LABUAN BAJO, Okebajo.com – Nama Labuan Bajo kian melambung sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Lanskap laut yang eksotis, gugusan pulau yang dramatis, hingga magnet utama Taman Nasional Komodo menjadikan wilayah ini primadona wisata global. Namun di balik gemerlap itu, muncul satu pertanyaan mendasar: sejauh mana masyarakat lokal benar-benar menjadi bagian dari pertumbuhan tersebut?
Diskusi “Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” yang digelar oleh Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Mawatu yang berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026, di Kawasan Mawatu Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuka realitas yang selama ini jarang disorot, ketimpangan antara geliat industri pariwisata premium dan posisi pelaku UMKM lokal yang masih berada di pinggiran.
Acara ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah masa depan pariwisata, seni lokal, dan ekonomi kreatif di destinasi super prioritas Labuan Bajo. Diskusi ini menyoroti ketimpangan antara popularitas wisata bahari yang mendominasi dan perlunya penguatan sektor wisata darat serta keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata premium.
Pariwisata Tumbuh Pesat, Akar Lokal Belum Menguat
Data yang disampaikan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sekitar 95 persen aktivitas wisata masih terpusat di sektor bahari. Dominasi ini tidak hanya membentuk pola kunjungan, tetapi juga menentukan aliran ekonomi yang cenderung berputar di lingkaran pelaku besar, operator kapal, agen perjalanan, hingga jaringan hotel berbasis luar daerah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Drs. Fransiskus Sales Sodo, menekankan bahwa mengelola Labuan Bajo memerlukan sinkronisasi kebijakan yang intensif karena ekosistemnya yang kompleks.
“Pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks, terutama dengan adanya Taman Nasional Komodo. Saat ini, sekitar 95% kunjungan wisatawan masih terpusat di laut, dengan proporsi wisatawan asing mencapai 78%. Kami sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah ‘Gendang Mabar’ untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan, agar ada konsolidasi antara regulasi dan implementasi di lapangan,”ujar Fransiskus Sodo.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andi MT Marpaung, menyampaikan kebanggaannya atas penobatan TN Komodo sebagai tempat terindah nomor dua di dunia oleh majalah Time Out. Namun, ia juga memperingatkan risiko kejenuhan wisatawan jika hanya mengandalkan alam.
“Kita harus mendorong diversifikasi produk agar tidak hanya berbasis bahari. Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda. Kami melalui program seperti ‘Wikenet Parapuar’ terus membina sanggar seni dan UMKM agar mereka memiliki panggung rutin dan bisa mandiri secara bisnis (B2B) dengan hotel atau restoran, bukan sekadar bergantung pada bantuan pemerintah,” kata Andi.
Pelaku UMKM kreatif dan pemilik Komabi, Rino, menyatakan bahwa selama ini mereka masih merasa sebagai pelengkap di tengah pembangunan yang bombastis.
“Kami berusaha mengimbangi kebijakan pemerintah dengan melahirkan karya otentik seperti konten budaya dan bahasa Manggarai di produk kami. Namun, kami butuh pendampingan langsung, regulasi yang mewajibkan penggunaan produk lokal di hotel-hotel, serta standarisasi harga agar UMKM lokal tidak kalah bersaing,” ungkap Rino.
Senada dengan hal tersebut, Suci Maria, seorang influencer lokal, menyoroti pentingnya storytelling dalam promosi digital.
“Saat ini lebih banyak orang luar yang bercerita tentang Labuan Bajo daripada orang lokal sendiri. Kita tidak boleh lagi hanya menjual keindahan, tapi harus menjual cerita dan makna. Saya berharap pemerintah melibatkan kami para kreator konten sejak awal proses perencanaan, bukan hanya saat acara sudah selesai, agar pesan yang disampaikan lebih emosional dan terhubung dengan publik,” ucap Suci.
Sementara itu, Ketua Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama, menambahkan bahwa komunitas kreatif lokal seringkali masih berjuang secara mandiri (berdikari).
“Faktanya, pihak luar atau EO internasional lebih menghargai nilai (value) karya kami dibandingkan pihak lokal. Kami butuh dukungan fasilitas dan ruang ekspresi yang lebih luas agar industri kreatif ini bisa tumbuh seiring dengan label pariwisata super premium,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, beberapa partisipan juga memberikan masukan krusial. Ibu Kendy dari IWAPI mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan investasi di darat.
“Wisata bahari dan darat adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Jika terlalu fokus di laut, saat musim barat tiba dan laut tidak bisa diakses, ekonomi kita akan tidur panjang. Fasilitas darat seperti Mawatu dan Parapuar harus terus digenjot,” katanya.
drg. Idam, pemenang lomba Komodo Tawa Season 2, juga mengusulkan konsep Dental Tourism.
“Di Bali, turis bisa berobat sambil berwisata. Di Labuan Bajo, dengan biaya medis yang jauh lebih terjangkau dibanding Australia misalnya, ini bisa menjadi sumber PAD yang besar jika diregulasi dan dikerjasamakan dengan klinik serta agen perjalanan secara profesional,” ucapnya.
Acara Sunset Talk ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan merchandise lokal sebagai simbol komitmen bersama untuk memajukan Labuan Bajo melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih inklusif.








