Oleh : Fransiskus Ndejeng
Okebajo.com – Hati siapa yang tak teriris menyaksikan bencana dahsyat yang kembali mengguncang bumi Flores? Guncangan gempa tektonik 7.7 Magnitudo yang berpusat di Timur Laut Nagekeo meluluhlantakkan rumah, sekolah, tempat ibadah, hingga infrastruktur jalan. Ribuan saudara kita terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal, bahkan meratapi sanak keluarga yang pergi.
Memori kita seolah ditarik kembali pada tragedi kelam 34 tahun silam—gempa dan tsunami Flores 1992—sebuah pengingat bahwasanya bumi yang kita pijak ini memang berada di lintasan sesar aktif yang rentan.
Di tengah situasi penuh duka ini, sebuah imbauan profetis datang dari Pastor Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, RD. Lorens Sopang. Melalui surat edaran, beliau mengimbau umat untuk meniadakan pesta Komuni Pertama (Sambut Baru) yang meriah atau perayaan sukacita lainnya. Sebuah ajakan yang sangat relevan untuk menunjukkan solidaritas dan rasa belarasa (kompasi) kepada mereka yang sedang tertimpa musibah.
Imbauan ini tentu mengajak kita ber-refleksi mendalam. Orang Flores dikenal sangat menjunjung tinggi rasa syukur melalui tradisi perayaan. Namun, ketika saudara kita di Nagekeo, Sikka, Manggarai dan sekitarnya sedang berada dalam buaian duka, di manakah letak empati iman kita?
Sama seperti Kristus yang menjalani masa keprihatinan dan menderita di kayu salib, kita pun dipanggil untuk menanggalkan sejenak kegembiraan lahiriah demi menanggung beban sesama. Panggilan ini bukan bentuk pemaksaan, melainkan ketukan nurani bagi seluruh umat—baik di Keuskupan Labuan Bajo, Ruteng, Ende, Maumere, hingga Larantuka.
Betapa indahnya jika sebagian dari anggaran perayaan pesta yang biasa kita siapkan, dapat kita sisihkan untuk membantu korban gempa. Memberi di tengah keberlimpahan adalah hal biasa, namun memberi dari kekurangan dan kerelaan untuk menahan diri demi sesama adalah wujud iman yang nyata.
Kepedulian dari saudara-saudara diaspora dan masyarakat luas dari luar Flores menunjukkan betapa kuatnya tali kemanusiaan itu. Maka, sudah sepantasnya kita yang berada di tanah yang sama menunjukkan rasa belarasa yang tak kalah hangat. Semoga ajakan moral ini tidak sekadar menjadi imbauan di atas kertas, melainkan gerakan hati yang menyatukan kita dalam doa, aksi nyata, dan solidaritas sejati. **












