Apa Akar Sengketa Tanah Antara Pater Marsel Agot, SVD dengan Alo Oba?

Avatar photo
Sengketa Tanah Antara Pater Marsel Agot, SVD dengan Bapak Alo Oba
Foto kolase/ Bapa Alo Oba (Kiri) dengan Pater Marsel Agot, SVD (kanan)
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo, Okebajo.com – Akar sengketa tanah di kawasan Batu Gosok, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga bermula dari hibah tanah yang status kepemilikannya patut dipertanyakan. Seorang sumber terpercaya media ini mengungkapkan bahwa lahan seluas sekitar kurang lebih 11 hektar yang kini diklaim Pater Marsel Agot, SVD, bukanlah tanah kosong, melainkan tanah yang telah lama dikuasai dan diolah oleh keluarga Aloisius Oba sejak puluhan tahun silam.

“Jadi begini! saya jelaskan bahwa Alo Oba ini sudah memiliki tanah ini jauh sebelum Pater Marsel Agot berada di Labuan Bajo bahkan jauh sebelum menerima hibah tanah di lokasi tersebut. Dimana tanah ini sudah ditempati oleh orang tua (Ayah) dari Alo Oba sejak lama (ya sejak zaman-zaman tidak enak lah). Mereka dulu tinggal disana bersama keluarganya bahkan mereka berkebun di sana,” ujar FS kepada Okebajo.com, Senin siang (2/2/2026).

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Menurut FS, klaim Pater Marsel Agot, SVD diduga berangkat dari hibah yang diberikan oleh seorang bernama Muhamad Syair, yang disebut menghibahkan sekitar 11 hektar tanah di kawasan Batu Gosok kepada tiga orang pastor (Imam Katolik), termasuk Pater Marsel Agot, SVD. Namun, persoalan mendasar muncul pada kapasitas Muhamad Syair saat menghibahkan tanah tersebut.

“Baru-baru ini si Muhamad Syair hibahkan tanah di lokasi tersebut seluas kurang lebih 11 hektar kepada 3 orang Pastor (Imam Katolik. Red) yang salah satunya adalah dihibahkan kepada Pater Marsel Agot. Saya juga tidak tau apa dasar pertimbangan dari MS ini menghibahkan tanah tersebut kepada 3 Pastor. Pada intinya begini, Pater Marsel Agot menerima hibah, dan pemberi hibanya adalah Muhamad Syair, namun pertanyaan kita sekarang adalah pemberian hibah oleh Muhamad Syair ini dalam kapasitas sebagai Fungsionaris Adat alias melakukan pembagian ulang tanah pribadinya atau di atas tanah milik orang lain?,” tegas FS.

Sengketa Memanas, Massa Pater Marsel Agot Datangi Lokasi

Konflik yang semula laten itu kemudian memanas dan terbuka ke ruang publik. Pada Selasa siang, 27 Januari 2026, sekitar 20 orang dilaporkan datang menggunakan sebuah truk dan memasuki lahan yang selama ini dijaga pihak Alo Oba. Sejumlah saksi menyebut beberapa orang dalam rombongan tersebut membawa parang atau senjata tajam.

Tiga orang karyawan penjaga tanah Alo Oba masing masing Simon Jeriki alias John, Mansur, dan Siprianus justru semakin berani membuka informasi, soal dugaan ancaman serius dari Imam Katolik tersebut.

Kehadiran massa dalam jumlah besar itu membuat para penjaga lahan merasa terancam. Salah seorang penjaga, Mansur, mengaku mendengar pernyataan bernada ancaman.

“Pater Marsel bilang ke kami yang berjaga di lokasi tanah Bapak Alo Oba, biar kita mati di sini,” ujar John.

Merasa keselamatan terancam, para penjaga akhirnya meninggalkan lokasi.

“Mereka datang ramai-ramai naik truk. Kami takut, jadi lebih baik pulang,” tambahnya.

Klarifikasi Pater Marsel Agot, SVD

Pater Marsel Agot, SVD, dalam klarifikasi terbuka pada 31 Januari 2026, membantah keras tudingan intimidasi dan kekerasan. Ia menyebut kehadirannya bersama belasan orang di lokasi semata-mata untuk aktivitas kerja.

“Saya bersama 16 karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan milik kami sendiri untuk menanam pilar dan membuat pagar batas tanah. Tidak ada niat intimidasi atau kekerasan,” ujarnya Sabtu, (31/1)

Ia menjelaskan, dua orang membawa parang sebagai alat kerja kebun, sementara lainnya membawa pilar, sekop, dan satu linggis.

“Tidak ada satu pun yang dipersiapkan untuk tujuan kekerasan,” tegasnya.

Pater Marsel juga mengaku bertemu dengan Jhon Jeriki dan Mansur, yang mengaku sebagai penjaga lahan milik Alo Oba. Ia menyebut percakapan berlangsung tenang dan bernuansa nasihat agar konflik tidak melebar.

Sementara itu, salah satu penjaga tanah Alo Oba, Siprianus Transurdi, yang saat kejadian ada di lokasi turut mebenarkan keterangan yang disampaikan rekannya John. Menurutnya, pada saat peristiwa terjadi di lokasi, Pater Marsel Agot memang menyampaikan ancaman.

“Benar ada ancaman, beliau berkata ‘dimana Alo Oba yang menyuruh kalian datang ke sini? Jika tidak, kami akan memanggil lagi orang dari kampung. Meskipun harus mati di sini, kami tidak takut’,” ujarnya.

Mansur, salah satu penjaga lainnya, juga menyampaikan hal yang sama. Dalam penjelasannya, Mansur mengatakan bahwa ancaman dari Pater Marsel Agot memang benar terjadi.

“Beliau dengan nada tinggi berkata ‘dimana Alo Oba yang menyuruh kalian datang? Biarkan saja kami mati di sini saja. Ini disebut purak mukang wajo kampong’,” ujarnya.

Plang Kepemilikan Dicabut Malam Hari

Sehari sebelum kedatangan massa, pada Senin malam, 26 Januari 2026, terjadi pencabutan sepuluh plang permanen bertuliskan “Tanah Ini Milik Aloisius Oba” di lokasi sengketa. Aksi tersebut dilakukan pada malam hari saat pengawasan minim.

“Kalau siang mereka tidak berani karena kami selalu berjaga. Ini sangat meresahkan,” kata Alo Oba.

Rangkaian kejadian ini kata dia, dinilai memperlihatkan pola: penghilangan tanda kepemilikan, lalu masuknya kelompok dalam jumlah besar ke lokasi.

Muhamad Syair Dinilai Menghilang dari Konflik

FS menilai bahwa sengketa ini seharusnya tidak langsung memperhadapkan Pater Marsel dengan Alo Oba. Ia menyebut Muhamad Syair sebagai pihak kunci justru tidak tampil ke ruang publik.

“Semestinya dalam persoalan ini Pater Marsel Agot tidak perlu berhadapan dengan Alo Oba. Pater Marsel seharusnya datang ke Muhamad Syair untuk tanyakan kembali status tanah yang dihibahkan kepadanya itu apakah itu tanah milik pribadi atau milik orang lain?. Jadi jangan lagi Pater Marsel yang pasang badan. Saya melihatnya situasi ini malah si Muhamad Syair pangku kaki ,seolah-seolah tidak ada persoalan. Sekarang kan si Muhamad Syair pada ngumpet, ya kasarnya bahwa dia (Muhamad Syair. Red) ini mau peralatkan Pater Marsel dan kemudian membenturkan umat dengan tokoh umat,” tutur FS.

Alo Oba Kecewa, Ancam Tempuh Jalur Gereja dan Hukum

Alo Oba mengaku kecewa karena pihak yang berkonflik dengannya adalah seorang Imam Katolik.

“Kalau begini terus, saya akan lapor ke Bapak Uskup. Rasa hormat saya sudah hilang,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika ada pihak yang merasa memiliki hak, jalur hukum perdata adalah mekanisme yang sah.

“Silakan gugat di pengadilan. Jangan gunakan cara preman karena akibatnya bisa fatal,” tegasnya.

Kasus Batu Gosok kembali membuka perbincangan lama tentang premanisme dan mafia tanah di Labuan Bajo. Alo Oba menilai praktik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keamanan daerah wisata super prioritas.

“Preman-preman ini dibayar mafia lalu mempertaruhkan nyawa. Kami minta polisi bertindak tegas,” ujarnya.

Saat ini, tim hukum Alo Oba disebut tengah menyiapkan laporan resmi terkait dugaan intimidasi, pengrusakan fasilitas, serta kerugian materil.

“Semua bukti sudah kami siapkan. Dalam waktu dekat kami akan melapor,” pungkasnya.

Sementara itu, media ini belum mendapatkan keterangan dari Muhamad Syair, meskipun telah dikonfirmasi oleh awak media pada Senin malam (2/2/2026) Via WhatsApp, untuk dimintai keterangan, namun pesan yang dikirim belum dibalasnya.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *