Hari Ketiga Pascagempa M 7,7 di NTT: 68 Meninggal, 213 Luka-Luka, Ribuan Rumah Hancur

Avatar photo
Hari Ketiga Pascagempa M 7,7 di NTT: 68 Meninggal, 213 Luka-Luka, Ribuan Rumah Hancur
Plt. Kepala Pusdatinkomben BNPB, Berton Panjaitan, saat menyampaikan Update data korban.
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Tiga hari setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah terus berpacu dengan waktu melakukan penanganan darurat. Data terbaru yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan dampak bencana ini masih sangat besar, dengan 68 orang meninggal dunia, 213 orang mengalami luka-luka, serta ribuan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Laporan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dalam konferensi pers yang digelar di Media Center Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (17/8/2026) sore.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

1.576 Gempa Susulan Masih Mengguncang NTT

Meski fase tanggap darurat terus berjalan, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga hari ketiga pascagempa utama telah terjadi 1.576 kali gempa susulan.

Dari jumlah tersebut, 19 gempa berkekuatan di atas Magnitudo 5 dan 54 kali guncangan dirasakan langsung oleh masyarakat. Magnitudo gempa susulan terbesar tercatat mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil berada pada angka 1,3.

“Aktivitas kegempaan masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Kami perkirakan kondisi akan mulai stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” kata Berton Panjaitan.

Pernyataan itu menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih berpotensi terjadi.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Data BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 68 jiwa yang tersebar di sejumlah kabupaten terdampak.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, yakni 26 orang meninggal dunia, disusul Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 24 orang, dan Kabupaten Nagekeo 8 orang.

Sementara itu, korban meninggal lainnya tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 4 orang, Kabupaten Ende 2 orang, Kabupaten Manggarai Barat 2 orang, dan Kabupaten Ngada 2 orang.

Selain korban meninggal, sebanyak 213 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.

Kabupaten Manggarai kembali menjadi daerah dengan jumlah korban luka terbanyak, yakni 31 korban luka berat dan 88 korban luka ringan.

Ribuan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak

Dampak gempa tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga meluluhlantakkan permukiman warga dan fasilitas publik di sejumlah daerah.

Berdasarkan data sementara BNPB, kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Ngada dengan total 1.796 unit rumah rusak. Selain itu, sebanyak 73 fasilitas pendidikan, 46 kantor pemerintahan, 36 fasilitas kesehatan, dan 30 rumah ibadah turut mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Manggarai, tercatat 761 rumah rusak ringan, 76 rumah rusak sedang, dan 147 rumah rusak berat.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Barat melaporkan 481 rumah rusak ringan, 202 rumah rusak sedang, dan 231 rumah rusak berat. Gempa juga menyebabkan kerusakan pada dua unit hotel dan puluhan kantor pemerintahan.

Adapun di Kabupaten Ende, tercatat 108 rumah rusak ringan, 85 rumah rusak sedang, dan 268 rumah rusak berat. Selain itu, lima titik ruas jalan dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

Basarnas, TNI-Polri dan Tim Medis Tetap Disiagakan

Dalam upaya penanganan darurat, tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih disiagakan di tujuh kabupaten terdampak.

Meski hingga saat ini tidak ada lagi laporan warga yang hilang, Basarnas tetap mempertahankan kekuatan personelnya, terutama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan.

Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan bergerak cepat dengan mengirimkan dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo.

Selain itu, pemerintah juga mengerahkan dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan, dua Emergency Medical Team (EMT), serta mengaktifkan sembilan titik Health Emergency Operation Center (HEOC) guna memperkuat koordinasi layanan kesehatan darurat.

1.467 Personel Gabungan Dikerahkan

Untuk mendukung operasi kemanusiaan, unsur TNI, Polri dan instansi terkait mengerahkan 1.467 personel gabungan ke wilayah terdampak.

Kabupaten Ende menjadi daerah dengan jumlah personel terbanyak, yakni 363 orang, disusul Kabupaten Manggarai dengan 250 personel.

Personel gabungan tersebut bertugas membantu evakuasi, pengamanan wilayah, distribusi bantuan logistik, hingga pelayanan kepada masyarakat di lokasi pengungsian.

Bantuan Presiden Mulai Tiba, 882 Tenda Disiapkan

Pemerintah memastikan bantuan logistik untuk korban gempa mulai mengalir ke berbagai daerah terdampak.

Bantuan sembako dari Presiden Republik Indonesia telah diterima dan mulai disalurkan kepada masyarakat.

Selain itu, pemerintah telah menyiapkan 882 unit tenda, terdiri dari 215 tenda pengungsi dan 667 tenda keluarga, untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya rusak atau tidak lagi layak dihuni.

Listrik dan Jaringan Komunikasi Berangsur Pulih

Kabar baik datang dari sektor infrastruktur. PLN melaporkan proses pemulihan jaringan listrik hampir tuntas.

Hingga hari ketiga pascabencana, sebanyak 99,4 persen pelanggan atau sekitar 564.065 jiwa telah kembali menikmati aliran listrik.

Sementara itu, Telkomsel melaporkan hampir seluruh jaringan komunikasi di 10 kabupaten/kota terdampak telah kembali beroperasi.

Meski demikian, proses pemulihan masih terus dikebut di Kabupaten Manggarai Timur yang baru mencapai 76,3 persen dan Kabupaten Manggarai sebesar 94 persen.

Helikopter, Pesawat Kargo hingga KRI Dikerahkan

Untuk mempercepat distribusi bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau, pemerintah mengerahkan berbagai sarana transportasi udara, laut dan darat.

Sebanyak 10 unit alutsista udara ditempatkan di Labuan Bajo dan Maumere, termasuk helikopter TNI dan pesawat kargo.

Di jalur darat, BNPB mengoperasikan 27 unit truk logistik, sementara satu unit Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) turut dilibatkan dalam distribusi bantuan ke daerah-daerah yang aksesnya terhambat akibat bencana.

Pemerintah Fokus Percepat Pemulihan

Guna memperkuat koordinasi penanganan darurat, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) tingkat kabupaten yang dipimpin langsung oleh unsur Forkopimda setempat.

Selain itu, Posko Pendampingan Nasional (Pospenas) didirikan di Labuan Bajo dan Maumere, sementara Posko Logistik Nasional beroperasi di Halim Perdanakusuma, Jakarta.

BNPB menegaskan seluruh elemen pemerintah, mulai dari pusat hingga daerah, terus bekerja secara terpadu untuk mempercepat penanganan darurat sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan optimal bagi masyarakat terdampak.

“Seluruh unsur pemerintah terus bersinergi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan proses pemulihan dapat berjalan secepat mungkin,” tutup Berton Panjaitan.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *