Proyek Irigasi Wae Turi Rp102 Miliar Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Warga Temukan Kejanggalan Teknis

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Manggarai Barat, Okebajo.com – Proyek rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi Wae Turi yang berlokasi di Mata Roang, Desa Lewat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, menuai sorotan serius. Proyek bernilai fantastis yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp102 miliar itu hingga kini belum tuntas, meski telah memasuki tahun anggaran 2026.

Proyek strategis tersebut dikerjakan oleh PT Adi Karya selaku kontraktor pelaksana sekaligus pemenang tender, dengan CV Delta Flores sebagai subkontraktor. Namun di lapangan, kualitas pekerjaan diduga jauh dari standar teknis yang semestinya.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Informasi yang dihimpun dari warga Mata Roang mengungkap adanya indikasi pengerjaan yang terkesan asal-asalan. Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa lantai saluran irigasi sepanjang kurang lebih 75 meter tidak menggunakan batu pondasi sebagaimana mestinya.

“Lantainya itu mereka tidak pakai batu. Langsung dicor begitu saja, kira-kira sepanjang 75 meter,” ungkap warga tersebut.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti ketebalan lantai irigasi yang diduga tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan daya tahan bangunan, terutama menghadapi tekanan debit air saat musim hujan.

Lebih mencengangkan lagi, pada bagian dinding saluran irigasi ditemukan praktik yang dinilai menyimpang. Menurut pengakuan warga, puluhan meter dinding irigasi tidak menggunakan pasangan batu, melainkan karung semen yang diisi tanah, lalu ditutup dengan campuran semen.

“Ada bagian dinding itu bukan pakai batu, tapi pakai sak semen yang sudah diisi tanah, lalu diplester pakai semen. Jumlahnya puluhan meter,” tambahnya.

Temuan ini memunculkan tanda tanya besar terkait pengawasan proyek, baik dari pihak kontraktor, konsultan pengawas, maupun instansi teknis terkait. Dengan nilai proyek mencapai ratusan miliar rupiah, dugaan penyimpangan teknis ini berpotensi merugikan negara sekaligus masyarakat petani yang menggantungkan hidup pada fungsi irigasi tersebut.

Sementara itu Deni Nggana, Direktur CV Delta Flores sebagai subkontraktor ketika dikonfirmasi pada Selasa (3/2/2026) malah menyarankan wartawan untuk konfirmasi kepada tukang di lapangan.

“Nanti tanya ke tukang saja,” jawab Deni singkat.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *