Komisi Pendidikan Keuskupan Labuan Bajo Menggugah Kesadaran Ekologis Bagi Generasi Muda

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo, Okebajo.com –  “Lingkungan hidup—bumi kita ini—adalah ibu bersama. Ada benang merah yang tak terputus antara manusia dan alam,” ujar Pater Agustinus Susanto Naba, SVD, S.S, Kepala SMAK St. Ignatius Loyola ketika membuka Seminar di Aula Arnold Janssen, Senin pagi, 18 Mei 2026.

Kegiatan penyadaran ekologis yang diinisiasi oleh Komisi Pendidikan Keuskupan Labuan Bajo ini menjadi momen refleksi yang tak biasa bagi puluhan siswa-siswi berseragam putih-abu-abu di SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Para pelajar berkumpul di Aula tersebut bukan sekadar untuk mendengarkan ceramah akademis, melainkan untuk menggali kembali tanggung jawab iman yang mulai terkikis: merawat bumi yang sedang menderita.

Melalui seminar bertajuk “Penyadaran Nilai-Nilai Ekologis: Merawat Bumi, Merawat Anugerah Tuhan”, Keuskupan Labuan Bajo mencoba menanamkan benih-benih kecintaan lingkungan sejak dini.

Ketika Bumi Tak Lagi Ramah

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Labuan Bajo, RD. Yohanes Fakundo Selman, S.Fil., M.Pd. Rohaniwan yang akrab disapa Romo Ivan ini tidak menyodorkan teori-teori rumit, melainkan fakta telanjang tentang kondisi planet kita hari ini.

Dengan lugas, Romo Ivan memetakan tiga “dosa besar” manusia terhadap alam yang memicu krisis ekologi global:

Pencemaran Masif : Polusi yang menyelimuti udara, meracuni air tanah, hingga merusak ekosistem laut.

Darurat Sampah Pangan : Tumpukan sisa makanan yang membusuk di TPA dan menghasilkan gas metana pembakar atmosfer.

Kerusakan Struktural : Gundulnya hutan, hancurnya terumbu karang, hingga menipisnya lapisan ozon yang menjadi perisai bumi.

“Dampaknya bukan lagi cerita fiksi ilmiah di masa depan. Kita sedang menghirup dan merasakannya sekarang,” tegas Romo Ivan di hadapan para siswa yang menyimak dengan saksama.

Mulai dari cuaca ekstrem yang tak menentu, ancaman gagal panen yang memicu krisis pangan, hingga bayang-bayang kelangkaan air bersih.

Menggugat Ego Manusia: Akar dari Segala Kerusakan

Lebih dalam lagi, Romo Ivan mengajak para siswa melihat ke dalam cermin peradaban. Mengapa bumi bisa se-merana ini? Jawabannya mengejutkan sekaligus menampar : Manusia adalah aktor utamanya.

Romo Ivan menyoroti sudut pandang antroposentris, sebuah cara pandang keliru yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta, seolah alam hanyalah objek pemuas nafsu serakah yang bebas dieksploitasi.

Cara pandang cacat ini diperparah oleh gaya hidup modern yang serba konsumtif, materialistis, dan hedonis.

Tak hanya di level individu, krisis ini juga dipelihara secara sistemik oleh gurita ekonomi kapitalis. Sebuah sistem yang kerap mendewakan keuntungan jangka pendek bagi segelintir oligarki, sembari menutup mata atas tangisan bumi yang perlahan sekarat.

Menjadi Insan Ekologis: Panggilan Iman Masa Kini

Melalui edukasi ini, Keuskupan Labuan Bajo menaruh harapan besar di pundak generasi muda Katolik SMAK St. Ignatius Loyola.

Mereka diharapkan tidak tumbuh menjadi generasi yang “buta hijau”—generasi yang hanya tahu menikmati indahnya alam Labuan Bajo tanpa mau memungut sampah di kakinya.

Kepala SMAK St.IgnatiusLoyola, Pater Gusti, menegaskan kembali esensi dari kegiatan ini.

“Kita harus mampu menjadi manusia yang ekologis, berperilaku ekologis, menjadi orang yang ramah lingkungan dan ikut serta melestarikannya”, ujar Pater Gusti.

Bagi Keuskupan Labuan Bajo, merawat lingkungan bukanlah sekadar aksi sosial atau tren musiman. Ini adalah panggilan iman yang kudus. Ketika para siswa pulang dari aula hari ini, mereka tidak hanya membawa catatan materi, melainkan sebuah kesadaran baru: bahwa menjaga selembar daun atau menghemat setetes air adalah bentuk ibadah nyata dalam menjaga mahakarya Sang Pencipta. *(Robert Perkasa).

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *