia menjalani tugas profesional dengan sabar penuh sukacita.

Setelah menyandang gelar S.Pd, Guru Pius kemudian mutasi dari SDK Weleng, Desa Nampar Tabang ke SDN Golo Lando, Desa Golo Munga Barat. Ia menjadi Kepala SDN Golo Lando.

“Tahun 2016 saya mutasi ke SDN Golo Lando, Desa Golo Munga Barat, Kecamatan Lamba Leda berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Timur. Saya menjabat Kepala Sekolah di sana”, tandasnya.

Dia mengaku kondisi sekolah itu sangat memprihatinkan dan terletak di daerah terpencil yang saat itu belum terjangkau jalan raya, apalagi listrik.

Guru Pius menuturkan pengalaman suka duka yang ia alami selama mengabdi di sekolah itu.

Menuju ke sekolah, ia harus berjalan kaki dari rumah yang jaraknya kurang lebih 9 km melintasi medan yang sangat menantang.

Sepulang dari sekolah kadang harus ikut kali Reba menuju Reo. Lalu dari Reo ke kampung Weleng naik motor ojek.

Naasnya ketika musim hujan, Ia menghadapi kondisi menantang banjir Wae Pesi yang acapkali mengancam nyawanya. Kendati demikian, Ia menjalankan tugasnya apa adanya dan penuh sukacita.

“Ketika melewati kali Reba, kami harus menantang arus sungai Wae Pesi yang sangat deras bila musim hujan”, ujar Guru Pius.

Pindah ke SDI Nempong

Dari SDN Golo Lando, ia pindah lagi ke SDI Nempong, Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara.

“Pada tahun 2020, saya mutasi lagi dari SDN Golo Lando ke SDI Nempong hingga saat ini. Setiap hari saya berjalan kaki dari rumah ke sekolah kurang lebih 6 km”, ungkapnya.

Guru Pius mengisahkan pengalamannya mengabdi di sekolah ini hampir sama dengan apa yang alami di sekolah-sekolah sebelumnya. Sekolah di pelosok Manggarai Timur.

Pergi-pulang sekolah melintasi jalan buruk bukan hal baru baginya. Telapak kakinya telah terbiasa menantang kerikil, debu tanah dan pasir. Jalan penuh jurang tak dapat ia elakkan.

Namun itu semua Ia laluinya dengan sabar. Ia tak pernah tangisi nasibnya meski faktanya ia lelah berjibaku dari satu sekolah ke sekolah yang lain, dari satu Desa ke Desa yang lain.

“Semua itu bukan karena salah siapa-siapa, tetapi saya lakukan demi tugas negara. Tidak terbesit kegelisahan sedikitpun. Saya sungguh menyadari bahwa ini semua adalah tugas panggilan ibu Pertiwi,” ungkap Guru Pius.

Guru Pius menikahi gadis Manggarai Timur, Maria Goreti Mulya (55 tahun) asal Weleng, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara Kabupaten Manggarai Timur.

Pasutri ini karuniai 8 orang anak, 5 laki-laki dan 3 perempuan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *